BAB I PENDAHULUAN
I.A Latar belakang Kebahagiaan adalah hal yang ingin dicapai
manusia dalam hidup. Manusia selalu
berpikir bahwa kebahagiaan adalah segala-galanya. Padahal, yang terpenting bukanlah kebahagiaan itu sendiri
melainkan alasan yang membuat mereka
bahagia, ketika mereka telah berhasil menemukan alasan yang membuat mereka bahagia otomatis mereka akan merasakan
kebahagiaan itu sendiri. Sama halnya
dengan hidup, untuk membuat hidupnya bermakna, maka pertama kali manusia harus menemukan alasannya hidup di
dunia. Alasan untuk hidup inilah yang
disebut oleh Frankl (2004) sebagai makna hidup.
Makna hidup adalah hal-hal yang
dianggap sangat penting dan berharga serta
memberikan nilai khs bagi seseorang sehingga layak dijadikan tujuan dalam kehidupan (Bastaman, 2007). Maknahidup
bermula dari adanya visi kehidupan,
harapan dalam hidup, dan kenapaseseorang harus tetap bertahan hidup (Ancok dalam Bukhori, 2006). Makna tidak
terletak di dalam diri kita, melainkan
berada di dunia luar. Kita tidak menciptakan makna atau memilihnya, melainkan harus menemukannya (Abidin, 2002).
Makna hidup terdapat dalam kehidupan itu
sendiri, dan dapat ditemukan dalam setiap keadaan, baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan, dalam
keadaan bahagia ataupun penderitaan
(Bastaman, 2007), karenakehidupan manusia di dunia tidak selamanya dipenuhi dengan kesenangan namun
juga dengan penderitaan (Frankl dalam
Bastaman, 1996).
Penderitaan adalah proses,
perbuatan, cara menderita, dan penanggungan yang terkait dengan sesuatu yang tidak
menyenangkan, seperti sakit, cacat, kesengsaraan,
dan kesusahan (Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Bastaman, 1996). Menurut Frankl (dalam Bastaman, 1996)
terdapat tiga hal yang dapat menimbulkan
penderitaan ”the three tragic triads” diantaranya adalah maut (death), salah (guilt), dan sakit (pain).
Kematian, baik kematian sendiri maupun orang
lain merupakan tragedi alami yang pasti terjadi dan setiap orang pasti akan mengalaminya. Salah (guilt) merupakan sejenis
penderitaan yang berkaitan dengan
perbuatan yang tak sesuai hati nurani. Sakit (pain) yaitu suatu keadaan mental atau fisik yang kurang baik atau
kegelisahanmental dan fisik. Hampir
seluruh penyakit menimbulkan penderitaan, tetapi tidak semua penderitaan yang ditimbulkan penyakit dapat
mendorong seseorang untuk mencari tahu
makna hidupnya. Taylor (2003) mengatakan penyakit kronis seperti kanker dapat mendorong seseorang untuk mencari tahu
makna hidupnya. Ada beberapa alasan
kenapa penyakit kanker dapat mendorong seseorang untuk mencari tahu makna hidupnya, antara lain : kanker merupakan
salah satu penyakit serius bahkan dalam
beberapa kasus dapat menimbulkan kematian, pengobatan penyakit ini kadang-kadang dapat menimbulkan perubahan
permanen dari bentuk fisik seseorang,
perubahan dalam hubungan, perubahan dalam ketertarikan dan orang lain mungkin akan melihat penderita kanker
tersebut sebagai orang yang berbeda (”Meaning”,
2007).
Penyakit kanker adalah penyakit
yang sangat berbahaya bahkan dapat mengakibatkan
kematian. Sampai saat ini kanker masih menjadi momok bagi semua orang, hal ini disebabkan oleh tingginya
angka kematian yang disebabkan oleh
penyakit tersebut. Berdasarkan suatu penelitian yang dilakukan oleh Dr.
Setiawan Dalimartha dan majalah
Sehat Plus ditemukan bahwa angka harapan hidup penderita kanker hanya 60 persen dibandingkan bukan penderita.
(”Kanker,” 2005). Kanker adalah
tumor seluler yang bersifat fatal (EGC, 1994).
Kanker dikarakteristikkan sebagai
suatu proses pertumbuhan dan penyebaran yang
tidak terkontrol dari sel abnormal, yang mempunyai kecenderungan menyebar pada bagian tubuh lainnya (Sarafino,
2006). Oleh karena itu tidak mengherankan
bila kanker dianggap penyakit mematikan. Data World Health Organization(WHO) menunjukkan setiap tahun
jumlah penderita kanker di dunia bertambah
6,25 juta orang. Ironisnya, dua pertiga dari penderita kanker di dunia berada di negara-negara yang sedang berkembang
termasuk Indonesia. Setiap tahunnya,
tercatat 100 penderita kanker dari setiap 100.000 penduduk. Data Depkes menunjukkan jumlah penderita kanker di
Indonesia mencapai enam persen dari
populasi dan menempatkan penyakit tersebut secara keseluruhan sebagai pembunuh nomor enam dibanding penyakit
lainnya (Ant, 2007; Departemen Kesehatan
Republik Indonesia,2006). Berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Yayasan Kanker Indonesia, dan
Ikatan Ahli Patologi Indonesia 64,4 persen penyakit kanker diderita oleh kaum perempuan, sementara
sisanya 35,6 persen diderita oleh kaum laki-laki.
