BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Perkembangan
zaman yang begitu
pesat menimbulkan gejolak
didalam perekonomian Indonesia,
terutama dalam hal pengelolalan Sumber Daya Manusia (SDM), pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA),
penciptaan lapangan pekerjaan baru dan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat
Indonesia. Kesiapan yang dituntut bagi
bidang perekonomian dan
industri adalah membuat
organisasi mereka menjadi
organisasi yang efektif.
Organisasi adalah sekelompok
orang yang bekerjasama
dalam struktur dan
koordinasi tertentu dalam
mencapai serangkaian tujuan.
Organisasi pada dasarnya
memiliki tiga elemen;
pertama, organisasi tersebut
dapat menampung tujuan
bersama. Kedua, dikatakan
suatu organisasi apabila
didalam organisasi tersebut
terdapat orang-orang yang
ingin memberikan kontribusi
terhadap kegiatan atau tujuan organisasi dan yang ketiga, didalam organisasi terdapat orang-orang yang
dapat berkomunikasi satu sama lain (Mangundjaya,
2002). Organisasi merupakan sarana untuk melakukan kerjasama antara
orang-orang dalam rangka
mencapai tujuan bersama,
dengan mendayagunakan sumber-sumber
yang dimiliki (Griffin,
2002). Hasil defenisi tersebut menjelaskan bahwa sekumpulan orang
yang berada di dalam organisasi, merupakan
aspek penting dalam terbentuknya suatu organisasi.
Sumber Daya Manusia (SDM) dalam
organisasi merupakan aspek penting yang menentukan
keefektifan suatu organisasi.
Kerja yang dilakukan
individu merupakan suatu
investasi (Cropanzano, Howes, Grandey, & Toth, 1997), karena mereka
harus memberikan waktu,
tenaga, dan usahanya
(Randal, Crospanzano, Bormann, Birjulin, 1999)
untuk memperoleh apa yang mereka
inginkan, seperti keuntungan ekonomi,
fellowship, dan status
sosial (Cropanzano, Kacmar,
& Bozeman ; pada Randaal et
al., 1999). SDM diakui memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan sukses tidaknya
kinerja suatu organisasi. Hal ini sesuai dengan
pendapat Nawawi (2001)
yang menyatakan bahwa
inti dari suatu organisasi adalah
para personilnya dan
kemampuan organisasi bergantung
pada orang-orang yang berada di
dalamnya.
Terdapat sejumlah bukti yang
menunjukkan bahwa organisasi yang sukses adalah
organisasi yang terlebih
dahulu memperhatikan kondisi
karyawannya.
Organisasi yang
mengutamakan karyawan memiliki
angkatan kerja yang berdedikasi dan
berkomitmen pada perusahaan
sehingga mampu menciptakan produktifitas
dan kepuasan karyawan
yang lebih tinggi.
Banyak peneliti mengatakan
bahwa produktivitas karyawan
dipengaruhi oleh sikap
dan kinerja karyawan
dalam organisasi tersebut.
Pada dasarnya kinerja
karyawan telah ditetapkan
dengan perilaku intra-role.
Perilaku intra-role adalah
perilaku karyawan yang telah
terdiskripsi secara formal yang harus dikerjakan dalam suatu organisasi (Hardaningtyas, 2004).
Pada kenyataannya,
perusahaan yang ingin
tetap bertahan dalam persaingan global
ini, tidak hanya
membutuhkan perilaku intra-role saja.
Perusahaan membutuhkan karyawan
yang bekerja melebihi kewajiban kerja biasa dan
memberikan kinerja melebihi
apa yang diharapkan.
Perilaku karyawan tersebut
dalam organisasi disebut
sebagai perilaku extra-role,
yang juga dikenal dengan
istilah Organizational Citizenship
Behavior (OCB) (Chien, 2004).
Perbedaan antara pekerja
yang berperilaku in-role
dengan perilaku extra-role adalah terletak
pada reward. In-role
bekerja berdasarkan reward,
sedangkan extra-role tanpa mengharapkan
reward dan perilaku ini
tidak diorganisir oleh sistem
rewardyang mereka terima (Morrison, 1994).
Bateman &
Organ (dalam Lovell
dkk, 1999) menyatakan
bahwa SDM yang sangat dibutuhkan oleh setiap perusahaan
adalah para karyawan yang mau bekerja lebih
(extra-role) dari yang diharapkan
ataupun yang telah
diwajibkan perusahaan dalam
deskripsi pekerjaan mereka.
Perilaku extra-role merupakan perilaku
yang sangat dihargai
ketika dilakukan oleh
karyawan walaupun tidak terdiskripsi secara
formal, karena perilaku
tersebut mampu meningkatkan efektifitas
dan kelangsungan hidup
organisasi. Seorang karyawan
yang memunculkan perilaku
OCB disebut juga
sebagai karyawan yang
baik “Good Citizen” (Elfina, 2004).
