Skripsi Civil Engineering:Analisa Sambungan Balok Dengan Kolom Menggunakan Sambungan Baut Berdasarkan SNI 03-1729-2002 Dibandingkan Dengan PPBBI 1983


 BAB I PENDAHULUAN
 1.6 Latar Belakang Konstruksi bangunan tidak terlepas dari elemen-elemen seperti balok dan  kolom, baik yang terbuat dari baja, beton atau kayu.
ada tempat-tempat tertentu  elemen-elemen tersebut harus disambung. Hal ini dikarenakan ketersediaan  material di pasaran dan juga berhubungan dengan kemudahan dalam pemasangan  di lapangan.
Pada konstruksi baja sambungan merupakan hal yang harus diperhatikan  dengan serius karena elemen-elemen strukturnya tidak bersifat monolit (menyatu  secara kaku) seperti pada konstruksi beton.
Sambungan berguna untuk memindahkan gaya dari satu elemen ke elemen  lainnya. Sambungan harus mampu memikul gaya yang dipindahkannya beserta  gaya sekunder yang ditimbulkannya. Alat sambung memindahkan gaya melalui  elemen penyambung serta meneruskannya ke elemen lain.

Alat-alat sambung yang biasa digunakan adalah sebagai berikut: 1.  Sambungan dengan paku keling (rivet) 2.  Sambungan dengan baut (bolt) 3.  Sambungan dengan las (welding) Untuk sekarang ini sambungan paku keling sudah jarang digunakan karena  kesulitan dalam pemasangannya. Jadi,  Tugas  Akhir ini direncanakan  menggunakan sambungan baut.   Klasifikasi sambungan adalah sebagai berikut: 1.  Sambungan pada hubungan buhul pertemuan batang batang memikul gaya  aksial tarik dan tekan.
2.  Sambungan pada hubungan balok kolom memikul gaya momen, gaya lintang  dan normal.  Sambungan pada hubungan balok kolom antara lain: 1.  Sambungan Sendi (Simple Connected) Sambungan tidak mampu memikul momen dan bebas berotasi di antara kedua  elemen yang disambung.
2.  Sambungan Semi Kaku (Semi Rigid) Sambungan mampu memikul sebagian momen dan tidak mampu  mempertahankan sudut di antara elemen baja yang disambung.
3.  Sambungan Kaku (Rigid Connected) Sambungan yang dianggap mampu mempertahankan sudut di antara elemen  baja yang disambung.
Indonesia berada pada wilayah gempa 3 seperti ditunjukkan pada gambar.  Wilayah gempa 1 adalah wilayah dengan kegempaan terendah sedangkan wilayah  gempa 6 adalah wilayah dengan kegempaan tertinggi.
embagian wilayah gempa  didasarkan atas percepatan puncak batuan dasar akibat pengaruh gempa rencana  dengan periode ulang 50 tahun.  Gempa bumi merupakan fenomena alam yang tidak dapat dihindari, tidak dapat diramalkan kapan terjadi dan  berapa kekuatannya. Gempa bumi juga  menimbulkan kerugian karena kerusakan infrastruktur dan juga menimbulkan  korban jiwa. Oleh sebab itu, bangunan-bangunan yang dilewati oleh jalur gempa   aktif seperti di Indonesia harus direncanakan tahan terhadap gempa. Kerusakan  akibat gempa dapat dicegah dengan memperkuat struktur bangunan terhadap gaya  gempa yang bekerja padanya.  1.7 Permasalahan  Suatu struktur dinyatakan stabil jika tidak mudah terguling, miring atau  tergeser selama umur rencana bangunan. Risiko terhadap kegagalan struktur dan  hilangnya kemampulayanan selama umur rencana harus diminimalisir. Seperti  diketahui bahwa dalam konstruksi baja sambungan adalah hal yang sangat  diperhatikan sehingga bangunan stabil. Sambungan harus mampu memikul gaya  yang dipindahkanya sekaligus gaya sekunder yang ditimbulkannya. Dalam Tugas  akhir saya ini saya menggunakan sambungan baut mutu tinggi  untuk  menghubungkan kolom dan balok suatu portal. Dengan demikian dapat dijamin  bahwa selama gempa terjadi, pelelehan tidak terjadi pada sambungan.
