BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Baja merupakan salah satu material konstruksi
yang sering digunakan dalam konstruksi
baik sebagai kolom dan balok pada bangunan bertingkat, jembatan, menara, rangka
atap dan berbagai
konstruksi sipil lainnya.
Sekitar akhir abad
ke-18 dan permulaan abad ke-19, besi tuang dan besi
tempa sudah mulai banyak digunakan untuk pembuatan struktur jembatan. Jembatan Lengkung
Coalbrookdale yang dibangun oleh Abrahan Darby
III di Inggris
adalah jembatan pertama
yang terbuat dari
besi tuang.
Segera setelah
tahun 1840, besi
tempa mulai menggantikan
besi tuang. Penggunaan besi tempa pada bangunan konstruksi sipil yang
pertama adalah Jembatan Brittania di atas selat
Menai, Wales yang
dbaangun pada 1846-1850.
Pada abad ke-19,
muncul material baru
yang dinamakan dengan
baja yang merupakan
logam perpaduan antara besi
dan karbon. Pada
tahun 1870, baja
karbon mulai berkembang
pesat dan secara perlahan menggantikan besi tuang dalam
konstruksi sipil.
Pada masa
dimana komputer belum
berkembang pesat, pembangunan konstruksi sipil masih menggunakan perhitungan
manual sehingga banyak menghambat pembangunan konstruksi
yang rumit. Namun
meskipun masih menggunakan
tenaga manual, ternyata manusia juga
sanggup membangun konstruksi baja yang sangat rumit.
Salah satu
konstruksi baja yang
rumit yang berhasil
dibangun dan bertahan
sampai dengan saat ini adalah
menara Eiffle di Paris yang berhasil dibangun dalam waktu yang cukup singkat yaitu tahun 1887-1889 dengan
rangkaian lebih dari 18.000 buah besi.
Pada era
globalisasi sekarang ini,
teknologi komputer sudah
sangat berkembang pesat.
Komputer yang dulunya
berukuran besar, sekarang
sudah sangat efisien
untuk dibawa kemana-mana.
Perangkat lunak juga
semakin berkembang baik fungsi
maupun grafis sehingga tidak dapat dielakkan bahwa pada jaman ini, komputer merupakan alat bantu yang sangat berguna bagi
semua lapisan masyarakat baik pelajar, pebisnis
dan tak terkecuali seorang insinyur sehingga hal tersebut harus menjadi suatu titik
terang positip yang
wajib disambut baik
oleh para insinyur
sipil. Telah tersedia begitu banyak perangkat lunak yang dapat
membantu perhitungan dan perencanaan di 2 bidang
teknik sipil seperti SAP2000, ETABS, STAADPRO, ANSYS, ABAQUS, dsb sehingga human errordalam perhitungan manual
dapat diminimalisir.
Dengan berkembangnya
teknologi komputer tersebut,
maka semakin banyak pula
insinyur sipil yang
mulai beralih dari
metode perhitungan manual
ke metode perhitungan dengan teknologi komputer sehingga
perhitungan dapat dilakukan dengan waktu yang
relatif singkat dan
dapat menghindari terjadinya
human error dalam perhitungan secara
manual sehingga perhitungan
manual yang sangat
kompleks bisa disederhanakan
melalui perangkat lunak.
Namun perlu digaris
bawahi bahwa jika pengguna
perangkat lunak tersebut TIDAK MENGUASAI perangkat lunak yang akan dia pakai, maka hal tersebut juga akan
menghasilkan human erroryang dapat berakibat fatal. Maka dari itu, manusia selalu harus
mempunyai mental untuk selalu tidak lelah dalam
mempelajari sesuatu hal
yang baru selama
berada di dunia
ini terutama untuk para
akademisi dan tak terkecuali dalam dunia konstruksi. Jadi meskipun sudah banyak
beredar
perangkat lunak canggih
yang dapat membantu
perencanaan konstruksi, jika manusia tidak
mau mempelajari dan
menguasai perangkat lunak
tersebut, perangkat lunak
tersebut juga tidak
dapat memberikan bantuan
apa-apa. Dalam menggunakan perangkat lunak, yang dituntut bukanlah
seberapa canggihnya program tersebut, tetapi yang dituntut adalah penguasaan ilmu dari
pengguna yang program tersebut.
Ibarat sebuah
senjata sederhana yang
dipegang oleh tentara
terlatih dengan senjata
canggih yang dipegang
oleh orang awam,
sangat cocok sekali
untuk mengibaratkan sebuah
perangkat lunak sederhana
yang dikendalikan oleh
seseorang yang sangat menguasai
perangkat lunak tersebut dengan perangkat lunak super canggih yang
dikendalikan oleh orang
awam. Pepatah singkat
yang sangat cocok
untuk menggambarkan hal di atas
adalah “the man behind the gun” yang
penulis kutip dari salah satu buku
karangan bapak Wiryanto Dewobroto.
