BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Pembangunan
dewasa ini tertuju pada terwujudnya sektor industri yang kuat dan maju, sehingga mampu menunjang terciptanya
perekonomian yang mandiri dan handal.
Kebijakan sektor industri yang meliputi arah dan tujuan pembangunan industri, pengembangan industri dengan nilai
tambah yang tinggi dan strategis, makin
memperdalam struktur industri secara efisien dan mampu bersaing dengan industri luar negeri.
Pembangunan sektor industri
ditujukan untuk meningkatkan industri yang mengolah bahan mentah atau setengah jadi
menjadi bahan setengah jadi untuk keperluan
industri selanjutnya, dan menjadi bahan jadi yang mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Peran sektor industri akan
semakin meningkat, baik dalam jumlah produksi maupun dalam hal penyerapan tenaga kerja. Hal
ini disebabkan karena pembangunan pada
sektor industri ditujukan untuk memperkokoh struktur ekonomi nasional dengan keterkaitan yang kuat dan saling
mendukung antar sektor, meningkatkan daya
tahan perekonomian nasional, memperluas lapangan kerja dan kesempatan usaha sekaligus mendorong berkembangnya
kegiatan berbagai sektor lainnya. Salah satu
contoh produk sektor industri adalah senyawa asetanilida.
Asetanilida memiliki beragam
manfaat, baik sebagai bahan baku maupun bahan
penunjang industri kimia, seperti : 1. Sebagai bahan baku pembuatan obat–obatan
seperti parasetamol (keperluan analgesik
dan antipretik), lidokain (keperluan anestesi), obat sulfa dan penisilin 2.
Bahan pembantu dalam industri cat dan karet 3. Bahan intermediet pada sulfon dan asetilklorida
4. Sebagai inhibitor dalam industri
peroksida 5. Sebagai stabilizer pada
selulosa ester varnis seperti tinner 6. Sebagai pewarna buatan dan sebagai
intermediet pada pembuatan pewarna buatan
(Anonim, 2010).
I - 1 Saat ini kebutuhan asetanilida di Indonesia
masih mengandalkan impor.
Dapat kita lihat melalui data
impor asetanilida, dimana terus terjadi peningkatan nilai impor asetanilida dari tahun ke tahun hingga
tahun 2008 (Tabel 1.1).
Tabel 1.1 Kebutuhan Asetanilida
di Indonesia Berdasarkan Data Impor Tahun Ke
Tahun Impor (kg) 1 2002
26.812.
2
2003 24.086.
3
2004 28.627.
4
2005 31.188.
5
2006 35.862.
6
2007 39.765.
7
2008 41.666.
(Sumber : BPS, 2008) Kapasitas
produksi pada pra rancangan pabrik asetanilida ini adalah 25.000 ton/tahun, diharapkan sekitar 75% kebutuhan
asetanilida domestik dapat dipenuhi.
Sehingga tidak hanya bergantung
pada impor asetanilida.
Bahan baku yang digunakan dalam
memproduksi asetanilida adalah anilin dan
asam asetat, yang ketersediaanya di Indonesia cukup memadai. Anilin dapat diimpor dari Nanjing Linghao Chemical Trading
Co.Ltd, Provinsi Jiangsu, China dan/atau
Shreya Aniline Industries Pvt.Ltd, Mumbai, India. Sedangkan asam asetat dapat diperoleh dari PT. Multitrade Chemindo
di daerah Lampung dan/atau PT. Indo Acidatama
Chemical di daerah Surakarta.
Sumber bahan baku merupakan hal
penting dalam pemilihan lokasi pabrik.
Hal ini dapat mengurangi biaya
transportasi dan biaya penyimpanan. Sedangkan perkiraan kebutuhan asetanilida hingga tahun
2012 diperkirakan seperti yang tertera pada
Tabel 1.2 berikut.
Tabel 1.2 Perkiraan Kebutuhan
Asetanilida di Indonesia Berdasarkan Data Impor 2009- Tahun
Impor (kg) 2009 43.567.
2010 45.468.
2011 47.369.
2012 49.271.
(Sumber : BPS, 2008) Oleh karena
itu, dalam menyongsong era industrialisasi yang merupakan program pemerintah yang sangat penting dalam
rangka proses alih teknologi dan membuka
lapangan pekerjaan yang baru serta untuk penghematan devisa negara dan untuk merangsang pertumbuhan industri kimia
yang lain, maka perlu dibangun pabrik
asetanilida untuk mencukupi kebutuhan asetanilida dalam negeri. Pendirian pabrik asetanilida di Indonesia dapat
dilakukan karena didukung oleh beberapa alasan,
antara lain : 1. Pabrik – pabrik
industri kimia seperti pabrik cat, pabrik karet dan terutama pabrik farmasi semaki berkembang yang memungkinkan
kebutuhan akan asetanilida semakin
meningkat.
2. Sampai saat ini Indonesia masih mengimpor asetanilida
dari negara lain, dengan mendirikan
pabrik asetanilida maka kebutuhan akan bahan ini dapat dipenuhi sehingga dapat menghemat devisa negara 3. Dapat memberikan lapangan pekerjaan baru
sehingga dapat menyerap tenaga kerja.
Keberadaan pabrik asetanilida ini
diharapkan dapat menjadi pendorong dan menggerakkan
perkembangan industri-industri kimia yang menggunakan produk ini, baik sebagai bahan baku utama maupun bahan
baku penunjangnya.
1.2 Perumusan Masalah Dengan
minimnya produksi asetanilida domestik mengakibatkan kebutuhan akan asetanilida sangat bergantung kepada
impor sehingga hal ini mendorong untuk dibuatnya
suatu pra rancanganpabrik pembuatan asetanilida dari anilin dan asam asetatdengan tujuan mencukupikebutuhan asetanilida
domestik.
1.3 Tujuan Perancangan Secara
umum, tujuan pra rancangan pabrik pembuatan asetanilida ini adalah untuk menerapkan disiplin ilmu teknik kimia khsnya
di bidang perancangan, proses dan
operasi teknik kimia sehingga dapat memberikan gambaran kelayakan pra rancangan pabrik pembuatan asetanilida dari
anilin dan asam asetat.
Secara khs, tujuan pra rancangan
pabrik pembuatan asetanilida ini adalah untuk
memenuhi kebutuhan dalam negeri akan asetanilida sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor
asetanilida.
1.4 Manfaat Perancangan Manfaat
pra perancangan pabrik pembuatan asetanilida adalah memberikan gambaran kelayakan dari segi rancangan dan
ekonomi sehingga diharapkan akan menjadi
salah satu pendukung pertumbuhan industri di Indonesia juga memenuhi kebutuhan asetanilida domestik.
Manfaat lain yang ingin dicapai
adalah dapat meningkatkan devisa negara dan dapat membantu pemerintah dalam penanggulangan
masalah pengangguran di Indonesia yaitu,
dengan cara menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Skripsi Chemical Engineering:Pra Rancangan Pabrik Pembuatan Asetanilida dari Anilin dan Asam Asetat dengan Kapasitas Produksi 25.000 TonTahun
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI
Bab I
|
Download
| |
Bab II
|
Download
| |
Bab III - V
|
Download
| |
Daftar Pustaka
|
Download
| |
Lampiran
|
Download
|
