B A B I P E N D A H U L U A N
I. LATAR BELAKANG MASALAH Setiap
rentang kehidupan seseorang akan selalu berhadapan dengan tugas– tugas
perkembangannya masing–masing. Mulai dari masa prenatal sampai kepada masa
akhir kehidupan. Havighrust (dalam Hurlock, 1999) mengatakan tugas-tugas yang berhasil
dilakukan akan menimbulkan
rasa bahagia dan
membawa kepada arah keberhasilan
pada tugas perkembangan
selanjutnya, jika tidak berhasil menyelesaikan tugas
perkembangan tersebut, orang
tersebut kemungkinan akan mengalami perasaan
tidak bahagia dan
mengalami kesulitan dalam
melakukan tugas perkembangan selanjutnya.
Salah satu
tugas perkembangan dewasa
dini menurut Havighrust dipusatkan pada
harapan-harapan masyarakat dan
mencakup untuk memilih pasangan atau
memilih teman hidup.
Pemilihan pasangan dapat
dilakukan individu dewasa dini
melalui hubungan pacaran.
Melalui aktivitas berpacaran tersebut, individu
dewasa dini dapat
memilih pasangan, menemukan
dan mendapatkan seseorang dari
jenis kelamin yang
berbeda yang disukai,
dengan siapa seseorang merasakan kenyamanan dan keamanan, serta
menentukan dengan siapa seseorang akan
menikah (Duvall,1985). Aktivitas
pacaran pada dasarnya memiliki cirri-ciri
yaitu adanya kegiatan,
yang dilakukan dan
dialami bersama, oleh dua
orang lebih dari
jenis kelamin yang
berbeda. Secara umum,
masingmasing individu memiliki
peran tersendiri sebagai
pria dan wanita.
Pria akan mengajak
wanita pergi, dan segala pengeluaran akan ditanggung oleh pria, wanita harus
diantarkan pulang dengan selamat.
Saxton (dalam Bowman &
Spanier, 1978) juga menyatakan pendapat yang sama mengenai
pacaran yaitu sebuah
istilah yang digunakan
masyarakat yang berarti sebuah
kejadian yang direncanakan,
yang meliputi aktivitas
yang dilakukan oleh dua orang dari jenis kelamin yang berbeda dam belum menikah.
Pendapat Duvall
serta Saxton tersebut
memberikan batasan bahwa
pacaran merupakan aktivitas yang terjadi hanya pada hubungan yang
dilakukan oleh dua orang yang memiliki jenis kelamin berbeda saja. Pria dapat
membentuk hubungan pacaran hanya dengan seorang wanita.
Pola pacaran
pada dewasa dini
menurut Duvall (1985)
memberikan cara bagi seorang
dewasa dini untuk berinteraksi dengan pasangan, belajar mengenai pasangan, dan
membantu dewasa dini belajar mengenai apa yang disukai, diterima oleh pasangan.
Masa dewasa dini
merupakan waktu yang
khusus untuk melakukan pacaran,
karena pacaran akan dilakukan lebih sungguh-sungguh dalam hubungannya mencari
pasangan hidup dan
juga karena pada
dewasa dini sudah mencapai kematangan seksual (Caroll,
2005). Pacaran tetap akan dilakukan oleh seseorang yang menunda-nunda
perkawinan sampai menermukan pasangan hidup, meski sudah memasuki usia 30 – 40
tahun. Setelah kehilangan pasangan, melalui kematian ataupun
perceraian, orang-orang pada
umumnya berpacaran kembali dengan tujuan menemukan pasangan.
Pacaran adalah
sesuatu hal yang
diharapkan oleh masyarakat, mengakibatkan dewasa dini
melakukan hal yang sama, karena orang lain yang ada disekitar lingkungan melakukan hal yang sama
(Duvall, 1985). Masyarakat akan menganggap ada yang salah dengan seseorang yang
tidak berpacaran.
Pendapat berbeda
dinyatakan oleh Savin-Williams dan
Cohen (1996) bahwa membentuk
dan mengembangkan hubungan
pacaran sebagai sesuatu
hal yang penting bagi
dewasa dini dilakukan
oleh semua orang
tanpa memandang orientasi seksual
seseorang. Orientasi seksual
merupakan istilah yang
mengarah kepada jenis kelamin, dimana seseorang merasakan ketertarikan
secara emosional, fisik, seksual dan
cinta (Caroll, 2005). Orientasi seksual
terbagi tiga yaitu heteroseksual, ketertarikan
kepada jenis kelamin
yang berbeda, homoseksual, ketertarikan pada jenis kelamin
yang sama, biseksual, ketertarikan kepada kedua jenis kelamin. Heteroseksual
disebut juga dengan istilah straight, sedangkan pria homoseksual dikenal dengan
istilah gay, dan wanita homoseksual disebut dengan istilah lesbian.
Melalui pendapat
Savin-Williams dan Cohen
tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa gay dewasa dini juga
melakukan aktivitas yang sama seperti kaum
straight dalam memilih pasangan, yaitu membentuk hubungan pacaran. Hal tersebut
dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh Savin-Williams (dalam Savin-Williams & Cohen,1996) dan
mendapatkan hasil bahwa gay dewasa dini juga
membentuk hubungan pacaran.
Pada wawancara awal
yang dilakukan dengan Jonathan,
gay berusia 28 tahun mengutarakan pengalamannya mengenai pacaran, mengatakan: “…aku pacaran
sama dia uda
3 tahun lebih ya….