Ketentuan mengenai tata cara perencanaan struktur baja untuk bangunan  gedung di Indonesia telah mengalami pembaharuan. Saat ini peraturan terbaru  yang telah dipublikasikan sejak 2002 adalah SNI- 03- 1729- 200 yang mengacu  pada metode perencanaan Load Resistance and Factor Design (LRFD).
Dalam SNI- 03- 1729- 2002 dinyatakan bahwa sambungan pada struktur  pemikul gempa harus mampu mengakomodasi terjadinya penyerapan energi yang  baik pada sendi. Dengan penomoran wilayah gempa sesuai dengan peraturan  terbaru untuk wilayah Medan, maka saya akan menganalisa perbandingan  sambungan balok dan kolom antara baut dengan untuk menahan beban gempa  sesuai dengan peta gempa 2002.   1.8   Tujuan Penulisan Maksud dan tujuan tugas akhir ini adalah mengkaji penggunaan baut pada  sambungan pertemuan kolom dengan balok pada konstruksi baja  di  wilayah  gempa  3. Hasil yang diharapkan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui efisiensi sambungan balok dengan kolom menurut SNI 03-1729-2002  yang layak secara struktural  dalam menerima gaya gempa  dan dibandingkan  dengan PBBII 1983.
1.9  Pembatasan Masalah Ada beberapa hal yang menjadi pembatasan masalah pada Tugas Akhir saya  ini, antara lain : 1.  Metode yang digunakan pada pengerjakan Tugas Akhir menurut SNI 03-1729-2002 dan dibandingkan dengan PBBII 1983.  2.  Menggunakan peta zonasi gempa tahun 2002.  3.  Wilayah gempa yang digunakan adalah wilayah gempa 3 (Medan).  4.  Jenis sambungan yang dianalisa adalah sambungan baut.
5.  Baut yang dianalisa adalah baut mutu tinggi.
6.  Mutu sambungan adalah A325.
7.  Mutu profil ASTM A36 dengan tegangan leleh fy = 250 Mpa, dan kekuatan  tarik fu = 400 MPa.  8.  Beban yang ditahan adalah beban hidup, beban mati dan beban gempa 9.  Dimensi balok dan kolom menggunakan profil baja IWF.
10. Analisa dilakukan menurut Hukum Hooke di mana hubungan tegangan  regangan linier.   11. Material yang digunakan bersifat linier elastik, isotropik homogen.
12.
embahasan hanya meliputi hubungan balok dengan kolom.
13. Konstruksi yang dianalisa adalah portal tiga lantai.
1.10Metode Pembahasan Adapun metode yang akan digunakan dalam penulisan tugas akhir ini  adalah studi literatur dengan mengumpulkan data-data dan keterangan yang  berhubungan dengan analisis yang akan dibahas pada tugas akhir ini. Adapun  sumbernya adalah buku dan jurnal  serta masukan-masukan dari dosen  pembimbing.  Berikut ini adalah metodologi yang digunakan dalam penulisan Tugas Akhir ini :  I.  Pendahuluan II.  Tinjauan Pustaka III.  Analisa Sambungan Balok dengan Kolom pada Portal Baja IV.  Kesimpulan dan Saran   


Skripsi Civil Engineering:Analisa Sambungan Balok Dengan Kolom Menggunakan Sambungan Baut Berdasarkan SNI 03-1729-2002 Dibandingkan Dengan PPBBI 1983
Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI

Bab I
Download 
 Bab II
 Download 
 Bab III - V
 Download 
Daftar Pustaka
 Download 
Lampiran
Download