Skripsi Manajemen:Analisis Transformational Leadership Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT Sriwijaya Air


BAB I PENDAHULUAN
 A.  Latar Belakang Mencermati perkembangan perubahan lingkungan bisnis yang semakin kompleks dan kompetitif seiring arus  globalisasi, liberalisasi perdagangan, deregulasi, dan kemajuan teknologi informasi belakangan ini yang kian ketat, tajam  dan cepat serta bersifat sangat tidak pasti, dimana semakin mampu menciptakan realitas baru khsnya bagi persaingan bisnis industri jasa baik dipasar domestic maupun di pasar internasional (global), maka setiap organisasi dituntut harus  mampu menanggapi perubahan yang cepat dalam pasar, teknologi, kompetisi dan kebutuhan konsumen agar memenangkan  persaingan. Dalam hal ini, organisasi dibutuhkan untuk dapat meningkatkan efektifitasnya dalam menanggapi perubahan  yang terjadi. Kinerja karyawan perlu ditingkatkan dalam mendukung efektifitas organisasi guna menciptakan perusahaan  masa depan.

Kinerja karyawan merupakan salah satu ukuran yang sering dipakai dalam menentukan efektivitas organisasi. Sebuah  organisasi atau perusahaan tidak akan dapat berkembang apabila kinerja karyawannya juga tidak mengalami peningkatan  apalagi dengan semakin tingginya tingkat persaingan yang ada dalam dunia bisnis. Perubahan lingkungan bisnis yang  sangat cepat dan bersifat sangat tidak pasti mengharuskan organisasi-organisasi yang ada dalam suatu sektor industri untuk  senantiasa berusaha meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan kreatifitas (Sweeland and Hoy, 2000; Bogler and Somech,  2005  dalam Brahmana dan Sofyandi, 2007).  Organisasi dituntut harus memiliki manajemen yang efektif   serta dukungan karyawan yang cakap dan kompeten di bidangnya. Bogler and Somech (2005) dalam Brahmana dan  Sofyandi (2007) menyatakan bahwa peningkatan efektifitas, efisiensi, dan kreatifitas ini sangat bergantung pada kesediaan  para karyawan untuk berkontribusi secara positif dalam menyikapi perubahan.  Perilaku untuk bersedia memberikan  kontribusi positif pekerja ini diharapkan tidak hanya terbatas dalam kewajiban kerja secara formal, melainkan idealnya  lebih dari kewajiban formalnya (Bowler, 2006 dalam Brahmana dan Sofyandi, 2007).
Karyawan yang memiliki sikap perjuangan, pengabdian, disiplin, dan kemampuan professional sangat mungkin  mempunyai prestasi kerja dalam melaksanakan tugas sehingga lebih berdaya guna dan berhasil guna. Karyawan yang  professional dapat diartikan sebagai sebuah pandangan untuk selalu berfikir, kerja keras, bekerja separuh waktu, disiplin,  jujur, loyalitas tinggi, dan penuh dedikasi demi untuk keberhasilan pekerjaannya (Hamid et al, 2003:40).
Peningkatan sikap, perjuangan, pengabdian, disiplin kerja, dan kemampuan professional dapat dilakukan melalui  serangkaian pembinaan dan penyadaran dalam tindakan nyata, agar upaya peningkatan prestasi kerja dan loyalitas  karyawan dengan meningkatkan kemauan kerja yang tinggi untuk mencapai kinerja yang diharapkan dapat menjadi  kenyataan. Apabila karyawan penuh kesadaran bekerja optimal maka tujuan organisasi akan lebih mudah tercapai.
Sebagai penggerak untuk mendorong organisasi agar berjalan secara efektif dalam mencapai tujuan, kepemimpinan  merupakan salah satu faktor penting dalam suatu organisasi. Sebagaimana yang terdapat dalam berbagai literature,  baik  literature manajemen popular maupun literature akademik, penelitian mengenai kepemimpinan telah banyak dilakukan.
