Skripsi Psikologi:Hubungan Persepsi Kualitas Kehidupan Bekerja Dengan Etos Kerja


BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH Pembangunan  nasional merupakan  usaha  peningkatan  kualitas  manusia  dan masyarakat  Indonesia  yang  dilakukan  secara  berkelanjutan,  berlandaskan kemampuan  nasional,  dengan  memanfaatkan  kemajuan  ilmu  pengetahuan  dan teknologi  serta  memperhatikan  tantangan  perkembangan  global  (GBHN,  1999).
 Tujuannya  yaitu  mewujudkan  masyarakat  madani  yang  taat  hukum,  berperadaban modern, demokratis, makmur, adil, dan bermoral tinggi (Undang-Undang Republik Indonesia  No.  43  tahun  1999  tentang  Perubahan  atas  Undang-Undang  Republik Indonesia No. 8 tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian).

 Salah satu faktor yang penting dalam pengembangan pembangunan nasional adalah  sumberdaya  manusia  (Prawirosentono,  1994).  Hal  ini  dikarenakan  sumber daya  manusialah  yang  menjadi  alat  aktif  dalam  pengelolaan  sumber  daya  alam.
 Meskipun  sumber  daya  alam  melimpah,  tidak  menjamin  dapat  terjadinya pembangunan  yang baik  jika  diolah  oleh  pihak-pihak  yang tidak  memiliki  sumber daya manusia yang baik pula (Prawirosentono, 1994).
 Sumber daya manusia dalam hal ini harus siap, mau dan mampu memberikan sumbangan terhadap usaha pencapaian tujuan organisasi. Organisasi dalam defenisi  ini tidak hanya organisasi dalam industri atau perusahaan saja, tetapi juga organisasi dalam  berbagai  bidang  lain  seperti  politik,  pemerintahan,  hukum,  sosial,  budaya, lingkungan,  dan  sebagainya  (Ndraha,  1999).  Negara,  ditinjau  dari  defenisi  ini juga dapat  dikategorikan  sebagai  sebuah  organisasi,  karena  ada  suatu  usaha  yang dilakukan oleh penduduk untuk mencapai tujuan pembangunan nasional.
 Sebagai  sebuah organisasi,  negara  memerlukan  pelaku-pelaku  organisasi untuk  menjalankan  organisasinya.  Salah  satu  pelaku  organisasi  ini  adalah  Pegawai Negeri  Sipil.  Menurut  Undang-Undang  Republik  Indonesia  No.  43  tahun   tentang  perubahan  atas  Undang-Undang  Republik  Indonesia  No.  8  tahun   tentang  Pokok-Pokok  Kepegawaian,  Pegawai  Negeri  adalah  setiap  warga  negara Republik  Indonesia  yang  telah  memenuhi  syarat  yang  ditentukan,  diangkat  oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas  negara  lainnya,  dan  digaji  berdasarkan  peraturan  perundang-undangan  yang berlaku. Pegawai  Negeri  terdiri  dari;  Pegawai  Negeri  Sipil,  Anggota  Tentara Nasional  Indonesia,  dan  Anggota  Kepolisian  Negara  Republik  Indonesia.  Pegawai Negeri  Sipil  terdiri  dari;  Pegawai  Negeri   Sipil  Pusat  dan  Pegawai  Negeri   Sipil Daerah.
 Pegawai  Negeri  Sipil  merupakan  salah  satu  unsur  aparatur  negara  yang mempunyai  peranan  yang  sangat  strategis  dalam  menyelenggarakan  tugas-tugas pemerintahan  dan  pembangunan  nasional.  Oleh  karena  itu,  diperlukan  adanya  Pegawai  Negeri  yang  penuh  dedikasi,  berkualitas,  sadar  akan  tanggung  jawabnya sebagai  unsur  aparatur  negara, abdi  negara  dan abdi  masyarakat  yang  setia  kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (Irmayani, 1996).
 Menurut  Batubara  (dalam  Yoana,  2004),  salah  satu  kunci  kemajuan  dan keberhasilan  pembangunan  nasional  adalah  etos  kerja. Etos  kerja  merupakan komponen primer yang  harus  dimiliki  oleh  sumber  daya  manusia  yang  berkualitas (Sinamo,  2002).  Jadi,  jika  Indonesia  ingin  mencapai  pembangunan  nasional  yang baik maka etos kerja manusianya perlu dibenahi.
