Skripsi Psikologi:Hubungan Self Efficacy Bekerja Dan Keluarga Dengan Tingkat Konflik Peran Ganda


BAB I  PENDAHULUAN
 I.A. Latar Belakang Masalah   Masa dewasa dini merupakan periodepenyesuaian diri terhadap pola  kehidupan dan harapan sosial yang baru. Seseorang pada masa ini diharapkan  dapat memainkan peran baru, seperti peran suami atau istri, orang tua, pencari  nafkah, dan mengembangkan sikap, keinginan serta nilai-nilai baru sesuai dengan  tugas-tugas perkembangannya. Penyesuaiandiri terhadap kondisi-kondisi ini  menjadikan masa dewasa dini merupakan suatu periode khs dan sulit dari  rentang hidup seseorang (Hurlock, 1999).
Setiap rentang kehidupan memiliki tugas-tugas perkembangan. Menurut  Hurlock (1999) tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa dini mencakup  mendapatkan suatu pekerjaan, memilih pasangan hidup, belajar hidup bersama  dengan suami atau istri, mulai membina keluarga, mengasuh anak-anak,  mengelola rumah tangga, menerima tanggung jawab sebagai warga negara dan  mencari kelompok sosial yang menyenangkan. Tingkat penguasaan tugas-tugas  pada tahun-tahun awal masa dewasa dini akan mempengaruhi tingkat keberhasilan  pada masa selanjutnya sampai padatahun-tahun akhir kehidupan mereka.

Hurlock (1999) menyatakan tugas-tugas yang berkaitan dengan pekerjaan  dan keluarga merupakan tugas yang sangat banyak, penting, dan sulit diatasi  bahkan bagi orang dewasa telah mempunyai pengalaman kerja, telah menikah,   xiv dan telah menjadi orang tua, mereka masih tetap harus melakukan penyesuaian  diri dengan peran-peran tersebut.
Pemenuhan tugas perkembangan dewasa dini khsnya dalam hal  pencarian pekerjaan, pendidikan memiliki peran yang sangat penting guna  terciptanya kesempatan bagi seseorang untuk mendapat pekerjaan. Hal ini sesuai  dengan pernyataan Papalia (2004) bahwa dewasa dini kebanyakan memilih  pekerjaan sesuai dengan bidang dalam pendidikannya. Semakin tinggi pendidikan  yang mereka capai maka semakin luas kesempatan bekerja.
Perkembangan dan fasilitas pendidikan sekarang ini mengalami  peningkatan. Wanita Indonesia mempunyai kesempatan yang semakin besar untuk  mengenyam pendidikan tinggi sebagaimana halnya pria (Wanita berperan ganda,  2004). Soeharto (2004) menambahkan bahwa wanita mempunyai keinginan untuk  mengembangkan kemampuan dan ilmu yang dimilikinya. Hal ini dapat dilakukan  dengan bekerja, baik itu di rumah ataupun di luar rumah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2003, menyatakan pekerja wanita  di Indonesia mencapai 35,37% dari jumlah pekerja secara keseluruhan, yaitu  100.316.007. Wanita yang bekerja sesungguhnyamerupakan arus utama di  banyak industri (Kebijakan, 2003).
Jumlah pekerja wanita tersebut termasuk wanita yang sudah menikah dan  wanita yang belum menikah. Wanita yang sudah menikah memiliki beberapa  alasan mengapa mereka bekerja. MenurutEgelman (2004) ada sejumlah ganjaran  yang akan didapatkan seorang ibu yang bekerja, yaitu status, pencapaian  pendidikan, jenjang karir, kesempatan, dan uang. Rini (2002) menambahkan   xv bahwa kebutuhan finansial atau kebutuhan untuk mendapatkan uang sering kali  membuat istri harus bekerja untuk bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari  keluarganya.
