BAB I PENDAHULUAN
1.1. Umum Konstruksi bangunan
dimasa sekarang ini
telah mengalami kemajuan
dan peningkatan yang
pesat. Hal ini
dilihat dengan semakin
banyaknya bermunculan perubahan perubahan dari segi pembangunan yang telah menuju kearah yang lebih baik. Seperti halnya struktur kayu yang sudah
digantikan pemakaiannya oleh struktur baja, begitu
juga dengan pemakaian
beton yang sudah
mengalami perkembangan dengan dipakainya beton pra tegang (prestress)
pada berbagai jenis bangunan seperti pembangunan jembatan,
apartemen, hotel, gedung-gedung bertingkat
untuk perkantoran serta bangunan
lainnya.
Pada konstruksi bangunan-bangunan
tersebut, biasanya digunakan pemakaian bahan-bahan
seperti : beton, besi, baja, kayu, dan bahan-bahan pelengkap lainnya.
Beton memiliki
peranan penting yang
menjadi dasar dari
sebuah konstruksi bangunan.
Bahan dasar dari
beton ini terdiri
dari agregat kasar
ditambah dengan agregat
halus dan dicampur
dengan semen. Apabila
beton diberi tulangan,
maka disebut beton bertulang,
sehingga beton yang tadinya memiliki kekuatan tarik rendah menjadi beton yang memiliki kekuatan tarik
yang diperlukan.
Seiring dengan
perkembangan teknologi dan
semakin banyaknya para
ahli yang berupaya
untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang
dimiliki beton bertulang maka pada tahun 1886, beton
prategang mulai ditemukan dan diterapkan pertama
kali oleh P.H.
Jackson dari California,
Amerika Serikat. Pada
tahun 1886 Universitas Sumatera Utara telah dibuat hak
paten dari konstruksi beton prategang yang dipakai untuk pelat dan atap. Pada waktu yang hampir bersamaan yaitu
pada tahun 1888, C.E.W. Doehting dari
Jerman memperoleh hak paten untuk memprategang pelat beton dari kawat baja, tetapi
gaya prategang yang
diterapkan dalam waktu
yang singkat menjadi
hilang karena rendahnya
mutu dan kekuatan
baja. Permasalahan ini
akhirnya diselesaikan dan disempurnakan oleh Eugen Freyssinet dari
Prancis, dimana ia telah menemukan pentingnya kehilangan
gaya prategang dan
usaha untuk mengatasinya,
hingga kemudian pada
tahun 1940 diperkenalkan
system prategang yang
pertama dengan bentang 47 meter di Philadelphia (Walnut Lane
Bridge). Dalam bidang teknik sipil ia dipandang telah
berjasa karena telah
memperkenalkan dan mengembangkan
kawat baja berkekuatan tinggi
disamping beton mutu tinggi sebagai beton prategang, yang kemudian dipatenkan dan sejak itu penggunaan
system beton prategang berkembang dengan
pesat.
Sistem prategang
ini dapat memperbaiki
kelemahan-kelemahan yang ada pada
beton bertulang seperti terjadinya lendutan dan retak-retak rambut pada beban kerja,
dan disamping itu
juga dapat menambah
efisiensi salam pelaksanaan
kerja.
Pada beton
prategang, peranan tulangan
digantikan dengan suatu
kawat yang dinamakan
tendon. Tendon dan
beton bermutu tinggi
dapat memikul beban
yang sangat besar,
sehingga ukuran dari
bagian penampang struktur
dapat diperkecil sehingga menjaikannya lebih ekonomis.
Struktur beton
pratrgang didefenisikan sebagai
suatu system struktur
beton khs dengan
cara memberikan tegangan
awal tertentu pada
komponen sebelum digunakan untuk mendukung beban luar sesuai
dengan yang diinginkan.
Universitas Sumatera Utara Dalam perkembangannya struktur
beton prategang diklasifikasikan menjadi dua
yakni; system pra-tarik
(pre-tension) dan system
pasca-tarik (post-tension).
System pre-tension berarti
penarikan baja dilakukan terlebih dahulu, kemudian beton mulai
dicor. Sedangkan system
post-tension berarti penarikan
baja yang dilakukan setelah
beton dicor dan
mengeras. Menurut pemberian
gaya prategangnya, beton prategang diklasifikasikan menjadi
full prestressing dan
partial prestressing. Full prestressing berarti,
pemberian tegangan dilakukan
secara penuh dan
tidak boleh adanya
tegangan tarik pada
penampang, sedangkan pada
partial prestressing, pemberian
tegangan dilakukan sebagian
dan diperbolehkan adanya tegangan
tarik sampai batasan yang telah
ditentukan, dimana pada partial prestressing ini diperluakn pemasangan beberapa tulangan baja.
