BAB I PENDAHULUAN
1.1 Umum Dalam
dunia Teknik Sipil, pengkajian dan penelitian masalah bahan bangunan masih
terus dilakukan. Kebanyakan
para peneliti telah
bereksperimen dengan penambahan suatu bahan lain
(additive) atau dengan
mensubtitusikan bahan tersebut kedalam campuran
untuk membuat beton
dengan sifat yang
lebih baik, seperti kekuatan
yang lebih tinggi.
Oleh karena itu
masih selalu dicari
dan diusahakan pemakaian
jenis bahan bangunan
dan model struktur
yang ekonomis, mudah diperoleh,
mudah pengerjaannya, mencukupi kebutuhan
/ kekuatan struktur dengan biaya yang relatif murah.
Sifat kimia
dan mekanik beton
telah banyak diteliti
dan berbagai perkembangannya telah
dilakukan untuk memahami
perilaku beton. Pemanfaatan bahan
tambah kimia (Chemical
Admixture) maupun mineral
(Mineral-Admixture) pada
pembuatan beton telah lama
dikembangkan. Bahan tambah ini
ditujukan untuk memperbaiki sifat-sifat beton
segar maupun beton yang dihasilkan.
Bahan tambah kimia seperti
Superplasticizer digunakan untuk
mengurai air pada
campuran beton (Agustiany,Bekti;1998) [Ermiyati,2007] sedangkan Sika-Aer
digunakan untuk memperbaiki kohesi, kepadatan, ketahanan
terhadap serangan sulfat atau air laut.
Beton aditif telah digunakan
sejak zaman Romawi dan Mesir, ketika ditemukan bahwa
abu vulkanik menambah
campuran diizinkan untuk
ditetapkan dalam air.
Demikian pula, Roma tahu bahwa
menambahkan rambut kuda untuk membuat beton lebih kuat dan keras, dan menambahkan darah
beku membuatnya lebih tahan. Seiring dengan
terus berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan tuntutan penggunaan bahan daur ulang/limbah
sebagai bahan beton
yang telah mendapatkan
popularitas karena Undang-Undang lingkungan hidup yang semakin
ketat. Oleh sebab itu diambil suatu contoh
penelitian dalam campuran
beton atau dengan
mensubtitusikan bahan tersebut sebagai campuran beton.
Sektor agribisnis
kelapa sawit di
Indonesia tercatat memiliki
perkembangan yang sangat pesat.
Hal ini terlihat dari luas areal kelapa sawit dari produksi minyak sawit mentah (Crude Palm Oil, CPO) yang terus
mengalami peningkatan sejak tahun 1968
sampai dengan pada saat ini. Pada periode 1968-1997, luas areal kelapa sawit meningkat
hampir 21 kali
lipat, yaitu dari
120.000 ha pada
tahun 1968 menjadi 2.516.079 ha pada tahun 1997. Perkembangan
industri sawit yang terus meningkat akan berdampak pada limbah yang dihasilkan dari pengolahan Tandan Buah Segar (TBS).
Limbah ini adalah
sisa produksi minyak
sawit kasar berupa
tandan kosong, sabut
dan cangkang (batok) sawit. Limbah
padat berupa cangkang
dan sabut digunakan
sebagai bahan bakar
ketel (boiler) untuk menghasilkan
energi mekanik dan panas. Masalah yang kemudian
timbul adalah sisa dari pembakaran pada ketel (boiler) berupa abu
dengan jumlah yang
terus meningkat sepanjang
tahun yang sampai sekarang masih belum termanfaatkan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Graille dkk
(1985) [Google,2010] ternyata
limbah abu sawit
banyak mengandung unsur silika
(SiO ) yang merupakan bahan pozzolanic.
Menurut hasil penelitian (Pratomo, 2001,
dalam Muhardi dkk,
2004) diketahui bahwa
abu kelapa sawit
dari sisa pembakaran cangkang dan serabut buah kelapa
sawit mengandung unsur kimia Silika (SiO2)
sebanyak 31,45% dan
unsur Kapur (CaO)
sebanyak 15,2% [Ermiyati,2007] . Abu sawit yang
akan digunakan dalam
penelitian ini adalah
abu terbang boiler
industri sawit, sisa
pembakaran yang ditangkap
kemudian dikeringkan dan
disaring untuk digunakan sebagai bahan campuran beton. Abu sawit tersebut diperoleh dari
Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT. Perkebunan
Nusantara IV (PTPN IV) yang telah di
analisis terlebih dahulu di laboratorium
Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).