Wanita bekerja dan sudah berumah tangga memiliki peran yang lebih dari  satu yang disebut sebagai peran ganda. Gunarsa dan Gunarsa (2000) menyatakan  peran ganda wanita itu terdiri dari, wanita sebagai anggotakeluarga, sebagai istri,  sebagai pencari nafkah, sebagai ibu rumah tangga, sebagai ibu bagi anak, dan  sebagai wanita karir. Fenomena peran ganda lebih sering mendatangkan masalah  pada wanita. Pekerjaan banyak berpengaruh pada kehidupan, terutama bagi wanita  yang sudah berumah tangga. Pada wanitadewasa dini yang sudah bekerja  sekaligus sudah berumah tangga, mereka harus menyesuaikan diri mereka baik itu  dengan kehidupan bekerjanya dan juga rumah tangganya. Sesuai dengan apa yang  dikatakan oleh Sutrisno (dalam Soeharto, 2004) bahwa profil wanita Indonesia  pada saat ini digambarkan sebagai wanita yang harus hidup dalam situasi  dilematis dimana mereka harus berperandalam semua sektor, walaupun begitu di  sisi lain mereka juga dituntut agar tidak melupakan kodratnya sebagai wanita yang  harus tetap memperhatikan keluarganya. Hastomo (2007) berpendapat ada  kekurangan dan kelebihan dariibu yang bekerja. Jika ibu bekerja, anak merasa  tidak diperhatikan dan kurang kasih sayang sehingga perilakunya menjadi liar  apabila ibu tidak bisa mengatur waktu dan tenaganya secara proposional. Jika ibu  tidak bekerja, ia memiliki lebih banyak waktu untuk mengurus rumah tangganya,  dan lebih banyak mencurahkan kasih sayangnya kepada anak.
 xvi Ada banyak permasalahan yang bisa ditimbulkan akibat seorang ibu  bekerja. Soeharto (2004) menyatakan pelaksanaan peran ganda wanita pada  kenyataannya menimbulkan masalah yang tidak sedikit. Peran ganda  memungkinkan terjadinya konflik peran dimana suatu perilaku yang diharapkan  pada suatu posisi tidak cocok dengan posisi yang lain (Oskamp, 1984). Simon  (2002) juga menyatakan wanita bekerja mendapatkan sejumlah implikasi klinis  dan efek psikologis ketika bernegosiasi dengan konflik internal dan eksternalnya.
Pengalaman konflik wanita bekerja sering menimbulkan depresi, perasaan stres,  rasa bersalah, cemburu dan malu (Hammen et al. dalam Simon, 2002).
 Beberapa wanita menyadari bahwa konflik yang terjadi bisa berdampak  pada pernikahannya. Mereka lebih memilih untuk berhenti bekerja agar bisa tetap  fokus pada keluarganya (Anita, 2005). Disamping itu, kebanyakan wanita  menuntut motif yang lain yang lebih tinggitingkatannya adalah motif psikologis  dan tuntutan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapat. Banyak diantara  wanita yang tidak kalah berhasil bahkan lebih berprestasi daripada kaum pria.
Namun bisakah para wanita menjadi super womenyang sukses dalam  menjalankan peran gandanya jika kemudian statistik menunjukkan angka  kriminalitas, perceraian, perselingkuhan meningkat dikarenakan terabaikannya  keluarga sebagai basis pendidikan moral yang utama (Karyatie, 2006).
Artikel yang berjudul "sesungguhnya pada setiap kesulitan terdapat  kemudahan" (2007), Biru menceritakan tentang kisahnya yang mempunyai ibu  seorang pekerja keras:  “Ibu seorang pekerja keras, semenjak remaja masa hidupnya ia gunakan  untuk bekerja. Setiap harinya hanya digunakan untuk bekerja, bekerja dan   xvii bekerja. Bahkan untuk ukuran seorang perempuan, pekerjaan yang ia  lakukan lebih pantas dilakukan seorang  laki-laki. Selama dalam ikatan  pernikahan ibuku sepertinya menjadi semakin workaholic, ibu semakin  sibuk dengan pekerjaannya dan bepergian ke luar daerah hingga berbulanbulan menjadi kegiatan rutinnya. Aku dan adikku yang ketika itu masih  kecil selalu dititip dan dirawat dengan dua orang babysitter-ku. tak dapat  dielakan setelah terjadi beberapa kali pertengkaran akhirnya ibuku meminta  cerai dari ayah. Perceraian itu tak dapat dihindari, aku dan adikku yang pada  saat itu menjadi korban yang menanggung paling berat akibatnya. “  Penuturan diatas dapat disimpulkan bahwa dengan kesibukan seorang ibu  yang bekerja bisa mengganggu keharmonisan keluarga, sampai mengarah ke  perceraian. Hal ini sesuaidengan yang dikemukakan oleh Hastomo (2007) bahwa  ibu yang bekerja memiliki pengalaman perceraian yang lebih sering.
 Dilihat dari fenomena diatas dengan meningkatnya jumlah wanita  berperan ganda hal akan menimbulkan banyak kemungkinan meningkatnya  permasalahan rumah tangga. Dua peran antara dirumah dan di pekerjaan yang  berbeda bisa mengarah pada munculnya konflik peran ganda.