Perkembangan historis beton
prategang sebenarnya dimulai dengan cara yang berbeda
dimana gaya prategang
yang dibuat hanya
ditujukan untuk menciptakan tekan permanen pada beton guna memperbaiki
kekuatan tariknya. Kemudian menjadi lebih jelas
bahwa memberikan gay
gaya prategang pada
baja juga penting
untuk pemanfaatan baja
mutu tinggi yang
efisien. Memberikan gaya
prategang berarti membuat
tegangan yang permanen
didalam struktur dengan
tujuan memperbaiki perilaku dan kekuatannya pada bermacam-macam
pembebanan.
Sistem prategang
yang digunakan pada
baja atau beton,
tujuan pokoknya adalah untuk menimbulkan tegangan atau
regangan yang dikehendaki pada struktur, dan untuk mengimbangi tegangan dan regangan
yang tidak dikehendaki. Pada beton prategang, baja
sebelumnya ditarik terlebih
dahulu untuk mencegah
terjadinya pemanjangan yang
berlebihan pada saat pembebanan, sementara beton ditekan untuk mencegah retak-retak akibat tegangan tarik.
Universitas Sumatera Utara 1.2. Permasalahan Beton
adalah suatu bahan
yang mempunyai kekuatan
yang tinggi terhadap tekan,
tetapi sebaliknya mempunyai
kekuatan relatif sangat
rendah terhadap tarik, hal
ini menyebabkan beton
memiliki kelemahan jika
digunakan pada struktur berbentang yang terlalu panjang.
Pada saat
ini, aplikasi penggunaan
beton bertulang pada
bentang-bentang yang panjang
biasanya menggunakan beton yang telah mengalami perubahan ukuran dimensi
pada penampangnya menjadi
lebih besar, hal
ini disebabkan karena
beton yang berukuran
langsing tidak dapat
menahan beban pada
bentang yang terlalu panjang, sehingga ukuran beton ditambah dan
mengakibatkan bertambahnya volume beton tersebut
sehingga berat sendirinya
akan menjadi lebih
besar dan akan menghasilkan lendutan
yang besar pula.
Hal ini menyebabkan
Beton tidak bekerja secara
efektif didalam penampang-penampang struktur
beton bertulang, hanya bagian tertekan
saja yang efektif
bekerja, sedangkan bagian
beton yang retak dibagian
tertarik tidak bekerja efektif dan hanya merupakan beban mati yang tidak bermanfaat.
Hal inilah
yang menyebabkan tidak
dapatnya diciptakan struktur-struktur beton
bertulang dengan bentang
yang panjang secara
ekonomis, karena terlalu banyak
beban mati yang
tidak efektif. Disamping
itu, retak-retak disekitar
baja tulangan bisa berbahaya bagi
struktur karena merupakan tempat meresapnya air dan udara
luar kedalam baja
tulangan sehingga terjadi
karatan. Putusnya baja
tulangan akibat karatan
berakibat fatal bagi
struktur. Oleh karena
itu penggunan beton bertulang untuk
bentang-bentang yang terlalu
panjang dinilai kurang
efisien dan Universitas Sumatera Utara dipandang tidak
ekonomis. Dengan kekurangan-kekurangan yang
dirasakan pada struktur
beton bertulang seperti
yang telah diuraikan
maka timbul gagasan
untuk menggunakan kombinasi-kombinasi bahan
beton secara lain,
yaitu dengan memberikan
pratekanan pada beton
melalui kabel baja
(tendon) yang ditarik
atau biasa disebut
beton pratekan. Beton
pratekan ini kemudian
menjadi salah satu alternative yang
paling tepat digunakan
untuk struktur berbentang
panjang sebagai bahan pengganti beton bertulang.
Skripsi Civil Engineering:Perbandingan Perancangan Prestressed Concrete dengan Reinforced Concrete pada Suatu Rangka Portal Statis Tak Tentu
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI
Bab I
|
Download
| |
Bab II
|
Download
| |
Bab III - V
|
Download
| |
Daftar Pustaka
|
Download
| |
Lampiran
|
Download
|
