Skripsi Psikologi:Hubungan Sumber Nilai Makna Hidup Dengan Faktor Kepribadian Big Five


BAB I  PENDAHULUAN  
A. Latar Belakang Masalah  Dalam menghadapi tantangan hidup, terkadang orang akan merasakan bahwa  hidup yang dijalaninya tidak berarti. Semua hal ini dapat terjadi karena orang  tersebut menjalani hidupnya tanpa suatu tujuan yang jelas. Manusia modern yang  hidup dalam kurun teknologi canggih ini memerlukan tujuan hidup yaang jelas  dan mantap untuk merespon berbagai perubahan serba cepat, penuh tantangan,  dan peluang.
 Tujuan hidup adalah hal yang sangatpenting dalam menjalani kehidupan.
 Hidup tanpa tujuan akan menimbulkan ketidakpastian, kebingungan, dan  kehampaan yang pada gilirannya akan mengembangkan hidup tanpa makna.
 Tujuan hidup yang baik adalah sesuatu yang benar-benar didambakan, sangat  bermakna, penting, dan berharga (Bastaman, 2007).

 Makna hidup adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga serta  memberikan nilai khs bagi seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan dalam  kehidupan. Bila hal itu berhasil dipenuhiakan menyebabkan seseorang merasakan  kehidupan berarti dan padaakhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia  (Bastaman, 2007). Mereka yang merasakan hidup mereka bermakna, mempunyai  harga diri yang lebih tinggi dan jarang mengalami depresi dan kecemasan (dalam  Steger,2006).
  Banyak orang awam berpendapat bahwa makna hidup hanya dapat dicapai  pada orang yang memiliki tingkat sosial ekonomi menengah ke atas. Sebenarnya  makna hidup ada dalam kehidupan itu sendiri, dan dapat ditemukan dalam setiap  keadaan yang menyenangkan dan tak menyenangkan, keadaan bahagia dan  penderitaan (Bastaman, 2007). Karenahidup itu sendiri sudah mempunyai  maknanya, maka manusia harus mencari dan bukan menciptakannya.
 Dalam mencari makna hidup, ada sumber-sumber makna hidup dimana  seseorang dapat menemukan makna di dalamnya. Sumber-sumber makna hidup  terbagi 3 yaitu nilai-nilai kreatif, nilai-nilai penghayatan, dan nilai-nilai bersikap  (Bastaman, 2007).
 Nilai-nilai kreatif adalah kegiatan berkarya, bekerja, mencipta serta  melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya dengan penuh tanggung  jawab. Bekerja itu dapat menimbulkan makna dalam hidup, secara nyata dapat  kita alami sendiri apabila kita adalah seorang yang telah lama tidak berhasil  mendapat pekerjaan, kemudian seorang teman menawari suatu pekerjaan.
 Kalaupun gajinya ternyata tidak terlalu besar, besar kemungkinan kita akan  menerima tawaran itu, karena akan merasa berarti dengan memiliki pekerjaan  daripada tidak memiliki sama sekali (Bastaman,2007).
 Nilai-nilai penghayatan yaitu keyakinan dan penghayatan akan nilai-nilai  kebenaran, kebajikan, keindahan, keimanan, dan keagamaan serta cinta kasih.
 Tidak sedikit orang-orang yang merasa menemukan arti hidup dari agama yang  diyakininya, atau ada orang-orang yang menghabiskan sebagian besar usianya   untuk menekuni suatu cabang seni tertentu(Bastaman, 2007). Hal ini bisa kita  lihat dari kutipan makna hidup Dalai Lama, pemimpin spiritual Buddhis Tibet:  “While we exist as human beings, we are like tourists on holiday. If we  play havoc and cause disturbance, our visit is meaningless. If during our short  stay-100 years at most- we live peacefully, help other and atthe very least,  refrain from harming or upsetting them, our visit is worthwhile.”(“Selama  kita hidup sebagai manusia, kita seperti turis yang sedang berlibur. Jika kita  membuat kekacauan dan menyebabkan gangguan, kunjungan kita tidak  bermakna. Jika selama kunjungan kita yang singkat – maksimal 100 tahun –  kita hidup dengan damai, membantu yang lain dan setidaknya tidak melukai  atau membuat mereka kesal, kunjungan kita akan bermakna.”) (Friend dalam  Corey,2006).