 Greenhause dan Beutell (dalam David, 2003) mendefinisikan konflik  peran ganda adalah salah satu bentuk konflik antar peran dimana tekanan-tekanan  dari pekerjaan dan keluarga satu sama lain tidak saling cocok. Hal ini terjadi jika  permintaan satu peran mengganggu seseorang dalam berpastisipasi atau  melakukan performansi peran yang lainnya Selanjutnya Noor (2002)  menambahkan ketika seseorang menggunakan waktu dan energi yang berlebihan  terhadap peran bekerja maka peran dalam keluarga akan mengalami kesulitan, dan  begitu juga sebaliknya, ketika seseorang menggunakan waktu yang berlebihan dan  energi terhadap peran dalam keluarga maka peran bekerja akan mengalami  kesulitan.
 xviii Hammer et al. (dalam Noor, 2002) menyatakan meskipun antara pria dan  wanita bisa mengalami konflik peran antara keluarga dan  pekerjaan, wanita  memiliki lebih banyak konflik dari pada pria. Konflik antara permintaan kerja dan  peran keluarga meningkat hanya terjadi pada wanita, mulai dari perannya dalam  mengatur rumah tangga, rumah dan anak-anak.
Simon (2002) menyatakan pengalaman konflik pada wanita bekerja  merupakan hal yang kompleks. Ibu bekerja mempunyai tanggung jawab ganda  pada peran-peran mereka sebagai ibu, pekerja, dan istri. Matlin (2004)  menambahkan bahwa pekerjaan dapat mempengaruhi tiga komponen dari  kehidupan ibu bekerja, yaitu pernikahan, anak, dan penyesuaian diri. Wanita  sering kali mendapat ketidakadilan dalam pembagian tugas rumah tangga. wanita  lebih sering memasak, mencuci baju, mencuci piring dan belanja dari pada pria.
Berkenaan dengan pengasuhan anak, Rini (2002) menyatakan bahwa puncak  masalah biasanya dialami oleh para ibu bekerja yang mempunyai anak kecil yaitu  balita atau batita. Semakin kecil usia anak, maka semakin besar tingkat stres yang  dirasakan. Rasa bersalah karena meninggalkan anak untuk seharian bekerja,  merupakan persoalan yang sering dipendam oleh para ibu yang bekerja.
Ada beberapa fenomena mengapa konflik peran lebih dirasakan oleh kaum  wanita daripada lelaki. Pertama, ditinjau dari sifat permintaan peran. Moen (dalam  Hardyastuti, 2001) mengatakan bahwa sifat permintaan peran kerja dan peran  keluarga bagi wanita adalah serentak (simultaneous roles), sedangkan peran yang  harus dilakukan lelaki lebih bersifat berurutan (sequential roles). Peran yang  bersifat serentak memerlukan skala prioritas, sedangkan peran yang berurutan   xix dapat dilakukan sesuai dengan kepentingan sendiri. Prioritas peran ini bisa  menimbulkan konflik jika tidak sesuai dengan harapan dari pelakunya. Kedua,  pembagian kerja secara seksual di dalam rumah yang tidak seimbang. Wanita  masih mempunyai tanggung jawab yang lebih tinggi terhadap peran di rumah,  baik sebagai orang yang melakukan pekerjaan rumah tangga maupun sebagai ibu  dan peran ini tidak berkurang walaupun mereka bekerja (Hochschild et al. dalam  Hardyastuti, 2001). Dikatakan oleh Ray dan Miller (dalam Hardyastuti, 2001)  bahwa penggunaan waktu untuk wanita dan lelaki tidak sama. Pada umumnya  wanita mengintegrasikan antara kepentingan profesi, individu, dan keluarga,  sedangkan lelaki secara tradisi menggunakan kepentingan pribadi untuk  mendukung kepentingan profesinya. Ketiga, lelaki memisahkan urusan kerja dan  rumah, artinya lelaki menganggap bahwa persoalan di rumah bukan urusannya  maka dari itu ia menganggap hal itu merupakan urusan wanita (dalam  Hardyastuti, 2001).


Skripsi Psikologi:Hubungan Self Efficacy Bekerja Dan Keluarga Dengan Tingkat Konflik Peran Ganda
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI

Bab I
Download 
 Bab II
 Download 
 Bab III - V
 Download 
Daftar Pustaka
 Download 
Lampiran
Download