Sudah menjadi
rahasia umum bahwa
developer perangkat lunak
tidak ikut bertanggung
jawab untuk setiap
kesalahan yang timbul
akibat dari pemakaian perangkat lunak yang tidak didasarkan teori
dasar dan penguasaan terhadap perangkat lunak
tersebut. Hal ini dapat dilihat dari kutipan disclaimeryang dinyatakan pada
setiap manual perangkat lunak. Jadi bisa
disimpulkan bahwa perangkat lunak super canggih yang sudah beredar di pasaran, tidak dapat
menggantikan seorang ahli konstruksi yang benar-benar menguasai bidangnya. Perangkat
lunak hanyalah sebuah alat bantu untuk 3
para insinyur. Maka dari itu, pengguna
perangkat lunak dalam hal iniadalah insinyur dituntut untuk menguasai betul-betul perangkat
lunak yang akan digunakan. Selain itu, juga
harus memahami asumsi-asumsi dasar analisis, memahami perilaku struktur yang sebenarnya dan mampu membuat model struktur
dan validasi hasilnya.
Pada saat
ini, perangkat lunak
yang beredar sudah
dapat digunakan sebagai alat
bantu dalam perencanaan
sipil baik konstruksi
beton maupun konstruksi
baja.
Konstruksi baja merupakan salah
satu pilihan favorit sebagai material struktur di dunia.
Namun untuk
Indonesia sendiri, penggunaan
material baja sebagai
bahan konstruksi ternyata
masih kalah populer
dibandingkan dengan beton.
Seringnya struktur baja digunakan
untuk pembangunan pabrik-pabrik, gudang-gudang maupun gedung-gedung besar. Untuk kota Medan sendiri, kebanyakan
konstruksi baja digunakan untuk gedung olahraga
futsal. Ruko (red:rumah toko) yang menjamur di kota Medan tempat kelahiran penulis dapat diestimasi secara kasar 90
persen menggunakan konstruksi beton. Padahal menurut hemat penulis, jika digunakan
konstruksi baja, pembangunan akan lebih ramah lingkungan dikarenakan konstruksi baja yang
sudah dibuat terlebih dahulu di workshop.
Yang menjadi pertanyaan besar
adalah, mengapa penggunaan baja masih kalah populer jika dibandingkan dengan beton di Indonesia?
Penulis kemudian mencoba mencari tahu alasannya
dan penulis mendapatkan salah satu alasan yang dikemukakan dalam karya tulis yang ditulis oleh bapak Wiryanto
Dewobroto dalam “Seminar dan Pameran HAKI 2011”
dimana bapak Wiryanto
mendapatkan bahwa sering
dijawab oleh orang-orang pada umumnya dengan jawaban singkat yaitu
“Dikarenakan material baja yang relatif mahal
dibandingkan dengan beton.” Penulis juga
melihat bahwa peraturan baja yang ada di Indonesia juga relatif tertinggal dari mancanegara, apalagi sejak
diterbitkannya peraturan baru oleh American Institute of Steel Construction (AISC) tahun
2010, maka peraturan baja Indonesia yakni SNI 03-1729-2002 semakin relatif tertinggal.
Dan akhir-akhir ini terdengar isu bahwa sudah dilakukan
pembahasan mengenai peraturan
baja yang baru
yang akan berpedoman pada perturan baja AISC 2010.
Jika diamati
secara seksama, pada
peraturan AISC 2010,
terdapat perubahan yang cukup mengejutkan jika dibandingkan
dengan peraturan AISC 2005 yaitu dalam bab perencanaan
stabilitas struktur. AISC
2010 merekomendasikan kepada
para perencana untuk
menggunakan Direct Analysis
Method (DAM) dalam
perencanaan 4 stabilitas
struktur baja yang
berbasis komputer dan
Effective Length Method (ELM), sebuah metode yang sudah sangat dikenal lama,
yang dulunya direkomendasikan pada AISC 2005,
statusnya sudah dipindahkan
ke bab Appendix
sebagai metode alternatif.
Hal ini menjadi suatu tanda tanya
besar pula apa itu Direct Analysis
Method (DAM).
Skripsi Civil Engineering:Kajian Stress Ratio Pada Direct Analysis Method Dan Effective Length Method Sesuai Dengan AISC 2010
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI
Bab I
|
Download
| |
Bab II
|
Download
| |
Bab III - V
|
Download
| |
Daftar Pustaka
|
Download
| |
Lampiran
|
Download
|