 Terdapat banyak definisi tentang etos kerja, salah satunya dikemukakan oleh Hill  (1999)  yang  mendefinisikan  etos  kerja  sebagai  suatu  norma  budaya  yang mendukung  seseorang untuk  melakukan  dan  bertanggung  jawab  terhadap pekerjaannya  berdasarkan  keyakinan  bahwa  pekerjaan  tersebut  memiliki  nilai instrinsik.  Selanjutnya  Harsono  dan  Santoso  (2006)  mendefinisikan  etos  kerja sebagai semangat kerja yang didasari oleh nilai-nilai atau norma-norma tertentu.
 Petty (1993) menyatakan etos kerja adalah karakteristik yang harus dimiliki pekerja  untuk  dapat  menghasilkan  pekerjaan  yang  maksimal,  terdiri  dari  keahlian interpersonal,  inisiatif,  dan  dapat  diandalkan.  Keahlian  interpersonal  berka itan dengan bagaimana pekerja berhubungan dengan pekerja lain di lingkungan kerjanya.
 Inisiatif merupakan karakteristik yang dapat memfasilitasi seseorang agar terdorong untuk lebih meningkatkan kinerjanya dan tidak langsung merasa puas dengan kinerja  yang biasa.  Sedangkan  dapat  diandalkan  adalah  aspek  yang  berhubungan  dengan adanya harapan terhadap hasil kerja seorang pekerja dan merupakan suatu perjanjian implisit pekerja untuk melakukan beberapa fungsi dalam kerja.
 Secara umum etos kerja bangsa Indonesia masih cenderung rendah. Hal ini dapat  dilihat  dalam  hal  ketidaktepatan  waktu.  Seringkali  terjadi  keterlambatan memulai  suatu  acara,  keterlambatan  jam  masuk  kerja,  keterlambatan  jadwal pemberangkatan  alat  transportasi  atau  keterlambatan-keterlambatan  lain yang disebabkan ketidakdisiplinan akan waktu. Disiplin kerja luntur, berakibat pula pada hal  lain,  yaitu adanya  penyalahgunaan  wewenang  dan  penyelewengan  uang  negara (korupsi) (Fitri, 2006).
 Hal  senada  juga  dikemukakan  oleh  Anoraga  (2001),  namun  lebih dispesifikkan kepada Pegawai Negeri Sipil. Anoraga (2001) menyatakan etos kerja Pegawai  Negeri  Sipil  di  Indonesia  masih  rendah.  Hal  ini  dapat  dilihat  dalam penentuan dan pelaksanaan jam kerja untuk instansi pemerintah. Secara resmi badanbadan pemerintah, kecuali beberapa bank dan BUMN, mempunyai jam kerja untuk hari Senin hingga hari Kamis dari pukul 07.00 hingga pukul 14.00, untuk hari Jum’at mulai pukul 07.00 hingga pukul 11.00, sedangkan untuk hari Sabtu dari pukul 07.
 hingga pukul 13.00. Seluruhnya ada 38 jam per minggu. Namun dalam prakteknya 38  jam  itu  tidak  tercapai.  Hal  ini  dikarenakan  banyak  Pegawai  Negeri  Sipil(PNS) yang tidak hadir tepat pada waktu kerja seperti yang telah ditetapkan. Mereka baru  mulai bekerja pada pukul 07.30 dan sudah meninggalkan tempat bekerjanya sekitar pukul 13.30, dan pada hari Sabtu bahkan sudah tidak ada di tempat pada pukul 12.30.
 Maka  dalam  praktek  kantor-kantor  pemerintah,  jam  kerja yang  harusnya  54  jam hanya  berfungsi  sekitar  33  jam  dalam  seminggu.  Bentuk-bentuk  jam  kerja  yang dijadwalkan  di  atas  merupakan  gambaran  yang  menjelaskan  karyawan  seharusnya dapat bekerja secara maksimal terhadap organisasi. Sifat kerja keras juga merupakan salah satu karakteristik etos kerja yang dikemukakan oleh Petty (1993).
 Etos kerja juga merupakan semangat kerja yang didasari oleh nilai-nilai atau norma-norma tertentu (Harsono dan Santoso, 2006). Hal ini sesuai dengan pendapat Sukriyanto (2000)  yang  menyatakan bahwa etos kerja adalah suatu semangat kerja yang  dimiliki  oleh  masyarakat  untuk  mampu  bekerja  lebih  baik  guna  memperoleh nilai  hidup  mereka.  Etos  kerja  menentukan  penilaian  manusia  yang  diwujudkan dalam suatu pekerjaan.



Skripsi Psikologi:Hubungan Persepsi Kualitas Kehidupan Bekerja Dengan Etos Kerja
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI

Bab I
Download 
 Bab II
 Download 
 Bab III - V
 Download 
Daftar Pustaka
 Download 
Lampiran
Download