Skripsi Psikologi:Hubungan Work-Family Conflict Dengan Komitmen Organisasi


BAB I  PENDAHULUAN  
I.A. LATAR BELAKANG MASALAH  Seiring dengan waktu dunia bisnis di era globalisasi, perusahaan-perusahaan  semakin banyak bermunculan dengan menawarkan berbagai variasi jasa maupun  barang,  sehingga  menuntut  setiap  perusahaan  untuk  bisa  bersaing  dan  memiliki  produktivitas  yang  tinggi.  Dengan  adanya  tuntutan  tingkat  persaingan  dan  produktivitas yang tinggi, tidak dapat disangkal bahwa perusahaan membutuhkan  tenaga  kerja  yang  unggul,  terampil,  dan  memiliki  keterlibatan  yang  tinggi  pada  pekerjaan, sehingga dapat menampilkan performa yang baik (Prawitasari, 2007).
Hal  ini  dapat  dicapai  ketika  individu  didalam  suatu  perusahaan   memiliki  komitmen terhadap organisasi maupun perusahaan di tempat mereka bekerja.

Baron (2004) mengatakan bahwa komitmen organisasi itu sendiri merupakan  sikap  pekerja  terhadap  organisasi  tempatnya  bekerja,  dimana  karyawan  dengan  komitmen  organisasi  yang  tinggi  akan  menunjukkan  sikap  bahwa  dia  membutuhkan dan mempunyai harapan yang tinggi terhadap organisasi tempatnya  bekerja, serta lebih termotivasi dalam bekerja. Dimana komitmen ini memerlukan  suatu  pengorbanan  dan pengabdian  individu  didalam  organisasi,  sehingga  dapat  diartikan sebagai kesetiaan untuk melakukan apa saja yang telah di putuskan oleh  organisasi.  Komitmen  organisasi  juga  merupakan  hubungan  antara  individu  dengan  organisasi  tempat  individu  bekerja,  yang  diartikan  bahwa  individu  mempunyai keyakinan terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi, adanya kerelaan   untuk  berusaha  secara  bersungguh-sungguh  demi  kepentingan  organisasi  serta  mempunyai  keinginan  yang  kuat  untuk  tetap  menjadi  bagian  dari  organisasi.
Dalam hal ini, individu mengidentifikasikan dirinya pada suatu organisasi tertentu  tempat  individu  bekerja  dan  berharap  untuk  menjadi  anggota  organisasi  dalam  pencapaian  dan  merealisasikan  tujuan-tujuan  organisasi  (Morrow  dalam  Bontaraswaty, 2008).
Streers dan Porter (1991) mengemukakan bahwa komitmen merupakan suatu  keadaan  individu  dimana  individu  menjadi  sangat  terikat  oleh  tindakannya.
Melalui tindakan ini akan menimbulkan keyakinan yang menunjang aktivitas dan  dan keterlibatannya. Sehingga seorang pekerja dengan komitmen yang tinggi pada  umumnya  mempunyai  kebutuhan  yang  besar  untuk  mengembangkan  diri  dan  senang  berpartisipasi  dalam  proses  pengambilan  keputusan  di  organisasi  tempat  mereka bekerja. Hasilnya mereka jarang terlambat, tingkat absensi yang rendah,  produktivitas  yang  tinggi,  serta  berusaha  menampilkan  kinerja  yang  terbaik.  Di  samping itu, pekerja dengan komitmen yang tinggi juga dapat menurunkan  turn  over(Bontaraswaty, 2008).
Faktor-faktor  yang  mempengaruhi  komitmen  organisasi  antara  lain  adalah  karakteristik personal, karakteristik kerja, karakteristik organisasi, serta sifat dan  kualitas  pekerjaan  (Steers  dan  Porter,  1991).  Karakteristik  personal  meliputi  pendidikan, dorongan berprestasi, nilai-nilai individu, keluarga, usia, masa kerja,  sikap  terhadap  kerja,  bakat  dan  keterampilan.  Karakteristik  kerja  didalamnya  terdapat  tantangan  kerja,  umpan  balik,  stres  kerja,  identifikasi  tugas,  kejelasan  peran,  pengembangan  diri,  karir  dan  tanggung  jawab.  Sementara  karakteristik   organisasi  meliputi  desentralisasi  dan  tingkat  partipasi  dalam  pengambilan  keputusan, serta sifat dan kualitas pekerjaan.
