Skripsi Psikologi:Hubungan Religiusitas dengan Kebahagiaan


BAB I  PENDAHULUAN
 A.  LATAR BELAKANG MASALAH  Umumnya  manusia  dalam  kehidupannya  mencari  ketenangan  dan  kebahagiaan,  tetapi  apa  bahagia  itu,  dimana  tempatnya,  bagaimana  cara  memperolehnya,  hampir  semua  orang  mempunyai  titik  pandang  yang  berbeda.
Myers  (dalam  Bekhet  dkk,  2008)  menyatakan  bahwa  kebahagiaan  itu  lebih  dari  sekedar  memiliki  saat-saat  yang  menyenangkan  atau  memiliki  sesuatu  yang  sangat  banyak,  kebahagiaan  meliputi  perasaan  sejahtera,  kebahagiaan  memiliki  suatu  pemenuhan,  kebermaknaan,  hidup  yang  menyenangkan.  Rakhmat  (2004)  menambahkan  bahwa  kebahagiaan  adalah  perasaan  yang  menyenangkan,  selain  itu kebahagiaan juga meliputi penilaian seseorang tentang hidupnya.

Kebahagiaan  merupakan  pemahaman  umum  mengenai  seberapa  senang  seseorang  akan  kehidupannya  sendiri  atau  secara  formal  merupakan  t ingkat  dimana  seseorang  menilai keseluruhan kehidupannya  secara positif (Veenhoven,  2004).  Ditambahkan  lagi  oleh  Veenhoven  bahwa  elemen  dasar  dari  definisi  ini  adalah  penilaian  subjektif  atas  kesenangan  hidup,  juga  mengacu  pada  kepuasan  hidup.
Kepuasan  hidup  atau  satisfaction  with  life  merupakan  penilaian  secara  keseluruhan dari kualitas kehidupan seseorang yang telah ia pilih untuk mencapai  tujuannya (Veenhoven, 2000). Ditambahkan pula oleh Veenhoven bahwa bentuk  nyata dari satisfaction with life adalah happiness atau kebahagiaan yang dirasakan     oleh individu. Menurut Diener (1997) ketika seseorang individu tidak merasa puas  dengan kehidupannya maka individu tersebut juga tidak merasakan kebahagiaan.
Seligman (2002) memberikan delapan faktor eksternal yang mempengaruhi  kebahagiaan  seseorang,  namun  tidak  semua  memiliki  pengaruh  yang  besar.
Delapan  faktor  yang  mempengaruhi  kebahagiaan  tersebut  antara  lain  uang,  pernikahan, kehidupan sosial, kesehatan, agama,  emosi positif, usia, pendidikan,  iklim, ras dan jender. Seligman (2002) juga memberikan tiga faktor internal yang  berkontribusi terhadap kebahagiaan yaitu kepuasan terhadap masa lalu, optimisme  terhadap  masa depan, dan kebahagiaan pada  masa sekarang.  Ketiga  hal tersebut  tidak  selalu  dirasakan  secara  bersamaa n,  seseorang  bisa  saja  bangga  dan  puas  dengan  masa  lalunya  namun  merasa  pesimis  terhadap  masa  sekarang  dan  ya ng  akan  datang.  Salah  satu  yang  terlihat  dari  faktor  yang  berkontribusi  terhadap  kebahagiaan adalah kepuasan terhadap masa lalu.
Semua  orang  ingin  bahagia,  termasuk  lansia.  Bagaimanapun  juga  faktor  penting  bagi  seorang  lansia  adalah  mendapatkan  kebahagiaan,  dan  kebahagiaan  tersebut didapatkannya dari kepuasan terhadap masa lalu mereka, kejadian positif  serta  kenangan  indah  masa  lalu  mereka.  Sebagaima na  ditunjukkan  dalam  suatu  penelitian  yang  dilakukan  oleh  Prof.  Alex  Bishop  dari  Lembaga  “Human  Development and Family Studies” untuk mengetahui faktor apa saja yang menjadi  unsur  ketidakpuasan  atau  bahkan  depresif  pada  lansia.  Untuk  itu  diteliti  2  kelompok  lansia.  Kelompok pertama sebanyak 158 responden  yang usianya 100  tahun  dan  kelompok  kedua  sejumlah  78  responden  yang  berumur  minimal  80  tahun.  Kedua  kelompok  itu  punya  kesamaan  kepuasan,  yaitu  kenangan  sukses     masa silam dan perasaan bahagia. Yang membuat kelompok pertama (para lansia  usia  100  tahun)  depresif  terutama  adalah  ketergantungan  pada  perawat  dan  sisa  hidup  yang  singkat.  Selain  itu  mereka  juga  diliputi  kecemasan  terhadap  masa  depan  dunia.  Beban  yang  dianggap  besar  oleh  kelompok  kedua  adalah  kian  meningkatnya  kehilangan  kontrol  diri  dan  makin  minimya  kemampuan  mereka  untuk  memecahkan  masalah.  Yang  mengherankan  peneliti  adalah  fakta  bahwa  kekayaan  materi  maupun  kecerdasan  tidak  berpengaruh  terhadap  kebahagiaan  atau  kesedihan  mereka,  pada  kedua  kelompok.  (Lansia:  kenangan  masa  lalu  membuatnya bahagia, 2011).
