Skripsi Psikologi:Hubungan Persepsi Terhadap Rotasi Kerja Dengan Semangat Kerja


BAB I PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG MASALAH Organisasi terdiri dari sejumlah anggota yang masing-masing  berkontribusi dan berupaya untuk mencapai tujuan organisasi melalui kedudukan  dan peran mereka dalam organisasi. Suatu organisasi dapat terbentuk melalui  usaha perorangan atau sekelompok orang yang kemudian berkembang seiring  perkembangan organisasi (Munandar, 2001).
 Dengan industrialisasi dan penerapan teknologi dalam industri, tumbuh  berbagai macam pekerjaan yang memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang  sangat beragam, dari pengetahuan dan keterampilan yang sederhana sampai  pengetahuan dan keterampilan yang sangat kompleks, yang  memerlukan  pendidikan dan pelatihan khusus (Munandar, 2001).

 Kondisi tersebut menuntut perusahaan sebagai organisasi untuk  menyiapkan sumber daya manusia yang unggul karena sumber daya manusia  memegang peranan yang sangat penting bagi sebuah organisasi untuk mencapai  tujuannya. Peranan di sini diartikan sebagai bentuk kemampuan secara maksimal  yang mencakup seluruh aktifitas yang ada dalam organisasi, mulai dari  perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan kegiatan, sampai pada evaluasi hasil  kegiatan (Mukaffi, 2010).
 Sumber daya manusia menyangkut manusia yang mampu bekerja untuk  memberikan jasa atau usaha kerja. Mampu bekerja berarti mampu melakukan  kegiatan yang mempunyai nilai ekonomis, yaitu bahwa kegiatan tersebut  menghasilkan barang dan atau jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia  (Sumarsono, 2003).
 Menurut Muchlas (2005) perusahaan harus dapat mengatur dan  memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh karyawannya yang berupa akal budi,  motivasi, perasaan dan keinginan-keinginan karyawan untuk menggerakkan  sumber daya yang ada sesuai dengan batas kemampuannya untuk mencapai tujuan  produksi. Moeheriono (2009) menambahkan bahwa salah satu faktor yang paling  penting dan mampu menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi  adalah faktor sumber daya manusia. Dengan kata lain, bagaimana perusahaan  mendayagunakan sumberdaya manusia yang dimiliki secara tepat  (Sastrohadiwiryo, 2003).
 Menurut Kossen (1993) faktor manusia memegang peranan penting dalam  keberhasilan proses kerja untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, salah  satunya yaitu semangat atau gairah kerja. Nitisemito (1982) menambahkan bahwa  seorang karyawan tidak akan terlepas dari semangat dan kegairahan kerja dalam  melaksanakan kegiatan kerjanya, dengan demikian karyawan tersebut akan  mampu melaksanakan pekerjaan dengan baik.
 Semangat kerja adalah dorongan yang menyebabkan individu melakukan  pekerjaan secara lebih giat, sehingga diharapkan lebih cepat dan lebih baik.
 Sedangkan yang dimaksud dengan kegairahan kerja adalah kesenangan yang  mendalam terhadap pekerjaan yang dilakukan. Semangat dan kegairahan kerja  sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan (Nitisemito,  1982).
 Peningkatan produktivitas kerja akan tercapai apabila karyawan memiliki  semangat kerja yang tinggi. Karyawan yang memiliki semangat kerja yang tinggi  akan bekerja dengan energik, antusias, dan penuh dengan kemauan untuk  menyelesaikan pekerjaannya. Karyawan yang memiliki semangat kerja yang  rendah akan merasakan kebosanan dan malas dalam bekerja, sehingga mereka tidak bergairah untuk menyelesaikan pekerjaannya (Carlaw, Deming dan  Friedman, 2003).
 Menurut Halsey (2003) dan Nitisemito (1982) terdapat beberapa faktor  yang mempengaruhi semangat kerja karyawan, salah satunya yaitu adanya  kesempatan yang diberikan perusahaan kepada para karyawan untuk berkembang.
 Dengan kata lain karyawan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan  keahlian.
