BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Manusia (man) merupakan
salah satu dari enam unsur manajemen.
Manusia selalu berperan aktif dan
dominan dalam setiap kegiatan organisasi karena manusia menjadi perencana, pelaku, dan
penentu terwujudnya tujuan organisasi.
Tujuan tidak mungkin terwujud tanpa peran aktif manusia sebagai karyawan meskipun alat-alat yang dimiliki
perusahaan begitu canggih. Dengan kata
lain, sumber daya manusia merupakan kekayaan utama suatu perusahaan, karena tanpa keikutsertaan manusia, aktivitas
perusahaan tidak akan terjadi.
Manusia mempunyai pikiran,
perasaan, keinginan, status, latar belakang pendidikan, usia, dan jenis kelamin yang
heterogen yang dibawa ke dalam organisasi
perusahaan. Oleh karena itu, mengatur sumber daya manusia adalah hal yang sulit dan kompleks karena karyawan
bukanlah mesin ataupun material yang
bersifat pasif yang dapat dikuasai serta diatur sepenuhnya dalam mendukung tercapainya tujuan perusahaan.
Guru dan pegawai lainnya (seperti
pegawai administrasi, penjaga sekolah,
dan satpam) merupakan karyawan, sedangkan kepala sekolah sebagai pemimpinnya. Kepala sekolah harus mampu
mengelola dan membangun jalinan
kerjasama yang baik dengan sumber daya manusia yang dipimpinnya (baik guru maupun pegawai yang bukan guru)
demi terwujudnya visi dan misi sekolah
yaitu meningkatkan kualitas anak didiknya.
Guru adalah salah satu komponen
manusiawi dalam proses belajar mengajar,
yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan
(Sardiman, 2005: 125). Oleh karena itu,
guru yang merupakan salah satu unsurdi bidang pendidikan harus berperan secara aktif dan menempatkan
kedudukannyasebagai tenaga profesional, sesuai
dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam hal ini guru tidak semata-mata sebagai pengajar yang
melakukan transfer ilmu pengetahuan,
tetapi juga sebagai pendidik yang melakukan transfer nilai-nilai sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan
pengarahan dan menuntun siswa dalam
belajar.
Spencer dan Spencer dalam Hutapea
(2008) menyatakan kompetensi adalah
karakterisrik dasar seseorang yang ada hubungan sebab-akibatnya dengan prestasi kerja yang luar biasa atau
dengan efektivitas kerja. Tiga komponen
utama pembentuk kompetensi, yaitu pengetahuan (knowledge) yang dimiliki seseorang, keterampilan (skill), dan
perilaku individu (behavior).
Pengetahuan (knowledge) merupakan
informasi yang dimiliki oleh seseorang, keterampilan
(skill) merupakan kemampuan seseorang untuk melakukan suatu aktivitas atau pekerjaan, dan perilaku
individu (behavior) yang mencakup kedisiplinan,
kerjasama, dan tanggung jawab.
Kompetensi guru akan mempengaruhi
keberhasilan siswa dalam belajar, yang
pada akhirnya akan berperan besar pada peningkatan mutu pendidikan. Kompetensi guru dalam
mempersiapkan siswa untuk melewati jenjang
pendidikan sangat bergantung pada kepala sekolah sebagai pemimpin dalam mengelola tenaga kependidikan yang
tersedia disekolah. Hal tersebut dikarenakan
kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga
kependidikan lainnya, dan pendayagunaan
serta pemeliharaan saranadan prasarana (Mulyasa, 2004: 25).
Kepala sekolah sebagai pimpinan
tertinggi yang sangat berpengaruh dan
menentukan kemajuan sekolah harus memiliki kemampuan administrasi, memiliki komitmen tinggi, dan luwes dalam
melaksanakan tugasnya.
Kepemimpinan kepala sekolah yang
baik harus dapat mengupayakan peningkatan
kompetensi guru melalui program pembinaan kemampuan tenaga kependidikan. Oleh karena itu, kepalasekolah
harus mempunyai kepribadian atau
sifat-sifat dan kemampuan serta keterampilan-keterampilan untuk memimpin sebuah lembaga pendidikan. Dalam
perannya sebagai seorang pemimpin,
kepala sekolah harus dapat memperhatikan kebutuhan dan perasaan orang-orang yang bekerja sehingga kompetensi
guru selalu terjaga.