Penelitian  lainnya  dilakukan  oleh  Budiarti  (2011),  dimana  menunjukkan  successful agingpada lansia terjadi karena adanya beberapa faktor, salah satunya  adalah  faktor  psikologis,  dimana  ditemukannya  sikap  positif  pada  lansia  seperti  menyadari akan segala kekurangan yang ada dalam dirinya, mampu menghadapi  serta  menyelesaikan  permasalahan  pada  dirinya  serta  tercapainya  tujuan  dan  memaknai hidup dengan lebih baik akan membuat lansia menjalani usia senjanya  dengan perasaan optimis.
Memang  tidak  bisa  dipungkiri  bahwa  seiring  berjalannya  waktu,  kondisi  fisik seseorang yang telah memasuki masa lanjut usia mengalami penurunan. Hal  ini dapat dilihat dari beberapa perubahan: (1) perubahan penampilan pada bag ian  wajah, tangan, dan kulit, (2) perubahan  bagian dalam tubuh seperti sistem  saraf,  otak, isi perut, limpa, hati, (3) perubahan panca  indra penglihatan, pendengaran,  penciuman, perasa, dan (4) perubahan motorik antara lain berkurangnya kekuatan,  kecepatan  dan  belajar  keterampilan  baru.  Perubahan-perubahan  tersebut  pada     umumnya mengarah pada kemunduruan kesehatan fisik dan psikis yang akhirnya  akan berpengaruh juga pada aktivitas ekonomi dan sosial mereka. Sehingga secara  umum akan berpengaruh pada aktivitas kehidupan sehari-hari (Rahayu, 2009).
Menurut Hakim (2003) secara fisik lanjut usia mengalami penurunan, tetapi  pada  aktivitas  yang  berkaitan  dengan  agama  justru  mengalami  peningkatan,  artinya  perhatian  mereka  terhadap  agama  semakin  meningkat  sejalan  dengan  bertambahnya  usia.  Lanjut  usia  lebih  percaya  bahwa  agama  dapat  memberikan  jalan  bagi  pemecahan  masalah  kehidupan,  agama  juga  berfungsi  sebagai  pembimbing  dalam  kehidupannya,  dan  menentramkan  batinnya  (Hakim,  2003).
Pernyataan  tersebut  sejalan  dengan  Hawari  (1997)  juga  menjelaskan  bahwa  kebutuhan  keagamaan  dapat  memberikan  ketenangan  batiniah,  sehingga  penghayatan keagamaan besar pengaruhnya terhadap taraf kesehatan fisik maupun  kesehatan mental, hal ini ditunjukkan dengan penelitian yang telah dilakukannya,  dan didapatkan bahwa: m.  Lanjut usia yang nonreligius angka kematiannya dua kali lebih besar daripada  orang yang religius.
n.  Lanjut  usia  yang  religius  penyembuhan  penyakitnya  lebih  cepat  dibandingkan yang nonreligius.
o.  Lanjut usia yang religius lebih kebal dan tenang menghadapi operasi.
p.  Lanjut usia yang religius lebih kuat dan tabah menghadapi stres daripada yang  nonreligius, sehingga gangguan mental emosional jauh lebih kecil.
Hakim  (2003)  juga  menyatakan  bahwa  terdapat  beberapa  penelitian  yang  menunjukkan  adanya  hubungan  positif  antara  agama  dan  keadaan  psikologis     lanjut  usia,  salah  satunya  penelitian  yang  dilakukan  oleh  Koenig,  Goerge  dan  Segler  (dalam  Hakim,  2003)  yang  menunjukkan  bahwa  strategi  menghadapi  masalah yang tersering dilakukan oleh 100 responden berusia 55 tahun-80 tahun  terhadap  peristiwa  yang  paling  menimbulkan  stres  adalah  berhubungan  dengan  agama dan kegiatan religius.
Penelitian-penelitian  diatas  sejalan  dengan  Kosasih  (2002)  yang  menyatakan  bahwa  kebahagiaan  dipengaruhi  oleh  hubungan  kita  dengan  Tuhan  Yang Maha Esa,  bahkan  seringkali  merupakan  faktor utama untuk kebahagiaan.
Carr  (2004)  juga  menyatakan  bahwa  salah  satu   hal  yang  berhubungan  dengan  kebahagiaan  adalah  agama.  Hal  ini  sejalan  dengan  penelitian  yang  dilakukan  Myers  (dalam  Carr,  2004)  bahwa  suatu  Studi  di  Amerika  Utara  menemukan  adanya  hubungan  yang  moderat  antara  bahagia  dan  keterlibatan  dalam  kegiatan  keagamaan.


Skripsi Psikologi:Hubungan Religiusitas dengan Kebahagiaan
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI

Bab I
Download 
 Bab II
 Download 
 Bab III - V
 Download 
Daftar Pustaka
 Download 
Lampiran
Download