 Menurut Nitisemito (1982) setiap perusahaan harus selalu berusaha agar  para karyawannya mempunyai semangat dan kegairahan kerja yang tinggi, sebab  apabila perusahaan mampu meningkatkan semangat dan kegairahan kerja maka  akan diperoleh banyak keuntungan, pekerjaan akan lebih cepat diselesaikan,  kerusakan dapat dikurangi, absensi dapat diperkecil, kemungkinan perpindahan  karyawan dapat diperkecil seminimal mungkin, sehingga produktivitas dan kinerja  karyawan dapat ditingkatkan.
 Kinerja karyawan dapat mengalami fluktuasi. Kondisi ini dihubungkan  dengan terlalu lamanya seseorang dalam periode kerja di satu unit atau di satu  pekerjaan saja.  Hal ini mengakibatkan timbulnya kebosanan dan bahkan  kejenuhan di kalangan para karyawan. Dalam konteks pengembangan sumber  daya manusia kondisi seperti itu tidak sehat (Mangkuprawira, 2009).
 Departemen sumber daya manusia memiliki peranan yang sangat penting  dalam membangun dan meningkatkan nilai sumber daya manusia, dengan  demikian perlu dikembangkan program yang mampu mengkaitkan kontribusi  karyawan dengan kesuksesan organisasi sehingga tercipta integrasi yang kuat  antara karyawan dan organisasi. Program yang dilaksanakan diharapkan mampu  menciptakan kualitas kehidupan kerja yang mendorong semangat kerja karyawan  sehingga dapat memaksimalkan kontribusinya dalam pencapaian sasaran  organisasi (Ekowati, 2009).
 Walton (dalam Kossen, 1993) mendefinisikan kualitas kehidupan bekerja  sebagai persepsi karyawan terhadap suasana dan pengalaman pekerja di tempat  kerja mereka. Suasana pekerjaan yang dimaksudkan berdasarkan pada delapan  kriteria, yaitu : kompensasi yang mencukupi dan adil, kondisi-kondisi kerja yang  aman dan sehat, kesempatan untuk mengembangkan dan menggunakan kapasitas  manusia, peluang untuk pertumbuhan dan mendapatkan jaminan, integrasi sosial  dalam organisasi pekerjaan, hak-hak karyawan, pekerja dan ruang hidup secara  keseluruhan, dan tanggung jawab sosial organisasi.
 Upaya untuk mengembangan sumber daya manusia dapat berlangsung di  dalam dan di luar perusahaan. Terdapat beberapa bentuk pengembangan yang  dilaksanakan di dalam perusahaan, salah satunya adalah rotasi kerja (Panggabean,  2004). Menurut Kossen (1987) rotasi kerja merupakan perpindahan individu ke  pekerjaan yang berbeda pada level organisasi yang sama untuk satu periode  waktu.
 Menurut Noe dkk (2003) rotasi kerja merupakan proses perpindahan  individu yang secara sistematis dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain dalam satu  waktu. Penempatan atau perpindahan pekerjaan dapat dilakukan dalam area yang  berbeda-beda dalam suatu perusahaan, atau dapat juga dilakukan dalam satu area  pekerjaan atau departemen. Spitzmuller dan Sady (2006) menambahkan bahwa  dengan adanya perpindahan yang sistematis pada karyawan memungkinkan  karyawan untuk terhindar dari kejenuhan dan meningkatkan keahliannya.
 Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ortega (2001) menunjukkan bahwa  rotasi kerja terbukti efektif dalam meningkatkan produktifitas karyawan dalam hal  mengurangi kejenuhan dan meningkatkan motivasi karyawan. Hasil penelitian  yang dilakukan oleh Cheraskin dan Champion (1996) juga menunjukkan bahwa  dengan dilaksanakannya rotasi kerja maka kepuasan kerja serta motivasi kerja  para karyawan dapat meningkat.
 Ortega dan Eriksson (2006) menyatakan bahwa rotasi kerja merupakan  cara yang efektif untuk mengembangkan kemampuan karyawan, rotasi kerja  membantu pemimpin perusahaan untuk mengenali kemampuan karyawan dimana  informasi  ini dapat digunakan dalam menetapkan keputusan promosi pada  karyawan, rotasi kerja juga membantu mengurangi kebosanan karyawan dalam  berkerja karena karyawan akan berpindah dari satu jenis pekerjaan ke jenis  pekerjaan yang lain dalam periode waktu tertentu. Hal ini akan membuat  karyawan terhindar dari rasa kejenuhan dan tetap memiliki semangat kerja.


Skripsi Psikologi:Hubungan Persepsi Terhadap Rotasi Kerja Dengan Semangat Kerja
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI

Bab I
Download 
 Bab II
 Download 
 Bab III - V
 Download 
Daftar Pustaka
 Download 
Lampiran
Download