BAB I PENDAHULUAN
I.1
Umum Perkerasan lentur adalah sebuah bentuk struktur yang terdiri dari
beberapa lapisan yang menjadi satu kesatuan untuk memikul beban kendaraan yang
lewat diatasnya dan bisa menyalurkan
beban dari kendaraan tersebut dengan baik dari lapisan
paling atas ke
lapisan – lapisan
yang ada dibawahnya.
Sebagai lapis perkerasan,
struktur ini diharapkan
mampu memikul beban
lalu lintas rencana sesuai
dengan umur rencana
yang telah direncanakan
agar tidak mengalami kerusakan – kerusakan yang berarti.
Tetapi hampir
sebagian besar perkerasan
lentur sudah mengalami kerusakan
terlebih dahulu sebelum
mencapai umur rencananya.
Hal ini dikarenakan adanya faktor –
faktor yang menyebabkan perkerasan itu mengalami kerusakan,
yaitu beban kendaraan yang
berlebih ( overloading ),
keadaan iklim dan
lingkungan yang berubah
- ubah, beban
lalu lintas, tingkat
ketebalan lapis perkerasan,
material dan struktur
perkerasan, drainase yang
kurang/tidak berfungsi dengan
baik, desain geometrik serta pekerjaan perkerasan di
lapangan yang tidak sesuai.
Kerusakan pada perkerasan dapat
digolongkan menjadi 2 ( dua ) bagian, yaitu
kerusakan struktural dan
kerusakan non struktural.
Kerusakan struktural ialah
kerusakan yang menyebabkan
berkurangnya kemampuan jalan
dalam memikul beban
yang melewatinya. Kerusakan
non-struktural ialah kerusakan yang
hanya menyebabkan berkurangnya
tingkat kenyamanan pengendara
yang melalui jalan tersebut,
tetapi tidak mengurangi kemampuan jalan untuk memikul beban yang melewatinya.
Untuk mengurangi kerusakan yang
terjadi pada perkerasan tersebut maka dibutuhkan
suatu alternatif baru yang bisa menghemat dana dan juga menghemat aspal
karena dana yang
diberikan oleh pemerintah
cukup terbatas, tidak
bisa semua perkerasan
diperbaiki dalam waktu
yang bersamaan. Selain
itu, harga minyak dunia yang semakin mahal dari tahun ke
tahun juga membuat harga aspal menjadi
semakin mahal.
Alternatif ini
adalah daur ulang
perkerasan beraspal atau
yang lebih dikenal
dengan Recycling Pavement.
Teknik daur ulang
perkerasan jalan adalah pengolahan dan penggunaan kembali konstruksi
perkerasan lama ( existing ), baik dengan ataupun
tambahan bahan pengikat
baru, untuk keperluan
pemeliharaan, perbaikan maupun
peningkatan konstruksi perkerasan jalan.
Keuntungan yang diharapkan dari
pemakaian kembali material yang lama adalah
menghemat pemakaian material baru yang pada akhirnya akan menghemat biaya
pemeliharaan/perbaikan
perkerasan. Selain itu
dengan menggunakan teknologi daur ulang maka akan menghemat
penggunaan aggregat sebesar 45 % dan aspal
baru sebesar 60
% dan juga
meningkatkan nilai ekonomis
bahan garukan, menghemat
energi untuk transportasi
material, mempertahankan geometrik dan elevasi serta melestarikan
sumber daya alam.
Ada banyak jenis – jenis teknik daur ulang perkerasan beraspal
tapi dalam hal ini
penulis hanya akan
membahas tentang Cold
Mix Recycling dengan menggunakan
bahan pengikat semen
portland. Di Indonesia
metode ini lebih dikenal
dengan Deep Lift Insitu Pavement Recycling ( DLIPR ) yang merupakan proses
daur ulang material
ditempat baik yang
berupa material berbutir kasar/halus
ataupun campuran aspal
yang telah mengalami
kerusakan dengan kedalaman
lapisan lebih dari
300 mm dengan
satu kali pengerjaan
sekaligus dengan menggunakan
peralatan large reclaimer/stabilizer/recycler.
Di Provinsi Sumatera Utara,
metode Deep Lift Insitu Pavement Recycling sudah
mulai dilaksanakan sejak
tahun anggaran 2007/2008.
Tercatat bahwa ada 11
paket proyek rehabilitasi jalan provinsi dengan total panjang 47 km.
