Skripsi Akuntansi:PENGARUH PERPUTARAN MODAL KERJA DAN PERPUTARAN AKTIVA OPERASI TERHADAP TINGKAT RENTABILITAS PADA INDUSTRI OTOMOTIF DAN KOMPONENNYA YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTA


BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Era globalisasi yang melanda dunia saat ini, menuntut para pelaku ekonomi  untuk menyesuaikan diri dengan perubahan – perubahan yang terjadi, agar mampu  bersaing di pasar global. Sebuah perusahaan apabila ingin tetap hidup dan  tumbuh berkembang, harus menerapkan sistem manajemen yang efektif dalam  mengelola kegiatan operasionalnya. Pengelolaan ini berkaitan dengan efisiensi  dan efektivitas perusahaan dalam menggunakan sumber daya yang dimilikinya.
Sumber daya yang ada dalam perusahaan adalah berupa aktiva, utang dan modal.
Secara historis, kinerja perusahaan seringkali diukur dari besar kecilnya laba  yang dihasilkan. Laba juga menunjukkan efisiensi dan efektivitas penggunaan  sumber daya perusahaan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam  menghasilkan laba.
Sebagian besar sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan tertanam dalam  modal kerja. Modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki  perusahaan atau dapat pula dimaksudkan sebagai dana yang tersedia untuk  membiayai kegiatan operasi perusahaan sehari-hari ( Sawir, 2005:129). 
Modal  kerja perusahaan memegang peranan yang penting karena merupakan suatu jumlah yang dapat digunakan untuk membelanjai operasi perusahaan dari hari ke  hari seperti untuk uang muka pada pembelian bahan baku atau barang dagangan,  membayar upah buruh dan gaji karyawan, membayar hutang dan biaya-biaya  lainnya.
Universitas Sumatera Utara Pengelolaan modal kerja sangat menentukan posisi keuangan perusahaan  sehingga dalam setiap penggunaan modal kerja dapat mencapai tujuan yang  diharapkan perusahaan, apabila terdapat keseimbangan dalam hal penyediaan dan  penggunaan modal kerja tersebut. Modal kerja yang lebih kecil dari kebutuhan  akan menimbulkan kerugian atau hilangnya kesempatan untuk memperoleh laba  karena perusahaan kekurangan modal kerja untuk memperluas penjualan dan  meningkatkan produksinya. Sebaliknya modal kerja yang jumlahnya terlalu besar  dari yang dibutuhkan akan mengakibatkan terjadinya dana menganggur, sehingga  tidak efisien dalam penggunaan dana.
Modal kerja mengindentifikasikan besarnya aktiva lancar yang dimiliki  perusahaan setelah diperkirakan untuk memenuhi keseluruhan hutang lancarnya  selama satu periode operasi. Besarnya aktiva lancar yang mengindentifikasikan  bahwa perusahaan memiliki tingkat likuiditas yang baik atau sebaliknya. Modal  kerja juga menggambarkan kemampuan memperoleh laba melalui pendapatan  yang dihasilkan dari kegiatan operasi. Kemampuan menghasilkan laba akan dapat  ditingkatkan apabila perusahaan mampu mengelola modal kerja dengan tepat.
Perusahaan memerlukan sejumlah aktiva usaha untuk menghasilkan  penjualan yang telah ditargetkan. Pendayagunaan aktiva usaha dalam  menghasilkan penjualan dapat diukur dengan menggunakan rasio operating assets  turnover.  Rasio operating assets turnover diukur dengan membandingkan antara  penjualan dengan aktiva yang digunakan.  Ratio ini merupakan ukuran seberapa  jauh aktiva telah dipergunakan di dalam kegiatan perusahaan atau menunjukkan  berapa kali operating assets berputar dalam suatu periode tertentu, biasanya satu  Universitas Sumatera Utara kali.  Semakin cepat perputaran operating assets  perusahaan berarti semakin  efisien penggunaan operating assets perusahaan tersebut.
Rentabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba  melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas,  modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya. Rentabilitas suatu  perusahaan dapat diukur dengan rasio rentabilitas yaitu dengan membandingkan  antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba. Laba perusahaan  yang tinggi belum tentu menunjukkan rentabilitas yang tinggi, akan tetapi rentabilitas yang tinggi sudah dapat dipastikan bahwa laba yang dihasilkan tinggi.