Dia pacar ku
yang kedua, yang pertama putus karna uda ga cocok aja…..” Menurut
Silverstein, adanya pacaran
pada gay akan membantu seorang gay dalam pencarian identitas diri
sebagai seorang gay, dan membuat gay merasa lebih lengkap
sebagai seorang gay (dalam
Savin-Williams & Cohen,
1996).
Gay yang memiliki pacar akan
memiliki harga diri yang lebih tinggi, penerimaan diri yang
lebih tinggi, dan
akan lebih terbuka
kepada lingkungan mengenai identitas diri sebagai seorang gay
(Savin-Williams & Cohen, 1996).
Aktivitas dalam
pacaran yang dilakukan
oleh pasangan gay tidak jauh berbeda
dengan pacaran yang
dilakukan oleh pasangan straight, yang membedakan hanyalah
penerimaan lingkungan terhadap
hubungan tersebut (Caroll,2005).
Pacaran pada pasangan straight dapat ditunjukkan atau diberitahu pada
lingkungan tanpa adanya rasa takut dan malu. Berbeda dengan pasangan gay, beberapa lingkungan
masyarakat masih menolak
keberadaan gay. Di Indonesia, secara formal
ada stigma terhadap
perilaku homoseksual yang mengharamkan hubungan sesama
jenis (Oetomo, 2003).
Masyarakat Indonesia secara
umum masih berpijak pada budaya
yang “enggan” menerima keberadaan homoseksual.
Kondisi penerimaan lingkungan
terhadap hubungan gay menjadikan pola pacaran pada gay adalah kegiatan
yang dilakukan secara
sembunyi-sembunyi.
Alasan ketakutan
jika diketahui oleh
lingkungan menjadi beban
pacaran pada gay
(Oetomo,2003). Jonathan mengutarakan
perasaan takut yang
dialaminya dalam menjalani hubungan pacaran dengan pasangannya,
mengatakan: “…terkadang kurang seru juga kalau jalan sama dia. Harus sembunyi –
sembunyi kalau mau
bermesraan. Paling di
kamar. Di tempat
umum, wau…. Bahaya bos. Mana mungkin, ketahuan…wah…” Hasil
observasi awal mengenai kegiatan pacaran
yang dilakukan oleh Jonathan
dengan pasangannya, mengirimkan
pesan-pesan singkat melalui
alat komunikasi dengan panggilan khusus kepada pasangan, pergi menonton
bersama, makan bersama, melakukan
kegiatan bersama, namun
kemesraan terhadap pasangan
ditunjukkan saat keduanya berada di tempat tertentu.
Menurut Papalia (2004), pacaran
adalah kegiatan bagi dewasa dini untuk menemukan intimacy. Levinger
(dalam Masters, 1992)
mengatakan intimacy adalah
sebuah istilah yang
mengarah pada sebuah
proses yang terjadi
pada 2 orang yang
saling memahami, dimana
keduanya akan berbagi
berbagai hal dalam hal
apapun, dalam perasaan,
pemikiran dan tindakan
sebebas mungkin.
Menurut Berscheid
dan Reis (dalam
Mackey, 2000), intimacy
dalam sebuah hubungan dapat
membentuk ikatan nonverbal
terhadap pasangan (melalui sentuhan, kontak mata, kedekatan
fisik dan sebagainya), aktivitas seksual dalam hubungan dan membawa individu
dalam kematangan psikologis.
Erikson (dalam Papalia, 2004)
mengatakan intimacy merupakan salah satu tugas
perkembangan yang sangat
penting bagi dewasa
dini. Intimacy tersebut merupakan
kelanjutan tugas perkembangan
psikosial seseorang setelah
berhasil mencapai pengertian mengenai
identitas dirinya sendiri
selama masa remaja.
Orang-orang yang
memasuki dewasa dini
harus mampu mencapai
kemampuan untuk menyatukan identitas
diri sendiri dengan
identitas diri orang
lain.
Seseorang yang
tidak memiliki keyakinan
mengenai identitas dirinya
sendiri kemungkinan akan berusaha
untuk menjauhi intimacy
dalam kehidupan psikososialnya atau berusaha sekeras mungkin
mencari intimacy tersebut melalui hubungan seks yang tidak memiliki arti (Feist
& Feist, 2002).
Hubungan pacaran sebagai usaha
menemukan intimacy dengan pasangan yang terbentuk membutuhkan beberapa
keahlian, seperti self-awareness, empati, kemampuan untuk mempertahankan
komitmen dalam berhubungan, kemampuan dalam
memutuskan sesuatu hal
yang berhubungan dengan
kegiatan seksual, menyelesaikan
masalah dalam hubungan, dan kemampuan berkomunikasi secara emosional (Lambeth
& Hallet dalam Papalia, 2004).
Beberapa keahlian tersebut akan berpengaruh pada dewasa dini dalam mengambil
keputusan untuk menikah atau tidak menikah,
melanjutkan hubungan homoseksualitas (hubungan
sesama jenis), atau memutuskan untuk hidup sendiri, memiliki anak atau
tidak memiliki anak. Dewasa dini
yang tidak berhasil
melakukan tugas perkembangan psikosialnya, dalam menyatukan
indetitas diri sendiri dengan identitas diri orang lain melalui intimacy akan mengalami
isolasi. Isolation merupakan
keadaan individu yang tidak memiliki kemampuan untuk menyatukan
identitas diri sendiri dengan
identitas diri orang
lain melalui intimacy yang sebenarnya
(Erikson dalam Feist&Feist, 2002).
Skripsi Psikologi:Intimacy Dalam Pacaran
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI
Bab I
|
Download
| |
Bab II
|
Download
| |
Bab III - V
|
Download
| |
Daftar Pustaka
|
Download
| |
Lampiran
|
Download
|