Contoh perilaku OCB
adalah membantu rekan
kerja, melindungi properti
organisasi, menghargai peraturan
yang berlaku didalam organisasi,
toleransi pada situasi
yang kurang ideal
(situasi yang tidak menyenangkan), memberi
saran-saran yang membangun
di tempat kerja,
serta tidak membuang-buang waktu
ditempat kerja (Robbins, 2001).
Perilaku OCB
dapat muncul karena
adanya perasaan sebagai
“anggota” organisasi dan merasa
puas apabila dapat melakukan “sesuatu yang lebih” kepada organisasi.
“Perasaan sebagai anggota”
dan “puas bila
melakukan suatu yang lebih” hanya
terjadi jika karyawan
memiliki persepsi yang
positif terhadap organisasinya
(Novliadi, 2007). Jika
karyawan memiliki OCB,
maka ia dapat mengendalikan perilakunya
sendiri sehingga mampu
memilih perilaku yang terbaik untuk
kepentingan organisasinya, dapat
dikatakan bahwa OCB
berperan dalam performansi
karyawan di tempat
kerja. Oleh karena
itu, organisasi akan berhasil
dengan baik jika terdapat anggota-anggota yang bertindak sebagai “good citizen”(Marckozy
& Xin, dalam Hardaningtyas, 2004) Pertambahan penduduk
Indonesia dari tahun
ke tahun mengalamai peningkatan.
Data yang ditemukan,
jumlah penduduk kota tahun
2009 berkisar 2
juta penduduk. Pertambahan
jumlah penduduk ini
menimbulkan terjadinya penambahan
berbagai jenis kelompok yang nantinya akan membentuk suatu
organisasi (Wursanto, 2002). Organisasi didirikan
manusia disebabkan karena
kesamaan kepentingan, baik
dalam rangka mewujudkan
hakekat kemanusiannya maupun
secara berkelanjutan untuk
memenuhi kebutuhannya.
Jadi di dalam suatu organisasi,
para anggotanya bermaksud untuk mencapai tujuan yang sama,
termasuk juga dalam bidang bisnis. Jika tujuan bersama
itu dipilah, maka paling tidak
terdapat salah satu dari dua tujuan berikut ini (1) tujuan yang bersifat material dan finansial, dimana ini
merupakan karakteristik dari organisasi profit dan
(2) tujuan yang
bersifat tidak mencari
keuntungan, dan ini
menjadi karakteristik bagi
organisasi nonprofit (Nawawi, 1997).
Terdapat beberapa hal yang
membedakan antara organisasi nonprofit dan organisasi
profit, dimana organisasi
nonprofit (1) dalam
hal kepemilikan, tidak jelas
siapa sesungguhnya pemilik organisasi tersebut, apakah anggota klien atau donatur, (2) dalam hal donatur, organisasi
nonprofit membutuhkan suatu sumber pendanaan,
(3) penyebaran tanggungjawab pada organisasi ini belum jelas siapa yang
menjadi dewan komisaris,
yang kemudian memilih
seorang Direktur Pelaksana.
Sedangkan organisasi profit
adalah (1) organisasi
yang pemiliknya jelas
memperoleh untung dari
hasil usaha organisasinya, (2)
organisasi profit memiliki
sumber pendanaan yang
jelas, yakni dari
keuntungan usahanya, (3) dalam hal
penyebaran tanggungjawab, pada
organisasi profit telah
memiliki kejelasan siapa yang
menjadi dewan komisaris yang kemudian memilih seorang Direktur Pelaksana (Sal, 2005).
Terdapat beberapa istilah
yang digunakan untuk
menyebutkan organisasi profit yaitu organisasi bisnis, organisasi
niaga atau organisasi ekonomi, sedangkan istilah yang sering digunakan untuk organisasi
nonprofit adalah organisasi nirlaba atau organisasi
sosial. Contoh dari
organisasi profit yaitu
bank, perusahaanperusahaan swasta
yang bertujuan mencari
laba dari hasil
usahanya. Sedangkan organisasi
nonprofit contohnya yaitu
gereja, mesjid, yayasan,
sekolah negeri, derma
publik, rumah sakit,
dan klinik publik,
organisasi politis, bantuan masyarakat
dalam hal perundang-undangan, organisasi
jasa sukarela, serikat buruh,
asosiasi profesional, institut
riset, museum dan
beberapa para petugas pemerintah (Gortner et al, 1987).
Dunia bisnis
adalah aspek kehidupan
manusia modern yang
sangat dinamis. Sifat
dinamis itu disebabkan
bisnis berhubungan dengan
kebutuhan manusia yang
juga bersifat dinamis.