Hantaman krisis ekonomi tahun 1998 membuat perusahaan harus  memangkas produksi besar-besaran. Data Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan  Motor (GIAMM) menyebutkan, pemanfaatan kapasitas produksi komponen tahun  1998 hanya 30% saja. Namun dari tahun ke tahun perkembangan industri  komponen di dalam negeri semakin marak, ditandai dengan tren pertumbuhan  otomotif roda dua maupun empat yang meningkat ditambah dengan strategi baru  pemain otomotif dunia untuk menjadikan Asia sebagai basis industri mereka. Hal  itu mendorong permintaan akan jenis komponen yang beragam juga semakin  tinggi sehingga membuka peluang yang tidak kecil, khususnya di sektor  kendaraan roda dua.
Menteri Perindustrian Fahmi Idris juga menegaskan bahwa perkembangan  pasar dalam negeri mengalami pertumbuhan yang positif dan kegiatan ekspor  produk otomotif termasuk komponennya mengalami pertumbuhan cukup  signifikan.  Ia mencatat tahun 2005 angka produksi mencapai 500.701 unit atau  Universitas Sumatera Utara meningkat 18,62 persen di banding tahun 2004 yang hanya mencapai 422.000  unit. Ekspor CBU (ekspor kendaraan utuh) tercatat meningkat dari 9.572 unit  tahun 2004, menjadi 17.805 unit pada tahun 2005. Demikian juga dengan CKD  (kendaraan rakitan) dari 65.845 di 2004, naik menjadi 103.370 pada tahun 2005.
Peluang bisnis pada sektor industri otomotif di pasar Asia Tenggara  dimanfaatkan sebaik mungkin oleh PT Astra Daihatsu. Hal ini terbukti pada  tanggal 5 Februari 2008, Menperin melepas ekspor perdana kendaraan niaga  Daihatsu “Grand Max” dalam keadaan utuh (CBU) ke Jepang. Ekspor kendaraan  jenis niaga itu akan dilakukan secara berkala setiap bulan untuk memenuhi  kebutuhan pabrik Toyota Motor Company. Keberhasilan PT Astra Daihatsu  Motor menembus pasar Jepang merupakan suatu prestasi luar biasa dan patut  diberikan apresiasi karena ekspor dalam keadaan utuh ke Jepang baru pertama kali  dilakukan sejak Indonesia mengembangkan industri otomotif. Jepang dikenal  sangat ketat dalam hal kualitas produk apapun yang akan dipasarkan ke Jepang,  apalagi kendaraan jenis niaga ini dibeli oleh Toyota yang merupakan salah satu  raksasa otomotif dunia, sehingga jika produk ini diterima oleh publik Jepang  maka peluang kendaraan niaga buatan Indonesia ini akan sangat besar untuk bisa  menembus pasar di berbagai negara.
Keberhasilan PT Astra Daihatsu ini, diharapkan diikuti oleh perusahaanperusahaan yang lain yang bergerak dalam industri otomotif dan komponennya  sehingga dapat meningkatkan volume penjualan baik untuk memenuhi kebutuhan  dalam negeri maupun untuk ekspor. Peningkatan volume penjualan ini maka akan  mempengaruhi perputaran modal kerja dan perputaran dari aktiva perusahaan.
Universitas Sumatera Utara Perputaran modal kerja dan perputaran aktiva perusahaan pada akhirnya akan  mempengaruhi kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
Penelitian ini merupakan penelitian replikasi dan penelitian lanjutan dari  penelitian sebelumnya. Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Yuliafitri,  Koesmawan dan Amilin (2005), meneliti analisis pengaruh efektivitas modal kerja  dan operating assets turnover terhadap tingkat rentabilitas pada sektor industri  dasar dan kimia yang tercatat di Bursa Efek Jakarta, menyatakan bahwa pengujian  secara parsial perputaran modal kerja dan  operating assets turnoner  tidak  berpengaruh signifikan terhadap rentabilitas. Namun perputaran modal kerja dan  operating assets turnover akan berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat  rentabilitas apabila keduanya berfungsi bersamaan.


Download lengkap Versi PDF