Skripsi Psikologi:Hubungan Persepsi Tentang Keterampilan Guru Mengajar dengan Motivasi Belajar


BAB I  PENDAHULUAN  
A. LATAR BELAKANG MASALAH Layanan pendidikan menyangkut tentang keseluruhan upaya yang  dilakukan untuk mengubah tingkah laku manusia demi menjaga kesinambungan  dan peningkatan kualitas hidupnya. Layanan pendidikan merupakan salah satu  program strategis jangka panjang yang senantiasa memerlukan perbaikan serta  peningkatan kualitas yang tidak bisa dijalankan secara reaktif, sambil lalu dan  sekenanya, melainkan mesti dengan cara proaktif, intensif, dan strategis (Sidi,  2001).
Layanan pendidikan yang bermutu  akan menentukan tinggi atau  rendahnya perolehan hasil belajar siswa. Selain itu, hasil belajar siswa berkaitan  dengan seberapa besar siswa memiliki keinginan yang kuat untuk terlibat secara  aktif dalam proses belajar. Keinginan yang kuat serta keterlibatan aktif dalam  proses belajar menunjukkan kadar atau kondisi motivasi belajar yang dimiliki  siswa (Sidi, 2001).

  Kata motivasi digunakan untuk menjelaskan apa yang membuat orang  melakukan sesuatu, membuat mereka tetap melakukannya, dan membantu mereka  dalam menyelesaikan tugas-tugas (Pintrich, 2003). Hal ini berarti bahwa konsep  motivasi digunakan untuk menjelaskan keinginan berperilaku, arah perilaku (yang  menunjukkan pilihan dalam berperilaku), intensitas perilaku (yang menunjukkan  adanya usaha yang berkelanjutan), dan penyelesaian atau prestasi yang  1   sesungguhnya. Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat dinyatakan sebagai  keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan  belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar, dan memberikan arah  pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendakioleh subjek belajar itu  dapat tercapai (Sardiman, 2000). Sejalan dengan pendapat tersebut, Brophy  (2004) menyatakan bahwa motivasi belajar adalah kecenderungan siswa untuk  mencapai aktivitas akademis yang bermakna dan bermanfaat serta mencoba untuk  mendapatkan keuntungan dari aktivitas tersebut. Terdapat dua aspek motivasi  belajar yang dimiliki siswa, yaitu motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik  (Santrock, 2007). Motivasi ekstrinsik yaitu melakukan sesuatu untuk  mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik  sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya,  murid belajar keras dalam menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang baik.
Sedangkan motivasi intrinsik yaitu motivasi internal untuk melakukan sesuatu  demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Misalnya, murid belajar menghadapi  ujian karena dia senang pada matapelajaran yang diujikan itu.
Motivasi belajar siswa dapat dipengaruhi oleh berbagaifaktor, seperti harapan  guru, instruksi langsung, umpanbalik (feedback) yang tepat, hadiah, dan hukuman  (Brophy, 2004). Pemberian angka, persaingan/kompetisi, ego-involvement, memberi  ulangan, pujian, memberitahukan hasil, hasrat untuk berhasil,minat, dan tujuan yang  ingin dicapai juga dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa (Sardiman, 2000).
Beberapa faktor di atas yang mempengaruhi motivasi belajar berkaitan dengan  keterampilan mengajar yang perlu dimiliki oleh seorang guru, seperti instruksi  2   3  langsung dan pemberian umpanbalik. Selainitu, penelitian sebelumnya juga  menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa berhubungan dengan persepsi siswa  terhadap cara mengajar guru (Tarmidi & Hadiati, 2005) dan persepsi siswa terhadap  kompetensi profesionalisme guru (Rangkuti & Anggaraeni, 2005).
Kajian yang berkenaan dengan motivasi belajar siswa sebagaimana dilakukan  oleh Susilowati (2004) padakelas akselerasi di SMP Islam Al-Azhar 1 Jakarta  menemukan bahwa terdapat 68,2% yang berminat pada pelajaran IPA dan 25%  pada pelajaran IPS. Dari 68,2% siswa yang berminat pada pelajaran IPA, motivasi  terbesar bukan berasal dari dalam diri siswa melainkan dari faktor pelajaran itu  sendiri (53,7%). Selain faktor pelajaran, terdapat faktor cara mengajar guru bidang  studi (17%), faktor guru yang tidak berkaitan dengan cara mengajar (12,2%),  faktor suasana kelas ketika kegiatan belajar mengajar (4,9%), dan faktor lainnya  (12,2%). Selain itu, dari 25% siswa kelas akselerasi yang meminati pelajaran IPS  diketahui bahwa motivasi siswa belajar adalah faktor pelajaran itu sendiri  (38,1%). Selebihnya, karena faktor guru (33,3%), cara mengajar guru (23,8%),  suasana kelas (4,8%), dan faktor lainnya (0%).