I. 2 Permasalahan Tinjauan terhadap
kinerja perkerasan jalan
erat kaitannya dengan kepentingan pengguna jalan yang dapat diukur
dari kenyamanan berkendara. Oleh karena
itu, setiap investasi dalam pembangunan jalan perlu dilaksanakan menurut proses
desain yang sesuai
dengan kebutuhan lalu
lintas. Kegiatan pengamatan atau
monitoring dilakukan rutin untuk
mengantisipasi kerusakan jalan. Upaya ini dilakukan agar jalan tetap memiliki tingkat
pelayanan yang optimal.
Gambar 1.1 Penurunan Kinerja Perkerasan Terhadap Waktu Kinerja
Perkerasan jalan akan
menurun seiring dengan
bertambahnya umur jalan. Bobot
penurunan tingkat pelayanan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kualitas konstruksi atau kualitas
pekerjaan pada saat membangun jalan.
Pengaruh tersebut signifikan
terhadap penurunan tingkat pelayanan jalan setelah jalan itu dibuka.
Untuk mencegah
penurunan tingkat pelayanan
yang terlalu besar
maka diperlukan kajian
kinerja yang menganalisis
suatu kerusakan perkerasan
jalan berdasarkan jenis dan
tingkat kerusakannya untuk digunakan sebagai dasar dalam melakukan kegiatan pemeliharaan dan perbaikan. Dengan
dilakukannya kegiatan pemeliharaan dan
perbaikan maka tingkat
pelayanan akan naik
kembali seperti semula dan bisa
bertahan sesuai dengan umur rencananya.
Gambar 1.2 Kinerja Pelayanan Jalan Dipengaruhi Faktor
Pemeliharaan Jalan I. 3 Maksud dan Tujuan Adapun tujuan dari penulisan Tugas
Akhir ini adalah : 1. Mengukur kinerja
dari Deep Lift
Insitu Pavement Recycling,
yaitu dengan menilai kondisi perkerasan jalan tersebut
untuk mengidentifikasi jenis dan tingkat kerusakan yang terjadi dan mengukur
sifat kerataan lapis permukaan jalan yang
akan bermanfaat di
dalam usaha menentukan
program rehabilitasi dan
pemeliharaan jalan.
2.
Membandingkan hasil analisa metode
IRI (International Roughness Index) dengan
metode PCI (Pavement
Condition Index) dan
membuat persamaan korelasi dari kedua parameter tersebut.
I. 4 Pembatasan Masalah Agar penulisan
tugas akhir ini
dapat terarah dan
sesuai dengan tujuan maka diperlukan pembatasan masalah, yaitu : 1. Penulis
hanya membahas kondisi
kerusakan yang terjadi
pada perkerasan lentur
( Flexible Pavement
) sebagai dasar
acuan jenis penanganan kerusakan.
2. Kerusakan
– kerusakan yang
ditinjau adalah keretakan
jalan (cracking), kerusakan tepi (edge break), alur (rutting),
keriting (corrugations), lubang – lubang
(patholes), jembul (shoving),
penurunan setempat (deformations), kegemukan
aspal (bleeding), pelepasan
butiran (ravelling), tambalan (patching),
pengausan (polished aggregate),
pembengkakan (swell), tonjolan (bump and sags), penurunan pada bahu
jalan (lane/shoulder drop off), dan
perlintasan rel kereta api pada jalan raya (railroad crossing).
3. Data
yang akan digunakan
didapat dari survei
visual yaitu panjang,
lebar, luas, serta kedalaman
tiap –
tiap jenis kerusakan yang terjadi. Selain itu ada juga data sekunder yang diambil dari Dinas
Bina Marga Provinsi Sumatera Utara yang
berupa panjang ruas jalan, lebar perkerasan dan bahu jalan, data lalu lintas, status, fungsi dan kelas
jalan. 4.
Pengukuran tingkat permukaan
kerataan jalan dilakukan
dengan menggunakan alat
Roughometer II ARRB.
Skripsi Civil Engineering:Analisa Kinerja Deep Lift Insitu Pavement Recycling Dengan Metode IRI Dan PCI
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI
Bab I
|
Download
| |
Bab II
|
Download
| |
Bab III - V
|
Download
| |
Daftar Pustaka
|
Download
| |
Lampiran
|
Download
|
