Skripsi manajemen:Pengaruh Budaya Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada Pabrik Kelapa Sawit


 BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah  Kinerja karyawan merupakan prestasi kerja atau hasil kerja baik kualitas  maupun kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan per satuan periode waktu  dalam melaksanakan tugas kerjanya sesuai dengan tanggung jawab yang  diberikan kepadanya.  Setiap organisasi atau instansi dalam melaksanakan  program yang diarahkan selalu berdaya guna untuk mencapai tujuan perusahaan.
Salah satu caranya adalah meningkatkan kinerja karyawan.
Kinerja pada dasarnya adalah sesuatuyang dilakukan atau tidak dilakukan  karyawan sehingga mereka mempengaruhi seberapa banyak mereka memberi  kontribusi kepada instansi atau organisasi termasuk pelayanan kualitas yang  disajikan. Strategi peningkatan kinerja adalah cara perusahaan untuk  meningkatkan kinerja karyawan agar tujuan perusahaan dapat tercapai. Agar  strategi peningkatan kinerja tersebut dapat berhasil maka perusahaan perlu  mengetahui sasaran kinerja.

Menurut Triguno (2004) budaya kerja adalah nilai-nilai yang menjadi  kebiasaan dan bermula dari adat-istiadat, agama, norma dan kaidah yang menjadi  keyakinan pada diri pelaku kerja atau organisasi. Menurut Nawawi (2003) budaya  kerja adalah kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang oleh pegawai dalam suatu  organisasi, pelanggaran dalam sangsi ini memang tidak ada yang tegas , namun  dari pelaku organisasi secara moral telah menyepakati bahwa kebiasaan tersebut  merupakan kebiasaan yang haraus ditaati dalam rangka pelaksanaan pekerjaan   untuk mencapai tujuan. Sementara menurut (Sjafri Mangkuprawira, 2004) budaya  kerja merupakan sistem nilai, persepsi, perilaku dan keyakinan yang dianut oleh  setiap karyawan tentang makna kerja dan refleksinya dalam kegiatan mencapai  tujuan organisasi dan individu.
PT Perkebunan Nusantara III, sebagai salah satu Badan Usaha Milik  Negara (BUMN) yang bergerak di sektor perkebunan, telah berperan sangat  penting dalam pemasukan devisa negara sejak beberapa tahun yang lalu.
Perusahaan berkantor Pusat di Medan Sumatera Utara dan mempunyai areal yang  tersebar mulai dari Medan di Provinsi Sumatera Utara hingga Bagan Batu di  Provinsi Riau yang terbagi dalam 8 Distrik Manager, 1 General Manager, 37  kebun, 11 unit PKS, 10 Pabrik Pengolahan Karet, dan 5 unit rumah sakit. Sebagai  suatu agro industri yang terintegrasi, perusahaan mempunyai Pabrik pengolahan  Karet 10 unit (2 unit pengolahan latek pekat, 2 Unit pabrik Crumb rubber dan 6  Unit Pengolahan Sheet), serta 11 Unit Pabrik Kelapa Sawit.
Menyadari bahwa persaingan bisnis yang semakin ketat, adanya acaman  dari industri sejenis dan produk substitusi, fluktuasi harga produk yang sangat  ekstrim serta pengembangan lahan yang semakin sulit, maka perlu melakukan  deversifikasi produk dalam menciptakan produk yang berorientasi pasar serta  merubah paradigma usaha agar bisa lebih kompetitif.
Tantangan dan ancaman persaingan bisnis yang semakin ketat  tentunya  menuntut adanya respon yang cepat dan akurat serta terukur, khsnya dari  setiap karyawan yang berada di unit produksi Pabrik Kelapa Sawit (PKS)  Rambutan. Budaya kerja yang digunakan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Rambutan  sejak tahun 2005 hingga saat ini yaitu melalui penerapan pola bisnis dengan   sasaran business by target yang telah membawa dampak yang sangat signifikan  terhadap pencapaian kinerja karyawan di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Rambutan.
Langkah konkrit yang telah dilakukan perusahaan adalah melalui budaya  kerja yang terkait dengan Sumber Daya Manusia (SDM) memegang peranan yang  sangat vital dalam proses transformasi budaya kerja di Pabrik Kelapa Sawit (PKS)  Rambutan. Budaya kerja yang dilakukan di Pabrik Kelapa Sawit (PKS)Rambutan  merupakan suatu program yang komprehensif untuk melakukan percepatan dalam  pembaharuan operasional pabrik secara lebih efisien dan efektif .. Aspek budaya  tersebut selain tercermin dalam kebiasaan kerja karyawan seperti sikap, cita-cita,  pendapat, serta tindakan yang  terwujud sebagai budaya kerja juga didukung  sepenuhnya oleh seluruh jajaran direksi yang memiliki keyakinan tinggi dalam  pelaksanaan tranformasi manajemen, strategi, dan struktural yang dilakukan  secara konsisten dan transparan terhadap unit produksi dan penunjang secara  terintegrasi dan berkesinambungan.