Kepala sekolah, baik pria atau
wanita berpengaruh terhadap kompetensi para
guru dan pegawai yang dipimpinnya. Dalam mendorong kompetensi para guru dan pegawai, antara pemimpin pria dan
wanita pasti memiliki perbedaan karakteristik.
Wanita tidak dapat menjalankan
tugas sebagai pemimpin merupakan pendapat
yang masih berkembang luas pada masyarakat Indonesia. Kodrat wanita dianggap sebagai manusia yang
berkemampuan lebih rendah daripada laki-laki.
Pemikiran semacam ini sejalan dengan pemikiran tradisional yang mempercayai bahwa wanita tidak layak sebagai
pemimpin. Pendapat ini tampaknya masih
tertanam dengan kuat di masyarakat dan
cenderung menghambat keinginan wanita
untuk menjangkau posisi yang lebih tinggi (Tukiran 2007: 232).
Sejarah mencatat banyak
wanita-wanita pemimpin ataupun yang mampu
menduduki posisi penting dalam sebuah organisasi. Dari luar negeri ada Margaret Thatcher dari Inggris,
CorryAquino dari Filipina, Benazir Bhutto dari Pakistan, Aung San Suu Kyi dari Myanmar,
sedangkan dari dalam negeri kita sendiri
ada Tjut Njak Dhien, Mooryati Soedibyo, Martha Tilaar, Sri Mulyani Indrawati, Megawati Soekarnoputri, dan
banyak lagi. Mereka adalah para wanita
pemimpin yang telah menunjukkan prestasi di bidang yang mereka tekuni.
Kenyataan bahwa saat ini wanita
sudah mampu bergerak maju dan berperan
sebagai pemimpin, menimbulkan pertanyaan apakah kepemimpinan wanita efektif bagi karyawan yang dipimpinnya.
Apakah sebuah organisasi atau divisi
yang dipimpin oleh seorang wanita akan memiliki kompetensi karyawan yang tinggi, atau justru sebaliknya.
Kemampuan seorang wanita dalam hal
memimpin inilah yang masih diragukan oleh banyak kalangan.
Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan
oleh jenis kelamin.
Sugiarto (2006) menyatakan
kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan
seseorang untuk mau menjadi pemimpin,
baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial
dan bahkan bagi negerinya.
Pemimpin adalah seseorang yang
berada di dalam kelompok, sebagai pemberi
tugas atau sebagai pengarah dan mengkoordinasikan kegiatan kelompok yang relevan, serta dia sebagai penanggung jawab utama.
Kepemimpinan adalah cara mengajak
karyawan agar bertindak secara benar, mencapai
komitmen dan memotivasi untuk mencapai tujuan bersama (Friedler dalam Zahro (2007)). Berdasarkan definisi tersebut,
maka dapat dikatakan bahwa seorang
pemimpin mempengaruhi kompetensi bawahannya.
SMA Negeri 1 Medan merupakan
salah satu organisasi berbentuk sekolah
yang di dalam kegiatan operasionalnya membutuhkan tenaga-tenaga pendidik yang berkualitas tinggi. Kompetensi
dari para guru di dalam sekolah tidak
terlepas dari peran seorang kepalasekolah. SMA Negeri 1 Medan terletak di Jl. Teuku Cik Ditiro no. 1, Medan. Saat ini
SMA Negeri 1 Medan dipimpin oleh seorang
wanita yang bernama Dra. Hj. Rebekka Girsang yang telah menjabat sebagai kepala sekolah daritahun
ajaran 2006/2007 sampai sekarang.
Skripsi Manajemen:Pengaruh Kepemimpinan Wanita Terhadap Kompetensi Guru Pada SMA Negeri 1
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI
Bab I
|
Download
| |
Bab II
|
Download
| |
Bab III - V
|
Download
| |
Daftar Pustaka
|
Download
| |
Lampiran
|
Download
|