 Nilai-nilai bersikap yaitu menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran, dan  keberanian segala bentuk penderitaan yang tidak mungkin dielakkan lagi, seperti  sakit yang tak dapat disembuhkan, kematian, dan menjelang kematian, setelah  upaya dan ikhtiar dilakukan secara maksimal. Penderitaan memang dapat  memberikan makna dan guna apabila kita dapat mengubah sikap terhadap  penderitaan itu menjadi lebih baik lagi (Bastaman, 2007).
 Sumber-sumber makna hidup sendiri tentunyaakan berbeda dari satu individu  dengan individu lainnya. Hal ini sesuai dengan karakteristik makna hidup yang  sifatnya unik dan personal. Sumber makna hidup dibentuk oleh budaya, etnis,  faktor sosiodemografis, dan tahap perkembangan (Reker dalam Edwards, 2007).
 Makna hidup sendiri dipengaruhi oleh faktor usia, dukungan sosial, dan  kepribadian. Lukas (1985) menyatakan dalam prakteknya ia menemukan korelasi  yang kuat antara orientasi makna hidup dan tingkat kedewasaan. Hubungan antara  makna hidup dengan dukungan sosial dan kepribadian diteliti oleh Jim, Purnell,   Richardson, Kreutz, dan Andersen (2003) dalam penelitian mereka mengenai  makna hidup pada penderita kanker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  dukungan sosial dan faktor neuroticismmempunyai korelasi dengan makna hidup.
 Korelasi positif yang lebih kuat ditemukan pada hubungan antara makna hidup  dengan perceived social supportdaripada social network support. Hubungan  antara makna hidup dan neuroticismadalah berkorelasi negatif (Jim, dkk, 2003).
 Dalam penelitian ini, peneliti tertarikuntuk meneliti lebih jauh tentang hubungan  antara sumber makna hidup dengan kepribadian.
 Istilah kepribadian mengacu pada karakteristik-karakteristik dari orang  tersebut yang bertanggung jawab atas pola yang konsisten dari merasa, berpikir,  dan berperilaku. Salah satu pendekatan dalam mempelajari kepribadian adalah  melalui pendekatan trait.  Trait adalah karakteristik  psikologis yang stabil  sepanjang waktu dan situasi. Trait mengacu pada pola yang konsisten dari cara  individu merasa, berpikir, dan berperilaku (Pervin, 2005).
 Selama bertahun-tahun, peneliti-peneliti traittermasuk Eysenck, Cattell, dan  yang lainnya berdebat mengenai jumlah dan sifat dari dimensi alami dari trait.
 Banyak peneliti sekarang setuju bahwa perbedaan individual bisa disn dalam 5  dimensi yang luas dan bipolar. Ini dikenal dengan dimensi trait “Big Five” atau  Five Factor Model (Pervin, 2005).
 Five Factor Modelini dikemukakan oleh Costa dan McCrae. Adapun kelima  faktor dalam faktor Big Fiveini adalah Neuroticism (N), Extraversion (E),  Openness (O), Agreeableness (A), dan Conscientiousness (C) (Pervin, 2005).
  Neuroticism berbeda dari kestabilan emosional dengan adanya perasaanperasaan negatif, mencakup kecemasan, kesedihan, mudah tersinggung, dan  gelisah. Karakteristik orang dengan neuroticism tinggi adalah khawatir, gelisah,  emosional, merasa tidak aman , tidak cakap, dan hypochodriacal(Pervin, 2005).
 Keterbukaan terhadap pengalaman (Openness to Experience) menjelaskan  keluasan, kedalaman, dan kompleksitas dari kehidupan mental dan pengalaman  individu. Karakteristik orang dengan openness yang tinggi adalah selalu ingin  tahu, punya ketertarikan yang beragam, kreatif, orisinil, penuh daya khayal, tidak  tradisional (Pervin, 2005).
 Extraversion menjelaskan hubungan interpersonal individu. Karakteristik  orang dengan extraversion tinggi adalah mudah berhubungan dengan orang lain,  aktif, cerewet, person-oriented, optimis, suka bersenang-senang, dan penuh kasih  sayang (Pervin, 2005).
 Agreeableness sama seperti extraversion juga menjelaskan hubungan dengan  orang lain. Karakteristik orang dengan Agreeableness  tinggi adalah berhati  lembut, bersifat baik, mudah percaya pada orang lain, suka membantu, pemaaf,  mudah tertipu, dan jujur (Pervin, 2005).
 Conscientiousness  menjelaskan perilaku yang berorientasi pada tugas dan  tujuan dan kontrol impuls. Karakteristik orang dengan conscientiousness tinggi  adalah terorganisir, dapat dipercaya, pekerja keras, disiplin diri, tepat waktu, teliti,  rapi, ambisius, dan tekun (Pervin, 2005).
