BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Setiap aktivitas yang terjadi di dalam
perusahaan melibatkan penggunaan dana.
Dana dapat diperoleh dari sumber intern maupun ekstern perusahaan yang tentunya tidak terlepas dari peran manajer
keuangan. Dana yang diterima dari sumber
intern perusahaan, yaitu sumber dana yang dibentuk atau dihasilkan sendiri di dalam perusahaan, misalnya dana
yang berasal dari keuntungan yang tidak
dibagikan atau keuntungan yang ditahan di dalam perusahaan (retained earnings). Dana dari sumber ekstern
perusahaan, yaitu sumber dana yang berasal dari tambahan penyertaan modal dari pemilik
atau emisi saham baru, penjualan obligasi,
kredit dari bank. Upaya perolehan dan penggunaan dana, manajer keuangan akan terlibat secara langsung dalam
perencanaan dan pengendalian penggunaan
dana. Penggunaan dana berasal dari sumber intern atau ekstern merupakan alternatif yang memerlukan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Alternatif yang dipilih sebaiknya
memberikan implikasi yang baik pada
struktur modal perusahaan.
Modal dalam struktur perusahaan,
baik badan usaha swasta atau negara, akan signifikan terhadap kebijakan-kebijakan
struktural kelembagaan di samping mekanisme
dan fungsi operasional. Modal berfungsi tidak hanya sebagai unsur pada faktor produksi, namun juga sebagai
manifestasi pertumbuhan dan pertambahan atas aset-aset perusahaan yang terkait langsung
dengan fungsi kepemilikan serta fungsi fungsi
lain sebagai hak (Mudawam, 2008:2). Peran aktif dari manajemen diperlukan dalam pencapaian tujuan perusahaan yang dalam
pelaksanaannya menemui berbagai benturan
kepentingan baik antara pihak intern maupun antara intern dengan ekstern lingkungan perusahaan guna mengupayakan
pertumbuhan perusahaan yang kontinyu dan
berkesinambungan.
Struktur modal merupakan
perimbangan antara penggunaan modal pinjaman yang terdiri dari: utang jangka pendek yang
bersifat permanen, utang jangka panjang
dengan modal sendiri yang terdiri dari: saham preferen dan saham biasa (Sjahrial, 2007:213). Tujuan manajemen
struktur modal adalah memadukan sumber
dana permanen yang digunakan perusahaan dengan cara yang akan memaksimumkan harga perusahaan. Tujuan ini
bisa dipandang sebagai pencarian terhadap paduan dana yang akan meminimumkan campuran
biaya modal perusahaan.
Struktur modal perlu diperhatikan
karena bauran pendanaan (financing mix) mempengaruhi
nilai perusahaan secara langsung (Lukas 1999:267). Hal ini memotivasi manajemen perusahaan untuk mencari
suatu struktur modal yang optimal untuk
perusahaannya. Struktur modal yang optimal dapat diartikan sebagai struktur modal yang dapat meminimalkan
biaya penggunaan modal keseluruhan atau
biaya modal rata-rata sehingga memaksimalkan nilai perusahaan. Struktur modal yang optimal dapat
berubah sewaktu-waktu, perubahan ini
dapat mempengaruhi tingkat risiko dan biaya dari setiap jenis modal, yang pada gilirannya mengubah biaya
modal rata-rata tertimbang. Lebih lanjut,
perubahan ini juga mempengaruhi keputusan penganggaran modal yang akhirnya, mempengaruhi harga saham perusahaan
(Brigham, 2001:5). Penentuan komposisi
struktur modal optimal bukan hal yang mudah dan bukan merupakan ilmu pasti. Maka terdapat perbedaan struktur
modal antar perusahaan sekalipun bergerak
dalam bidang industri yang sama.
Profitabilitas adalah kemampuan
perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya
dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Pada umumnya, perusahaan-perusahaan yang memiliki
tingkat keuntungan tinggi memiliki
tingkat hutang yang relatif kecil (Lukas, 1999:274). Hal ini dikarenakan tingkat keuntungan yang tinggi memungkinkan
perusahaan untuk memperoleh sebagian
besar pendanaan dari laba ditahan.
Perusahaan besar yang sudah well
established akan lebih mudah memperoleh modal
di pasar modal disbanding dengan perusahaan kecil. Karena kemudahan akses tersebut berarti perusahaan besar
memiliki fleksibilitas yang lebih besar pula.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Zelia Maria Silva dan Marcia Cristina Rego mengenai penyesuaian tingkat
hutang terhadap perusahaan Portugis yang
go public membuktikan bahwa strukutr aktiva dan ukuran perusahaan lebih relevan menentukan tingkat hutang optimal
daripada profitabilitas.
