BAB I PENDAHULUAN
I.A. Latar Belakang Masalah Tanggal 26 Desember 2004, gempa bumi kedua
terbesar yang pernah tercatat dalam
sejarah mengguncang dasar laut yang berjarak sekitar 150 km dari pantai Sumatra (CARE, 2006). Berdasarkan data
dari Badan Meteorologi dan Geofisika
(BMG), gempa bumi tektonik yang terjadi di NAD tersebut berkekuatan 6,8 SR dengan kedalaman 20 km di laut atau
sekitar 149 km selatan Meulaboh, namun
hasil survei geologi Amerika Serikat, gempa bumi tersebut dinyatakan berkekuatan 8,9 SR (Razi dalam Harjaningrum,
2005). Selain menimbulkan getaran yang
kuat, gempa kali ini juga menyebabkan timbulnya deformasi vertikal di sumber gempa. Deformasi vertikal berupa
penurunan permukaan dasar laut yang
mengakibatkan penjalaran energi kinetik menjadi gelombang tsunami di pantai. Tsunami biasanya ditandai dengan air
laut yang surut setelah gempa bumi.
Beberapa menit setelah pantai
surut terjadilah gelombang membalik yang sangat besar (Ikawati dalam Kompas, 2005).
Hanya dalam bilangan menit,
pasukan gelombang maha dahsyat mulai memporakporandakan
kehidupan masyarakatpantai di Indonesia, Sri Lanka, India, Thailand, dan Myanmar. ProvinsiNanggroe
Aceh Darussalam (Aceh) yang terkena
paling parah karenaterletak paling dekat dengan pusat gempa (CARE, 2006). Kerusakan hebat akibat gelombang
tsunami biasanya terjadi pada pemukiman
dan bangunan lainnya di pesisir pantai yang landai, berhadapan langsung dengan laut lepas serta tidak
terdapat vegetasi pantai (seperti hutan bakau)
dan tanaman lainnya yang berukuran besar yang berakar kuat dan dalam, yang dapat berfungsi sebagai pemecah atau
peredam gelombang (Ikawati dalam Kompas,
2005).
Menurut para saksi, tinggi
gelombang yang datang menerjang mencapai dua kali tinggi pohon kelapa hingga 15 meter.
Di ibukota Banda Aceh, satusatunya kota besar yang terletak di dekat pusat
gempa, jalan dan jembatan tersapu habis
di beberapa daerah di sekitarnya, garis pantai sepanjang lebih dari 500 meter lenyap. Ada banyak toko, perusahaan,
pusat-pusat kesehatan, dan gedung-gedung pemerintah, bersama-sama dengan ribuan rumah
yang hilang. Ekosistem pantai, seperti
bakau dan terumbu karang menjadi rusak. Perikanan, pertanian dan infrastruktur pantai semuanya hancur dan 20
persen dari jumlah seluruh penduduk provinsi
tersebut kehilangan tempat tinggal (CARE, 2006).
Berdasarkan hasil pengamatan
peneliti terhadap peristiwa gempa dan tsunami
yang terjadi di Aceh (24 Desember 2004), masyarakat Aceh tidak hanya kehilangan harta benda tetapi banyak juga yang
kehilangan suami/istri, sanak keluarga,
kerabat dan tetangga yang hinggakini masih ada yang tidak diketahui keberadaannya. Sebagian besar korban yang
selamat dari peristiwa tersebut tidak memiliki
rumah atau tempat tinggal layak. Hal ini menyebabkan hampir seluruh dari mereka harus mengungsi dan tinggal di
tenda pengungsi. Para pengungsi tersebut
selanjutnya dipindahkan ke barak pengungsi yang berada di beberapa daerah Banda Aceh dan Aceh Besar.
Perjuangan para pengungsi korban gempa dan tsunami untuk tetap bisa bertahan hidup di camp-camppengungsian,
ternyata amat berat. Tidak saja berkutat
dengan upaya untuk bisa kembali ke tempat tinggal asal, tetapi juga kebutuhan logistik dan kesehatan bisa
terpenuhi tanpa ada persoalan. Selain itu, ketiadaan modal awal untuk memulai hidup baru
menyebabkan korban tsunami masih berada
di camppengungsi,non camp, ataupun yang sudah menempati barak-barak penampungan yang baru (Divisi
Kampanye Koalisi HAM NGO Aceh, 2006).
Proses rekonstruksi NanggroeAceh Darussalam setelah bencana tsunami melanda dua tahun silam, masih
terkesan berjalan lamban. Masih banyak korban
tsunami belum menghuni rumah yang layak. Mereka bertahan di barak karena masih berharap janji pemerintah
membangunkan rumah baru akan terwujud.
Hidup di pengungsian meski tidakmenyenangkan tetapi harus dijalani karena para pengungsi tidak punya pilihan
lain. Selain kebebasan terkekang, mereka
sulit mencari pekerjaan (Tim Liputan 6 SCTV dalam Liputan6.com, 2006). Berikut pengakuan salah satu korban tsunami yang kehilangan pekerjaannya: ”Mata pencaharian memang udah susah sedikit.
Kalau dulu ada tambak ya.
Sekarang sudah gak ada lagi
tambak karena udah kena tsunami. Pandepande kita kan kalau udah ada duit
sedikit di hemat. Bukan kayak itu hari dulu,
misalnya hari ini dapat, besok dapat. Sekarang gak kaya gitu lagi kan”. (Akbar, bukan nama sebenarnya komunikasi
personal, 14 Agustus 2007).