 Penelitian tentang hubungan antara makna hidup dengan kepribadian telah  banyak diteliti oleh para ahli. Halamadalam penelitiannya yang berjudul   “Hubungan antara makna hidup dan The Big Five Personality Trait pada dewasa  muda dan lansia” menghubungkan antara skor yang didapat dari kuesioner NEOFFI dengan dua pengukuran makna hidup yang berbeda yaitu Reker’s Personal  Meaning Index(PMI) dan Halama’s Life Meaningfulness Scale(LMS). Hasilnya  ia menemukan bahwa koefisien korelasi antara extraversion dan makna hidup  bervariasi antara 0,29 sampai 0,42 dan untuk neuroticism dan makna hidup antara  -0,39 sampai -0,60. Hubungan juga ditemukan antara makna hidup dan  conscientiouness(korelasi antara 0,31 sampai 0,57) (Halama, 2005).
 Penelitian tentang hubungan antara makna hidup dengan kepribadian juga  dilakukan oleh Steger, Kashdan, Sullivan, dan Lorentz (2006). Berbeda dari  Halama yang meneliti tentang hubungan adanya makna hidup dengan  kepribadian, Steger justru meneliti pencarian maknahidup dengan kepribadian.
 Hasilnya, orang yang sedang mencari makna hidup tinggi dalam skor neuroticism,  openness, dan agreeableness(Steger,dkk, 2006).
 Penelitian yang dilakukan Diener, Oishi, dan Lucas (2002) meneliti tentang  hubungan antara kepribadian, kebudayaan dan subjective well being (SWB).
 Subjective well beingadalah evaluasi emosional dan kognitif individu tentang  hidup mereka, mencakup kebahagiaan, kedamaian, pemenuhan, dan kepuasan  hidup. Disposisi kepribadian seperti extraversion, neuroticism,dan harga diri  mempunyai pengaruh yang berarti terhadaptingkat SWB seseorang (Diener, dkk,  2002).
 Studi yang dilakukan oleh Beautrais, Joyce, dan Mulder (1999) yang berjudul  “Kepribadian dan gaya kognitif sebagai faktor resiko dalam percobaan bunuh diri   serius pada orang muda” menunjukkan bahwa individu yang melakukan  percobaan bunuh diri mempunyai perasaan putus asa, neuroticism, introversion,  harga diri yang rendah, impulsif, dan locus of controleksternal (Beautrais, dkk,  1999). Percobaan bunuh diri merupakan salah satu akibat yang timbul dari  keadaan tidak bermakna.
 Dari penjelasan di atas, peneliti ingin mengkaji hubungan antara sumber nilai  makna hidup dengan kelima faktor dalam teori kepribadian Big Five. Hal ini  didasarkan atas asumsi bahwa setiap orang mempunyai kesempatan yang sama  untuk bisa menemukan makna hidupnya, yang berbeda hanya pada  kecenderungan mereka untuk bisa menemukan makna dalam peristiwa-peristiwa  tertentu. Kepribadian sebagai salah satu faktor yang mendasari perilaku, perasaan,  dan pikiran manusia mungkin mempengaruhi dalam hal ini.
 B.  Identifikasi Permasalahan  Dari penjelasan di atas maka peneliti ingin mengkaji hubungan sumber nilai  makna hidup dengan faktor dalam teori kepribadian Big Five. Apakah ada  hubungan antara sumber nilai makna hidup dengan kelima faktor dalam teori  kepribadian Big Five?  C. Tujuan Penelitian  Adapun tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk melihat apakah ada  hubungan antara sumber nilai makna  hidup dengan kelima faktor teori  kepribadian Big Five.
  D. Manfaat Penelitian  Manfaat penelitian ini ada 2 yaitu :  1.  Manfaat praktis yaitu untuk membantu individu dalam menemukan  sumber makna hidup mereka sesuai dengan kepribadian.
 2.  Manfaat teoritis yaitu untuk menambahkhasanah pengetahuan di bidang  psikologi klinis khsnya mengenai makna hidup dan sebagai bahan  rujukan untuk penelitian selanjutnya.


Skripsi Psikologi:Hubungan Sumber Nilai Makna Hidup Dengan Faktor Kepribadian Big Five
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI

Bab I
Download 
 Bab II
 Download 
 Bab III - V
 Download 
Daftar Pustaka
 Download 
Lampiran
Download