Tabel 1. 1 Komposisi abu sawit
hasil pembakaran serat dan cangkang (%berat) Unsur/Senyawa Serat
Cangkang Klor (Cl) 2,5 1, Magnesium (Mg) 2,3 2,
Kalsium (Ca) 4,9 1, Karbonat (CaO ) 2,6 1,
Nitrogen (N) 0,04 0, Pospat (P)
1,4 0, Silika (SiO ) 59,1 (Sumber: Graille dkk, 1985 dalam Utama dan
Sentosa, 2005) [Google,2010] Berdasarkan
pengamatan secara visual,
abu sawit memiliki
berbagai karakteristik diantaranya,
bentuk partikel abu
sawit tidak beraturan,
ada yang memiliki
butiran bulat panjang,
bulat dan bersegi
dengan ukuran butiran
0-2,3 mm serta
memiliki warna abu-abu kehitaman.
Bertolak dari
alasan diatas, maka
perlu diadakan penelitian
dengan menggunakan Abu Boiler
dari Pabrik Kelapa Sawit ( PKS ) yang sangat melimpah di Indonesia,
khsnya dipulau Sumatera
sebagai bahan campuran
dalam beton.
Pemanfaatan Abu
Boiler ini diharapkan
mampu memperbaiki sifat
beton, limbah padat
PKS ini juga
diharapkan mampu dipergunakan
oleh masyarakat sekitar
PKS sebagai bahan pengganti
maupun bahan campuran dalam konstruksi sehingga dapat meminimalkan pencemaran lingkungan akibat
pemanfaatan limbah tersebut.
1.2 Perumusan Masalah Dengan
menggantikan
sebagian/beberapa persen dari
berat semen terhadap Abu Boiler pada campuran beton diharapkan akan
berpengaruh terhadap sifat-sifat mekanik dari
beton tersebut. Namun
demikian perilaku mekanik
material beton dengan bahan campuran
ini secara lebih komprehensif belum banyak diteliti maupun dilakukan pengujian.
Dari penjabaran diatas,
dirumuskan masalah sebagai berikut : a) Besar
peningkatan Kuat Tekan
Beton akibat menggantikan
sebagian semen dengan abu boiler.
b) Perbandingan
Kuat Tekan Beton
dengan persentase pemakaian
abu boiler terhadap berat semen.
c) Perubahan Grafik persentase dalam
peningkatan dan penurunan kekuatan beton akibat campuran abu boiler.
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk : 1.
Mengetahui workability beton
segar yang menggunakan
bahan subsider Abu Boiler.
2. Mengetahui
perilaku mekanik beton
normal yang menggunakan
bahan Abu Boiler
sebagai penganti sebagian semen
dan membandingkannya dengan beton
normal.
Perilaku mekanik yang
diteliti meliputi: Kuat
Tekan, Modulus Elastisitas Dan Modulus Patahan.
3. Mengetahui
perilaku tegangan regangan
beton yang menggunakan
Abu Boiler sebagai bahan penganti
semen dan membandingkannya dengan beton normal.
4. Mencari komposisi optimum
pemakaian abu boiler
akibat menggantikan sebagian
berat semen pada campuran beton.
1.4 Manfaat Penelitian Kontribusi
dan manfaat hasil
penelitian ini bagi
masyarakat, industri dan pengembangan
ilmu adalah sebagai berikut : 1. Dapat
diperoleh bahan bangunan
dengan harga murah
dan berkualitas baik,terutama untuk masyarakat di sekitar
pabrik.
2. Bagi Industri Pabrik Kelapa Sawit, dengan
dimanfaatkannya limbah ini maka pabrik tidak akan kesulitan lagi
dalam membuang dan mengelola limbah.
3. Dapat mengurangi
pencemaran lingkungan (dampak
negatif) yang dapat ditimbulkan
limbah ini.
Skripsi Civil Engineering:Abu Boiler Sebagai Bahan Pengganti Semen dalam Campuran Beton dan Perbandingannya dengan Beton Normal
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI
Bab I
|
Download
| |
Bab II
|
Download
| |
Bab III - V
|
Download
| |
Daftar Pustaka
|
Download
| |
Lampiran
|
Download
|