Salah  satu  faktor  yang  mempengaruhi  komitmen  organisasi  individu  adalah  karakteristik  personal,  yang  didalamnya  diketahui  bahwa  diri  dan  keluarga  memiliki  pengaruh  yang  kuat  terhadap  komitmen  organisasi  individu.  Nilai  dan  sikap  juga  merupakan  bagian  dari  karakteristik  personal.  Sikap  individu,  nilainilai yang dimilikinya serta kebutuhan yang ada didalam dirinya, memperlihatkan  secara  langsung  maupun  tidak  langsung  bagaimana  komitmennya  terhadapat  organisasinya  (Chusmir  dalam  Bontaraswaty,  2008).  Dari  karakteristik  personal  menurut  Chusmir  (1986),  maka  akan  timbul  dua  keadaan  eksternal  yang  akan  mempengaruhi proses komitmen, yaitu situasi keluarga dan situasi pekerjaan.
Menurut  penelitian  Apperson  dkk  dalam  Prawitasari  (2007),  mayoritas  pria  dan perempuan sekarang ini mempunyai kedudukan ganda, sebagai orangtua dan  juga  karyawan  dengan  jenis  pekerjaan  full-time.  Dikatakan  Primastuti  (2000),  bahwa  banyak  dari  mereka  yang  memainkan  peranan  ganda  dalam  dunia  kerja  untuk  mendapatkan  penghasilan  dan  kepuasan.  Sehingga  dalam  perjalanannya,  peran ganda yang dimainkan terkadang menimbulkan konflik.
Konflik  antara  pekerjaan  dan  keluarga  dapat  terjadi  baik  pada  perempuan  maupun  pria.  Penelitian  Apperson  dkk  (2002)  menemukan  bahwa  ada  beberapa  tingkatan konflik peran antara pria dan perempuan, bahwa perempuan mengalami  konflik  peran  pada  tingkat  yang  lebih  tinggi  dibanding  pria.  Hal  tersebut  dikarenakan perempuan memandang keluarga merupakan suatu kewajiban utama   mereka dan harus mendapatkan perhatian lebih dibandingkan pada peran pekerja  mereka.
Seiring dengan perkembangan zaman, perempuan dituntut untuk memberikan  sumbangan lebih, tidak hanya terbatas pada pelayanan terhadap suami, perawatan  anak, serta menjadi pengurus rumah tangga. Adanya tekanan dari faktor ekonomi  serta keinginan psikologis untuk mengembangkan self-identity, telah mendorong  perempuan untuk bekerja di luar rumah, mengembangkan karir serta berpartisipasi  secara  aktif  dalam  kehidupan  masyarakat  (Kusumaning  dan  Suparmi  dalam  Prawitasari, 2007).
Pekerjaan bagi seorang perempuan dapat memberikan dampak positif maupun  negatif.  Dampak  positifnya  adalah  melalui  pekerjaannya  wanita  bisa  membantu  suami dalam hal finansial, mencari penghasilan yang layak guna menghidupi diri  dan  keluarganya,  meningkatkan  rasa  percaya  diri  dan  kesempatan  untuk  mendapatkan kepuasan hidup (Istiani, 1989). Selain dampak positif tersebut, ada  pula dampak negatif yang perlu diperhatikan, dimana tuntutan-tuntutan pekerjaan  ini  mengakibatkan  ibu  pulang  kerja  dalam  keadaan  lelah,  sehingga  ia  tidak  memiliki cukup energi untuk memenuhi semua kebutuhan anggota keluarganya.
Selain  itu,  dengan  adanya  jumlah  jam  kerja  yang  relatif  panjang  akan  menyebabkan  ibu  tidak  selalu  ada  pada  saat  dimana  ia  sangat  dibutuhkan  oleh  anak atau pasangannya.
