BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Persaingan dalam dunia bisnis yang cukup ketat mengharuskan manajemen untuk memberikan terobosan yang
strategis untuk tetap dapat mengembangkan
dan merebut pangsa pasar (market share). Para pemimpin perusahaan harus jeli dan mampu melihat jauh
kedepan berbagai macam faktor yang
timbul untuk menghadapi kondisi yang berubah-ubah. Mereka harus menganalisis apakah faktor-faktor yang
dihadapi itu merupakan peluang dan kesempatan
atau sebaliknya merupakan ancaman bagi perusahaan.
Tingginya pola konsumsi
masyarakat Indonesia mengharuskan para penyedia
kebutuhan tetap menyediakan barang-barang pemuas kebutuhan tetap tersedia. Khsnya produk sandang, pangan, dan
papan. Fenomena yang terjadi yaitu kerap
kali konsumen akan melakukan pembelian atas suatu produk pada satu ritel atau toko tertentu, tetapi produk
tersebut dalam keadaan kosong atau tidak ada barang. Ada juga ketika konsumen melakukan
pembelian, barang tersebut dalam keadaan
tidak layak konsumsi, yaitu barang dalam keadaan rusak atau barang dalam masa kadaluarsa.
Menurut David Simchi Levi,
et.al (2000) supply chain management merupakan
suatu pendekatan yang digunakan untuk mencapai pengintegrasian yang lebih efisien dari supplier, manufacture,
distributor, retailer, dan customer.
Artinya barang diproduksi dalam
jumlah yang tepat, pada saat yang tepat dan pada tempat yanng tepat dengan tujuan mencapai cost
dari sistem secara keseluruhan yang
minimum dan juga mencapai service level yang diinginkan. Manajemen rantai pasokan (supply chain management) mampu
mengatasi masalah persediaan agar produk
dalam keadaan tersedia dan layak konsumsi.
Ada dua manfaat penerapan supply
chain management yang pertama untuk memenuhi kepentingan dalam pemenuhan
persediaan barang dagangan yang
mempunyai sifat cepat habis. Persediaan produk-produk kebutuhan konsumen harus dikendalikan. Pengendalian
persediaan merupakan hal yang sangat
penting. Pengendalian dilakukan untuk mengendalikan persediaan dari kekurangan dan kelebihan produksi, penawaran,
ataupun permintaan. Kekurangan produk-produk tersebut akan menimbulkan komplain dari
konsumen dan perusahaan akan kehilangan
sejumlah kesempatan untuk menghasilkan laba.
Semantara itu image dari merek
barang tersebut dan citra ritel akan menjadi buruk. Akibatnya konsummen menjadi kurang
loyal untuk mengkonsumsi barang tersebut,
dan dampak negatif yang lebih lagi konsumen sacara tidak sengaja melakukan promosi dari mulut ke mulit (mouth
to mouth) kepada konsumen lain untuk
tidak melakukan pembelian pada ritel tersebut. Sementara kelebihan persediaan akan menimbulkan kerugian bagi
produsen.
Manfaat yang kedua yaitu memenuhi
kebutuhan pelanggan terhadap pilihan
barang dagangan sesuai dengan apa yang pelanggan inginkan, serta dimana mereka menginginkannya. Pengendalian
persediaan juga menjadi begitu penting
dikarenakan pola konsumsi yang selalu berubah-ubah. Setiap konsumen berbeda dalam melakukan pembelian suatu
produk. Ada yang intence setiap hari, minggu,
bulan, dan ada juga konsumen yang melakukan pembelian tiba-tiba tanpa waktu yang direncanakan atau ada konsumen
yang membeli dalam jumlah besar atau pun
kecil bahkan hari-hari besar juga harus menjadi perhatian dalam menentukan persediaan.
Proses bisnis inti manajemen
rantai pasokan (supply chain management) antara lain meliputi customer relationship management, customer
service management, order fulfillment,
manufacturing flow management, procurement, product development, commercialization. Dalam
artian kepuasan dan loyalitas konsumen
akhir yang diutamakan (Stock dan Lambert dalam Cahyono, 2010 : 11).