Pencapaian  hasil kinerja karyawan yang optimal dalam menghasilkan  produk CPO di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Rambutan berbasis kepada upaya  strategis, maka diperlukan adanya suatu perubahan atmosfir bisnis berupa  perubahan paradigma atau cara pandang, pola pikir, dan cara bertindak dalam  menjalankan bisnis di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Rambutan. Dengan demikian,  program transformasi kultural di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Rambutan memiliki  ciri-ciri perubahan yang bersifat sangat mendasar, strategis, dan menyeluruh  sehingga cita-cita Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Rambutan dalam bentuk visi, misi,  tata-kelola, dan strategi dapat dirumuskan kembali dan dijabarkan dalam action  planpabrik dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.
 Berbasis terhadap perubahan budaya kerja  maka pencapaian target  produksi CPO di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Rambutan telah mengalami  peningkatan secara signifikan dan berkelanjutan, seperti yang ditunjukkan pada  Gambar 1.1.
  Gambar 1.1. Kurva business by target vs. business as al Sumber : Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Rambutan (2009)  Pencapaian target tersebut sebelumnya hanya menggunakan sasaran  dengan pola business as alyaitu merupakan budaya kerja perusahaan yang  tidak sehat (tidak kreatif, tidak inovatif, kurang analisis, dan kurang berpikir  secara global) sebagai akibat dari buruknya sistem kerja. Di samping itu juga,  sebagai akibat dari rendahnya kompetensi dan minimnya informasi yang diterima  oleh SDM, maka diyakini bahwa hasilnya tidak akan mencapai optimal.
Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Rambutan sejak tahun 2005 hingga sekarang  telah menggunakan pola business by target, yaitu merupakan budaya kerja dengan  inovasi  yang sudah menjadi kompetensi, pencapaian produktivitas harus  meningkat tajam, model operasional Pabrik Kelapa Sawit (PKS) berasaskan  terhadap kecepatan, kesederhanaan, ketanggapan, dan fleksibel. Hal ini telah  membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap pencapaian kinerja  2005   karyawan di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Rambutan saat ini dibandingkan dengan  pencapaian kinerja sebelumnya. Data kinerja Pabrik Kelapa Sawit (PKS) untuk  tahun 2000-2009 dapat dilihat pada tabel 1.1 dibawah ini.
    Tabel 1.1.      Kinerja PKS Rambutan sebelum menggunakan      budaya kerja Businnes By Target Kinerja PKS Rambutan tahun 2000- Tabel 1.2.
Kinerja PKS Rambutan setelah menggunakan  budaya kerja Businnes By Target Kinerja PKS Rambutan tahun 2005– Pencapaian kinerja yang jauh lebih baik di Pabrik Kelapa Sawit (PKS)  Rambutan sangat diperlukan upaya-upaya strategis yang harus dilakukan oleh  budaya kerja SDM-nya (sistem dan budaya kerja baru). Dalam hal ini karyawan  telah terpacu untuk melakukan berbagai inovasi baik terhadap proses maupun  produk CPO yang dihasilkan dan hal ini dinilai lebih strategis dalam menjamin  keberlangsungan bisnis di unit produksi dalam jangka panjang.. Budaya kerja ini  memiliki tujuan utama, yaitu untuk mengubah sikap dan juga perilaku SDM,  sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan produktivitas kerja Pabrik Kelapa  Sawit (PKS) dan sekaligus sebagai upaya strategis di dalam menghadapi berbagai  tantangan bisnis di masa yang akan datang.


Skripsi manajemen:Pengaruh Budaya Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada Pabrik Kelapa Sawit
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI

Bab I
Download 
 Bab II
 Download 
 Bab III - V
 Download 
Daftar Pustaka
 Download 
Lampiran
Download