Salah  satu  akibat  yang  harus  dihadapi  perempuan  jika  dirinya  tidak  mampu  menyeimbangkan tuntutan  atas  peran  keluarga dan  pekerjaan  adalah  munculnya  konflik. Semakin besar waktu, dan energi yang  dicurahkan pada peran keluarga   dan pekerjaan, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya konflik. Konflik  pekerjaan dengan keluarga pada perempuan berperan ganda terjadi ketika wanita  dituntut untuk memenuhi harapan perannya dalam keluarga dan dalam pekerjaan,  dimana masing-masing membutuhkan waktu, dan energi dari perempuan tersebut  (Prawitasari, 2007).  Dalam penelitian ini,  konflik  antara  keluarga  dan  pekerjaan  selanjutnya akan disebut dengan istilah work-family conflict.
Pada tahun-tahun terakhir, fokus penelitian banyak mengenai tentang adanya  hubungan  yang  mengganggu  (interference)  antara  individu  (sebagai  orang  yang  mempunyai keluarga) dan peran pekerjaan, yang telah dipelajari di rubrik-rubrik  umum  tentang  konflik  keluarga-pekerjaan  (work-family  conflict  /  WFC).
Penemuan dan teori-teori yang berasal dari negara-negara Barat telah mengajukan  adanya hubungan yang jelas antara tuntutan pekerjaan dan WFC (Bruck, Allen, &  Spector,  2002;  Byron,  2005;  Frone,  Yardley,  &  Markel,  1997;  Hammer,  Neal,  Newsom,  Brockwood,  &  Colton,  2005).  Penemuan  tersebut  mengajukan  bahwa  jam kerja yang panjang dan beban kerja yang berat merupakan pertanda langsung  akan terjadinya konflik keluarga-pekerjaan (WFC), dikarenakan waktu dan upaya  yang  berlebihan  dipakai  untuk  bekerja  mengakibatkan  kurangnya  waktu  dan  energi yang bisa digunakan untuk melakukan aktivitas-aktivitas keluarga (Frone,  2003; Greenhaus & Beutell, 1985).
Work-Family Conflict adalah salah satu dari bentukinterrole conflicttekanan  atau  ketidak  seimbangan  peran antara  peran  di  pekerjaan  dengan  peran  didalam  keluarga  (Greenhaus  & Beutell, 1985).  Work  family conflict  dapat  didefinisikan  sebagai bentuk konflik peran dimana tuntutan peran dari pekerjaan dan keluarga   secara  mutual  tidak  dapat  disejajarkan  dalam  beberapa  hal.  Hal  ini  biasanya  terjadi  pada  saat  seseorang  berusaha  memenuhi  tuntutan  perannya  dalam  pekerjaan  dan  usaha  tersebut  dipengaruhi  oleh  kemampuan  orang  yang  bersangkutan  untuk  memenuhi  tuntutan  keluarganya,  atau  sebaliknya,  dimana  pemenuhan  tuntutan  peran  dalam  keluarga  dipengaruhi  oleh  kemampuan  orang  tersebut dalam memenuhi tuntutan pekerjaannya (Frone, 2000).
Tuntutan  pekerjaan  berhubungan  dengan  tekanan  yang  berasal  dari  beban  kerja  yang  berlebihan  dan  waktu,  seperti;  pekerjaan  yang  harus  diselesaikan  terburu-buru  dan  deadline.  Sedangkan  tuntutan  keluarga  berhubungan  dengan  waktu yang dibutuhkan untuk menangani tugas-tugas rumah tangga dan menjaga  anak.  Tuntutan  keluarga  ini  ditentukan  oleh  besarnya  keluarga,  komposisi  keluarga  dan  jumlah  anggota  keluarga  yang  memiliki  ketergantungan  dengan  anggota yang lain (Yang, Chen, Choi, & Zou, 2000).


Skripsi Psikologi:Hubungan Work-Family Conflict Dengan Komitmen Organisasi
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI

Bab I
Download 
 Bab II
 Download 
 Bab III - V
 Download 
Daftar Pustaka
 Download 
Lampiran
Download