Risiko bisnis adalah risiko di
mana perusahaan tidak dapat menutup biaya operasionalnya (Sundjaja, 2002:243). Umumnya
semakin besar “pengaruh operasi”
perusahaan dengan “penggunaan biaya tetap” akan semakin tinggi risiko bisnisnya. Tingkat risiko bisnis dianggap
telah tertentu. Perusahaan dengan risiko bisnis yang tinggi cenderung mempunyai
strukutr modal dengan “pengaruh” yang lebih
rendah daripada perusahaan dengan perusahaan yang memiliki risiko bisnis yang rendah.
Struktur aktiva adalah
perbandingan antara hutang jangka panjang perusahaan (long term debt) dengan total aktiva (total
asset) (Arief Susetyo, 2006). Aktiva dapat
digunakan sebagai agunan hutang, karenanya perusahaan yang memiliki aktiva tetap dalam jumlah besar dapat
menggunakan hutang dalam jumlah besar (Sartono,
2004:248).
Beberapa hal yang menyebabkan
melemahnya pertumbuhan sektor manufaktur:
pertama, upaya untuk membangkitkan sektor ini memerlukan adanya peningkatan permintaan untuk barang-barang
industri sedangkan konsumen domestik
masih berada pada tahap awal untuk hal ini. Kedua, masih sangat sedikitnya
perusahaan yang mengambil insiatif mengembangkan kapasitas produksi yang ada melalui investasi. Ketiga,
masih lemahnya fungsi intermediasi perbankan.
Pertumbuhan kredit perbankan di tahun 2006 justru lebih banyak ditopang oleh pertumbuhan kredit konsumtif,
bukannya kredit investasi atau modal
kerja. Kemudian, masalah buruh juga menjadi salah satu faktor terkendalanya pertumbuhan sektor manufaktur.
Perusahaan harus mempertimbangkan dengan
matang mengenai pesangon yang ditanggung. Bank Indonesia dalam upayanya mengendalikan inflasi
dengan menaikkan suku bunga acuan justru
berakibat pada melonjaknya suku bunga kredit yang menyulitkan sektor riil mendapatkan akses kredit moda
kerja. Kondisi ini secara langsung menekan
penjualan di industri automotive dan
property nasional. Berikut disajikan tabel pertumbuhan industri
2005-2008: Tabel 1.
Pertumbuhan Industri Indonesia Periode
2005-2008 No. Cabang Industri Pertumbuhan (%) 2005 2006
2007 1.
Makanan,minuman dan tembakau 2,75 7,22
5,05 3, 2. Tekstil, barang kulit dan alas kaki 1,31
1,23 (3,68) 0, 3.
Barang kayu dan hasil (0,92) (0,66)
(1,74) 1, hutan 4.
Kertas dan barang cetakan
2,39 2,09 5,79
0, 5. Pupuk, kimia dan barang dari karet 8,77 4,48
5,69 3, 6. Semen dan bahan galian non logam 3,81
0,53 3,40 0, 7.
Logam dasar, besi dan baja
(3,70) 4,73 1,69
3, 8. Alat angkut, mesin dan peralatan 12,38 7,55
9,73 14, 9. Barang lainnya 2,61
3,62 (2,82) 14, Sumber: Laporan Pengembangan Sektor
Industri Tahun Pada Tabel 1.1 di atas
terlihat bahwa pada tahun 2007, untuk beberapa cabang industri mengalami peningkatan persentase
pertumbuhan, hal ini dipercaya karena
upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas makro ekonomi di tahun tersebut dinilai cukup berhasil.
Perusahaan yang bergerak dalam
bidang usaha apapun perlu memperhatikan
struktur modal karena bauran pendanaan (financing mix) mempengaruhi nilai
perusahaan secara langsung (Atmaja, 1999:267). Struktur modal merupakan perimbangan antara penggunaan
modal pinjaman yang terdiri dari: utang
jangka pendek yang bersifat permanen, utang jangka panjang, saham preferen dan saham biasa (Hadianto 2007).
Skripsi Manajemen:Pengaruh Profitability, Firm Size, Business Risk dan Asset Tangibility Terhadap Struktur Modal
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI
Bab I
|
Download
| |
Bab II
|
Download
| |
Bab III - V
|
Download
| |
Daftar Pustaka
|
Download
| |
Lampiran
|
Download
|