Sebagaimana dalam Sunarsih (2001), dimana Green Berg dan Baron (2000) menyatakan bahwa kepemimpinan  merupakan suatu unsur kunci dalam keefektifan organisasi (Anikmah, 2008). Penelitian Sunarsih (2001) dalam Anikmah  (2008) juga menyatakan bahwa tantangan dalam mengembangkan strategi organisasi yang jelas terutama terletak pada  organisasi di satu sisi dan tergantung pada kepemimpinan. Demikian juga dengan Katz and Khan, 1978; Burns, 1978;  Tichy dan Devans, 1986; House, Spagler, Woyche, 1991; dan Waldman et al., 2001, menyebutkan bahwa kepemimpinan  merupakan bagian dari CEO yang telah digambarkan sebagai unsure penting bagi revitalisasi organisasi, dan sebagai hal  penting bagi top manajemen perusahaan-perusahaan besar serta suatu Negara (Natsir, 2006).
Peran serta pengaruh kepemimpinan dalam mencapai tujuan organisasi sangatlah penting. Terutama dalam  mengahadapi perubahan dunia lingkungan bisnis yang sangat dinamis seperti saat ini, seorang pemimpin diharapkan tidak  hanya mempengaruhi bawahan, akan tetapi sebagai titik sentral yang menentukan arah perjalanan organisasi dalam  kaitannya dengan berbagai kemungkinan perubahan yang terjadi pada lingkungan organisasi, dan ini sekaligus harus  sejalan dengan esensi kepemimpinan yaitu memfasilitasi pengembangan individu untuk merealisasi potensi dirinya. Oleh  karena itu, sangat diperlukan kepemimpinan yang lebih relevan yang mampu mengantisipasinya ke depan (Haryono, 2002).
Dimana kepemimpinan tidak lagi dipandang sebagai pemimpin terhadap manusia semata, tetapi juga pemimpin terhadap  perubahan (Natsir, 2006). Dimana organisasi memerlukan pimpinan-pimpinan yang mampu menantang status quo, untuk  menciptakan visi-visi masa depan dan menginspirasi para anggota organisasi untuk memiliki keinginan mencapai visi-visi   tersebut  (Robbins, 2001; Appelbaum et al., 2004; dalam Brahmana dan Sofyandi, 2007). Dengan demikian, maka gerak  organisasi kearah pencapaian tujuanakan semakin menjadi nyata.
Model kepemimpinan yang dianggap lebih relevan untuk dikembangkan sesuai  dengan situasi ini adalah  kepemimpinan yang bersifat transformasional. Konsep dan praktek kepemimpinan transformasional dikembangkan sebagai  jawaban atas keterbatasan konsep-konsep kepemimpinan yang telah ada dalam lingkungan yang belakangan ini mengalami  perubahan-perubahan yang sangat cepat. Kepemimpinan transformasional merupakan salah satu konsep terobosan yang  berhasil menghidupkan kembali gairah studi, karena kepemimpinan ini berupa memotivasi bawahannya agar dapat  berprestasi melampaui harapannya dan perkiraan sebelumnya (Haryono, 2002). Kepemimpinan transformasional pada  umumnya mempunyai dampak positif terhadap kinerja karyawan. Pemimpin tersebut mentransformasi dan memoivasi para  pengikut dengan : (1) membuat mereka lebih sadar mengenai pentingnya hasil-hasil suatu pekerjaan; (2) mendorong  mereka untuk lebih mementingkan organisasi atau tim daripada kepentingan diri sendiri; dan (3) mengaktifkan kebutuhankebutuhan mereka pada yang lebih tinggi (Haryono, 2002).
Indrokirono, (2008) menyebutkan bahwa kepemimpinan yang bersifat transformasional adalah kepemimpinan yang  mempunyai dimensi kharismatik, stimulus intelektual, konsiderasi individual, sumber inspirasi serta idealisme.Perilaku  kharismatik atasan dalam arti memiliki visi dan misi yang jelas dan menarik, menunjukkan kepercayaan diri yang kuat,  mampu mengkomunikasikan ide-ide yang cerdas dan dapat dipercaya bawahan.
Secara logis kaitan ini menunjukkan bahwa praktek kepemimpinan transformasional terutama dari aspek kharismatik  dapat menumbuhkan identifikasi pegawai terhadap perusahaan yang antara lain tercermin dalam perasaan memiliki, bangga  sebagai bagian dari organisasi. Terbentuknya identifikasi tersebut berdampak positif terhadap internalisasi tujuan (goals  internalization) yaitu tujuan-tujuan yang ditetapkan perusahaan secara konkrit termanivestasi dalam bentuk  gairah/semangat dalam menjalankan tugasnya.


Skripsi Manajemen:Analisis Transformational Leadership Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT Sriwijaya Air
Download lengkap Versi PDF