Loyalitas pelanggan merupakan
dorongan perilaku untuk melakukan pembelian
secara berulang-ulang. Untuk membangun kesetiaan pelanggan terhadap suatu produk atau jasa yang
dihasilakan oleh perusahaan, membutuhkan waktu yang lama melalui suatu proses pembelian
yang berulang-ulang (Olson dalam Trisno
Musanto, 2004). Pakar pemasaran berpendapat bahwa loyalitas pelanggan adalah muara yang sebenarnya dari
rangkaian aktivitas pemasaran, bukan
kepuasan pelanggan. Kesimpulan ini diperkuat oleh kenyataan bahwa pelanggan yang puas tidak menjamin akan
melakukan pembelian berulang (repeat purchase)
tetapi pelanggan yang loyal melakukannya.
Ritel merupakan mata jaringan
yang paling utama dalam manajemen rantai pasokan karena ritel yang akan berinteraksi
secara langsung dengan konsumen akhir .
Selain itu ritel juga menghubungkan pengguna akhir dengan penjual yang menyediakan barang dagangan. Mengingat peran
ini, menjadi tanggung jawab peritel
untuk menganalisis keinginan dan kebutuhan pelanggan dan bekerja dengan anggota yang lain pada rantai pasokan
seperti grosir, produsen, maupun perusahaan
transportasi, untuk memastikan bahwa barang dagangan yang diinginkan pelanggan tersedia (Utami,
2006:126).
Usaha atau bisnis ritel di
Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat beberapa tahun terakhir ini, dengan
berbagai jenis format serta jenisnya. Hal ini, sebagai akibat dari adanya perkembangan
usaha manufaktur dan peluang pasar yang
cukup terbuka, maupun upaya pemerintah untuk mendorong perkembangan bisnis ritel. Pemerintah berperan
dalam melakukan perlindungan terhadap
ritel nasional, melalui peraturan dan undang-undang (Utami 2006 : 19).
Secara makro, perkembangan
industri ritel tidak terlepas dari pengaruh tiga faktor utama yaitu ekonomi, demografi, dan sosial
budaya. Demikian halnya di kota Medan,
perkembanngan bisnis ritel melaju pesat dari tahun ke tahun.
TABEL 1.
PERKEMBANGAN BISNIS RITEL DI
MEDAN TAHUN 2004- TAHUN BERDIRI
2004 2005 2006
2007 2008 DEPARTEMEN
STORE 8
12 12 13 13 HYPERMARKET 2
4 4 4
4 SUPERMARKET
9 9 10
12 12 PASAR
SWALAYAN 24 24
26 26 28 TOTAL
43 49 52
55 57 Sumber
: Badan Pusat Statistik Medan Untuk
memenuhi kebutuhan spesifik dari pelanggan dengan segmen yang cukup luas, ritel terpaksa menyiapkan lebih
banyak unit barang (stok keeping unitSKU) atau barang dagangan yang lebih
bervariasi. Walaupun banyak item yang disediakan
disetiap toko atau ritel dengan skala global, namun beberapa toko sering kali mengkhskan untuk memenuhi
kebutuhan pasar lokal. Tanpa sistem informasi
dan rantai pasokan yang canggih, akan mustahil bagi jaringan itu untuk mengelola ribuan item persediaan tersebut dan
memenuhi kebutuhan konsumen dengan
relatif sesuai (Utami, 2006 : 127).
Manajemen rantai pasokan (supply
chain managemet) diterapkan di semua ritel
walaupun tidak semua ritel menerapkannya dengan manajemen yang baik.
Melihat banyaknya jumlah ritel
swalayan yang ada di Medan, peneliti membatasi penelitian dilakukan pada 1 swalayan. Swalayan
Maximart merupakan Cabang dari PT. Pasar
Swalayan Maju Bersama yang berada di dua Plaza yaitu di Yang Lim Plaza dan Thamrin Plaza. Swalayan Maximart
Thamrin Plaza baru di buka pada tahun
2009 sementara Swalayan Maximart Yang Lim Plaza berdiri sejak tahun 2006. Dari penelitian pra survei yang
dilakukan penulis terhadap 20 orang mahasiswa
, 17 diantaranya menyatakan pernah belanja
ke Thamrin Plaza.
Skripsi Manajemen:Analisis Pengaruh Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management) Terhadap Loyalitas Konsumen
Download lengkap Versi PDF