Terdapat berbagai jenis kanker
yang menyerang kaum perempuan, salah satu
yang paling ditakuti adalah kanker serviks uteri atau kanker leher rahim. Di negara maju kanker leher rahim menempati
urutan ke empat dari jenis kanker yang
menyerang kaum perempuan dan setiaptahunnya terdapatkurang lebih 400 ribu kasus baru kanker leher rahim, sebanyak
80 persennya terjadi pada perempuan yang
hidup di negara berkembang, salah satunya di Indonesia (Pusat Data & Informasi – Perhimpuan Rumah Sakit
Seluruh Indonesia, 2006). Data dari pemeriksaan
patologi di Indonesia menyatakan bahwa kanker leher rahim berada di urutan pertama yang menyerang kaumperempuan
(Harianto, 2005). Hal ini juga dapat
dilihat dari tabel 1.1 yang memperlihatkan tiga kasus besar dari jenis penyakit kanker yang diderita oleh kaum
perempuan di Indonesia.
Dari tabel di atas dapat dilihat
bahwa jumlah perempuan yang menderita kanker
leher rahim di Indonesia mulai tahun 1995 sampai dengan tahun 1999 menempati urutan pertama diatas kanker
payudara dan kanker kelenjar limfe yang merupakan
bagian dari tiga kasus kanker yang paling banyak diderita kaum perempuan di Indonesia.
Banyak dari penderita kanker baru mengetahui
penyakitnya setelah berada di stadium lanjut. Pada stadium dini kanker leher
rahim sering tidak menunjukkan gejala-gejala
khs, boleh jadi tidak ada gejala sama sekali, atau dapat keluar keputihan sampai pendarahan sesudah senggama
(Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional, 2005). Hal inilah yang menjadi penyebab kenapa banyak kasus kanker leher rahim baru diketahui
setelah berada pada stadium lanjut. Jika sudah pada stadium lanjut, maka penyakit
kanker akan lebih banyak menimbulkan komplikasi
fisik dan kematian (Sarafino, 2006).
Ancaman kematian yang ditimbulkan oleh kanker
akan menimbulkan kecemasan pada
penderitanya yaitu kecemasan kematian (death anxiety) (Sharma et al., 2003), selain ancaman kematian,
diagnosa dan pengobatan dari penyakit kanker
juga akan menimbulkan penderitaan lainnya. Diagnosa dan pengobatan penyakit kanker berkaitan dengan dampakfisik,
psikis, sosial dan ekonomi penderitanya.
Beberapa diantaranya adalah; hilang ingatan, sindrom sakit, mual, depresi, merasa kehilangan kontrol, stress
keluarga dan keuangan (Sugerman, 2005).
Terdapat tiga jenis pengobatan
dasar dari penyakit kanker leher rahim yaitu
operasi, radioterapi, dan kemoterapi, selain menyembuhkan, pengobatan dari penyakit kanker juga menimbulkan dampak
negatif bagi fisik penderitanya antara lain
: penurunan atau penambahan berat badan, rambut rontok, rasa mual dan muntah, keletihan, kulit terbakar, diare,
masalah otot dan syaraf, dan simptom flu (Sarafino, 2006). Efek samping pengobatan
penyakit kanker tersebut dapat menyebabkan
penderitanya mengalami kerusakan tubuh, ketidakmampuan, ketergantungan, dan gangguan dalam hubungan
(Massie & Holland dalam Sharma et
al., 2003). Hal ini dapat dilihat dari penuturan salah seorang penderita kanker
leher rahim : ”demam-demam terus setiap sore, terus kupanggilahanakku yang perempuan untuk ngurusinaku, soalnya udah
gakbisa aku ngapa-ngapain nyucipun tak bisa, lemas kali..Yah sekiranya lah aku
besok kemo, tegeletakterus aku di tempat tidur, gakbisa
bergerak aku, makan musti disuap, minum
musti dipipet gakbisa begerak lah aku..Kalo udah di rumah bidan itu, mau kemana-mana pun aku tak
bisa, mau kemana lah aku...tak sanggup
aku..cepat capek aku, punggungku pun sakit...” (Komunikasi personal, 12 September 2007) Untuk mencapai kesembuhan, seorang penderita
kanker leher rahimtidak hanya memerlukan
pengobatan tetapi juga dukungan sosial dari lingkungan sekitarnya. Hal ini sesuaidengan yang
dikemukakan oleh Wortman dan DunkelSchetter (dalam Sarafino, 2006) yang
mengatakan bahwa dukungan sosial mempengaruhi
bagaimana seseorang menghadapi penyakitnya dan proses penyembuhannya. Tidak adanya dukungan sosial
akan menyebabkan penderitaan baru bagi
penderita kanker leher rahim. Manne
(dalam Sarafino, 2006) mengatakan bahwa
pasien kanker yang sedikit menerima dukungan sosial dan menerima perlakuan negatif dari lingkungan
terdekatnya cenderung mengalami masalah
dalam penyesuaian diri terhadap penyakit dan penderitaan yang ditimbulkan.
Skripsi Psikologi:Makna Hidup Pada Penderita Kanker
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI
Bab I
|
Download
| |
Bab II
|
Download
| |
Bab III - V
|
Download
| |
Daftar Pustaka
|
Download
| |
Lampiran
|
Download
|