Kondisi seperti ini
mengharuskan di lingkungan sebuah organisasi atau perusahaan
selalu tersedia SDM yang mampu bekerja
secara efektif dalam menghasilkan produk yang dihasilkannya. Organisasi bisnis
selalu menghadapi tantangan
baru, baik dari
dalam maupun dari
luar organisasinya. Salah
satu tantangan dari luar adalah
berdirinya berbagai macam jenis perusahaan
dan industri yang
bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan manusia, juga untuk
memperoleh imbalan berupa laba dari konsumen. Persaingan diantara
organisasi bisnis ini
membutuhkan SDM yang
mampu membuat organisasinya tetap
bertahan di dunia
persiangan bisnis. Permasalahan
SDM ini berkaitan dengan tantangan dari dalam
perusahaan (Nawawi, 2001).
Karakter dan tujuan dari
organisasi non profit menjadi jelas terlihat ketika dibandingkan
dengan organisasi profit.
Organisasi non profit
berdiri untuk mewujudkan
perubahan pada individu
atau komunitas, sedangkan
organisasi profit sesuai
dengan namanya jelas-jelas
bertujuan untuk mencari
keuntungan.
Organisasi nonprofit menjadikan
sumber daya manusia sebagai asset yang paling berharga,
karena semua aktivitas
organisasi ini pada
dasarnya adalah dari,
oleh dan untuk manusia.
Hampir diseluruh
dunia ini, organisasi
nonprofit merupakan agen perubahan
terhadap tatanan hidup suatu komunitas yang lebih baik. Daya jelajah mereka menyentuh pelosok dunia yang bahkan
tidak bisa terlayani oleh organisasi pemerintah. Kita
telah saksikan sendiri,
bagaimana efektifnya daya
jelajah organisasi nonprofit
ketika terjadi bencana tsunami di Aceh, ratusan organisasi ini dari
seluruh dunia seakan
berlomba membuat prestasi
terhadap proyek kemanusiaan
bagi masyarakat Aceh.
Organisasi profit juga
mendapatkan keuntungan langsung
dengan majunya komunitas,
mereka mendapatkan market yang terus bertumbuh karena daya beli
komunitas yang kian hari kian berkembang atas pembinaan organisasi nonprofit (Setiawan,
2007). Kasus yang paling terbaru adalah
gempa yang melanda Sumatera Barat (Padang) pada 30 September 2009.
Berbagai macam
organisasi nonprofit melakukan
cara untuk membantu mengevaluasi
para korban yang
berada di timbunan
hotel, misalnya organisasi dari Tim Jepang, Amerika, Australia dan dari
negara lainnya.
Di Indonesia, sebagian
besar organisasi non
profit memiliki kekurangan dana.
Organisasi nonprofit memiliki
induk organisasi yang
berasal dari luar negeri. Hal
ini mengakibatkan terjadinya
gangguan dalam hal
roda gerak organisasi.
Tidak jarang suatu
organisasi nonprofit yang
sudah berdiri dalam kurun waktu
tertentu, kemudian akan
mengalami penurunan produktifitas
pada perkembangan
selanjutnya dan bahkan
organisasi tersebut sudah tidak
diketahui lagi keberadaannya, hal
ini sesuai dengan
pendapat dari kepala
kepling Pak Sulaydi
di kelurahan Babura
Kecamatan Baru.
hasil wawancara dengan Pak Sulaydi : ”...memang
urusan pendataan berapa PT,
CV, LSM, Yayasan, Mesjid, saya yang
data, tetapi terakhir pendataan untuk
LSM, CV banyak yang tidak mau melaporkan organisasinya ke kelurahan, bahkan LSM yang sudah ada di
kelurahan ini ada beberapa yang sudah tidak ada lagi pergerakan organisasinya, seprtinya tidak
berfungsi lagi....” (Komunikasi
Personal, Maret 2010) Hasil wawancara
tersebut dapat menunjukkan bahwa sebagian organisasi nonprofit seperti LSM banyak yang mengalami
kemuduran produktifitas, padahal organisasi
tersebut memiliki suatu tujuan organisasi yang ingin diwujudkan, tetapi pada perjalanannya akibat satu dan lain
penyebab organisasi ini harus mengalami kemunduran. Hal
ini harus menjadi
bahan perhatian bagi
setiap organisasi nonprofit
untuk membuat strategi-strategi dalam
hal mempertahankan organisasinya untuk mencapai tujuan organisasi.
Untuk organisasi
profit yang motifnya mencari
keuntungan memiliki karakteristik
sendiri untuk mempertahankan organisasinya
di era globalisasi
ini.
Skripsi Psikologi:Organizational Citizenship Behavior Ditinjau Dari Jenis Organisasi (Profit Dan Nonprofit)
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI
Bab I
|
Download
| |
Bab II
|
Download
| |
Bab III - V
|
Download
| |
Daftar Pustaka
|
Download
| |
Lampiran
|
Download
|