Kini dua tahun lebih tsunami
berlalu, namun sedikitnya 49 ribu jiwa masih hidup dalam kekurangan di barak-barak. Mereka
menunggu kepastian pembangunan rumah.
Sejumlah pengungsi merasa barak jauh lebih baik dibanding tenda. Namun, sebagian orang menilai,tinggal
di barak hanyalah menunda penyelesaian
masalah yang sesungguhnya (Miksalmina, dkk., 2007). Temuan ARF (Aceh Recovery Forum) (dalamWASPADA
Online, 2007) di lapangan memperlihatkan
sesuatu yang mulai jarang dipublikasikan, yaitu hidup dan kehidupan penghuni barak yang tidak menentu
dalam segala hal, khsnya dalam bidang
sanitasi, kesehatan dan pendidikan. Penghuni barak terpaksa menghabiskan waktu secara tidak produktif, dan
itu sudah berlangsung hampir dua tahun.
Kompas (2007) menyebutkan kehidupan pengungsi di Aceh yang tinggal di barak-barak selama hampir duatahun
belakangan ini kian mengenaskan karena
kondisi barak sudah banyak yang rusak. Sementara itu, rumah bantuan yang sudah jadi, banyak tak dihuni karena kondisinya hancur-hancuran.
Miksalmina, dkk. (2007)
menambahkan mengenai masalah penghapusan masyarakat barak, pemerintah tak bisa mematok
waktu yang pasti kapan pengungsi bisa
pindah dari barak kerumah permanen. Tanggung jawab pembangunan rumah permanen ada pada Badan
Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR)
Aceh-Nias dan NGO (Non Goverment Organitation) yang telah menjanjikan membangun rumah. Pemerintah
mengambil alih penyediaan rumah sementara
guna memindahkan pengungsi dari tenda sebagai bagian dari kelanjutan program tanggap darurat yang belum
selesai, sementara itu BRR AcehNias menargetkan paling lambat akhir 2007
seluruh pengungsi tidak lagi tinggal di
barak. Mereka yang mencapai 49.423 orang itu akan dipindahkan ke rumahrumah
permanen yang dibangun BRR, NGO dan lembaga donor lainnya. Namun demikian, diakui banyak kendala dalam
pembangunan perumahan ini.
Berdasarkan data yang diperoleh peneliti, sebagian pengungsi yang
berasal dari Lambaro skep, Banda Aceh,
mengaku bahwa rumah yang disebut hunian sementara
itu tidak layak dipakai manusia. Dinding rumahnya hanya terbuat dari kayu berlapis terpal plastik. Jika hujan turun
sudah dipastikan air menetes di sanasini. Seperti salah satu hasil wawancara
berikut ini: ”Ni makin lama makin lapuk
ini, cuaca pun makin lama makin garang aja ya kan. Ini aja ditiup angin goyang, tingkat
anak-anak jalan aja ni goyang.
Kalau dulu ni gak goyang.,
sekarang udah goyang, belum lagi kita lari-lari nah di situ kita was-wasnya. Terus nibarak
bahan dari kayu semua kalau salah pasang
listrik itu bisa terbakarkan”. (Rahadi bukan nama sebenarnya komunikasi personal, 31 Juli 2007) Korban tsunami yang tinggal di barak pengungsi
Lambaro skep ini tidak punya pilihan
lain. Setelah kampungnya habis tersapu gelombang tsunami, salah seorang pengungsi yang bernama Putri (bukan
nama sebenarnya) tinggal di barak bersama
4 anggota keluarganya. Beban hidup Putri sekeluarga semakin berat karena fasilitas juga serba kurang. Mereka
mengaku sering kesulitan mendapat air.
Berbeda dengan kondisi sebelumnya ketika mereka berada di rumah sendiri, mereka merasa lebih nyaman. Ketidaknyamanan
ini disebabkan kondisi barak yang jauh
berbeda dari kondisi rumah mereka dahulu. Selain itu kamar barak yang terbatas memaksa mereka untuk berbagi dengan
anaknya. Putri mengaku membagi kamar
tempat tidurnya bersama anaknya dengan membagi kasur untuk tidur menjadi dua yang diberi kelambu di
setiap kasurnya.
Selain itu kehidupan sehari-hari
pengungsi di Lambaro skep ini sebagian besar
diisi dengan kegiatan yang monoton. Terutama jika pengungsi yang telah kehilangan pekerjaannya karena tsunami atau
tidak memiliki pekerjaan. Mereka menghabiskan
waktu hanya dengan duduk-duduk dan sesekali bercengkerama dengan pengungsi yang lain. Mereka mengaku
sudah pernah beberapa kali mendapat
pelatihan untuk mengembangkan keahlian yang bisa digunakan untuk usaha berdikari, namun lepas dari pelatihan
sebagian dari pengungsi ini memiliki kendala
untuk mendapatkan bahan baku karena dana dan fasilitas yang terbatas.
Skripsi Psikologi:Kesepian Korban Tsunami yang Telah Menikah di Barak Pengungsi
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI
Bab I
|
Download
| |
Bab II
|
Download
| |
Bab III - V
|
Download
| |
Daftar Pustaka
|
Download
| |
Lampiran
|
Download
|