Karakteristik motivasi belajar yang dimiliki oleh siswa berbakat berkaitan  dengan konsistensi dalam menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi minatnya, senang  mengerjakan tugas secara independen dimana mereka hanya memerlukan sedikit  pengarahan, serta ingin belajar, menyelidiki, dan mencari lebih banyak informasi  (Heward, 1996). Siswa-siswi berbakat memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam  hal pembelajaran, seperti mudah menangkap pelajaran, memiliki ketajaman daya  nalar, daya konsentrasi baik, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, guru yang berperan   4  dalam menangani siswa berbakat, terutama bagi mereka yang ditempatkan dalam  kelas akselerasi, lebih berperan sebagai fasilitator, sedangkan tanggungjawab belajar  ada pada peserta didik (Widyorini, 2002).
Pencapaian hasil belajar yang tinggi olehsiswa tidak bisa dilepaskan dari  standar proses yang menampilkan kualitas layanan pembelajaran. Untuk itu  pencapaian hasil belajar siswa tidak dapat dielakkan dari keharusan menganalisis  setiap komponen yang dapat membentuk dan mempengaruhi proses pembelajaran.
Begitu banyak komponen yang dapat mempengaruhi kualitas pendidikan, seperti  guru, siswa, kurikulum, metode, anggaran, fasilitas, evaluasi, dan sebagainya.
Namun demikian, tidak mungkin upaya meningkatkan kualitas dilakukan dengan  memperbaiki setiap komponen secara serempak. Hal ini selain komponenkomponen itu keberadaannya terpencar, juga sulit menentukan kadar  keterpengaruhan setiap komponen. Diantara banyaknya komponen, yang selama  ini dianggap sangat mempengaruhi proses pendidikan adalah komponen guru  (Sanjaya, 2008).
Sistem pengajaran kelas telah menempatkan guru pada suatu tempat yang  sangat penting, karena guru yang memulai dan mengakhiri  setiap aktivitas  pembelajaran yang dipimpinnya. Seorang guru perlu memiliki kemampuan  merancang dan mengimplementasikan berbagai strategi pembelajaran yang  dianggap cocok dengan minat dan bakat serta sesuai dengan taraf perkembangan  siswa termasuk di dalamnya memanfaatkan berbagai sumber dan media  pembelajaran untuk menjamin efektivitaspembelajaran. Menurut Cooper, guru  merupakan seorang yang memiliki tanggung jawab membantu orang lain untuk   5  belajar dan berperilaku dengan cara baru yang berbeda. Dengan demikian,  seorang guru perlu memiliki kemampuan khs, kemampuan yang tidak  mungkin dimiliki oleh orang yang bukan guru (Sanjaya, 2008).
Guru adalah unsur manusiawi dalam pendidikan. Guru adalah figur manusia  sebagai sumber yang menempati posisidan memegang peranan penting dalam  pendidikan. Penelitianmenunjukkan bahwa lebih dari tiga puluh persenkeberhasilan  pendidikan yang ditunjukkan oleh indikator prestasi belajar siswa ditentukan oleh guru  (Supriadi, 1998). Ketika banyak orang mempersoalkan masalah kualitas pendidikan,  tidak dapat dielakkan bahwa figur guru menjadi unsur yang dibicarakan, terutama  yang menyangkut persoalan pendidikan formal di sekolah. Hal ini memang wajar,  sebab guru merupakan ujung tombak yang berhubungan langsung dengan siswa  sebagai subjek dan objek belajar. Bagaimanapun baik dan idealnya kurikulum  pendidikan, tanpa diimbangi  dengan kemampuan guru dalam  mengimplementasikannya, maka semuanya akan kurang bermakna. Oleh sebab  itu, untuk mencapai standar proses  pendidikan, sebaiknya dimulai dengan  menganalisis komponen guru (Sanjaya, 2008).


Skripsi Psikologi:Hubungan Persepsi Tentang Keterampilan Guru Mengajar dengan Motivasi Belajar
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI

Bab I
Download 
 Bab II
 Download 
 Bab III - V
 Download 
Daftar Pustaka
 Download 
Lampiran
Download