BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah Pembangunan merupakan suatu proses perubahan
yang berlangsung terencana dan
berkelanjutan dengan sasaran utama adalah untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat suatu bangsa.
Hal ini berarti bahwa pembangunan senatiasa
beranjak dari suatu keadaan atau kondisi kehidupan yang lebih baik dalam rangka mencapai tujuan nasional, dengan
demikian konekuensi dari pelaksanaan
pembangunan nasional adalah untuk membawa perubahan di sektor pembangunan ekonomi masyarakat. Selam ini
pembangunan selalu di prioritaskan pada
sektor ekonomi, sedang pada sektor lain hanya bersifat menunjang dan melengkapi sektor ekonomi adanya pembangunan
selain memberi dampak positif juga
memberi dampak negatif terutama ditunjukkan oleh berbagai masalah tenaga kerja dan kesempatan kerja. Pembangunan dapat
di konseptualisasi kedalam suatu proses
perbaikan yang berkesinambungan atas suatu masyarakat atau suatu sistem sosial secara kesinambungan menuju kehidupan
yang lebih baik atau manusiawi (Iryanti,
2003).
Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertumbuhan
pendapatan masyarakat yang terjadi di
wilayah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah (added value) yang terjadi. Namun agar dapat
melihat pertambahan dari satu kurun
waktu ke kurun waktu berikutnya, harus dinyatakan dalam nilai riil, artinya dalam nilai konstan. Pertumbuhan ekonomi
melalui pembangunan di sektor pertanian,
kehutanan, perikanan, industri, pariwisata, pertambangan, perdagangan Universitas Sumatera Utara dan jasa. Sektor pertanian merupakan sektor
yang dinadalkan dalam pemulihan perekonomian
nasional. Sektor ini menopang sebagian besar penduduk melalui penyediaan pangan dan juga memberi lapangan
pekerjaan. Hal ini disebabkan negara
kita merupakan negara agrari sehingga peran sektor pertanian masih merupakan sektor yang memberi kontribusi yang
besar bagi pembentuka n PDB tahun 2007,
yaitu sebesar Rp. 271,509,3 Milyar, di tahun 2008 mengalami peningkatan menjadi Rp. 284,620.7 Milyar dan
tahun 2009 juga mengalami peningkatan
hingga Rp. 296,369.3 Milyar (BPS). Selain dari sektor pertanian, sektor perdagangan juga dapat diandalkan dalam
pemulihan perekonomian nasional. Dari
data tahun 2007 hingga 2009 sektor perdagangan mengalami peningkatan. Tahun 2007 PDB sektor perdagangan
adalah Rp. 282,115.8 Milyar sedangkan
tahun 2008 mengalami peningkatan menjadi rp. 301.936.6 dan tahun 2009 mengalami peningkatan menjadi Rp.
301,983.5 Milyar (BPS).
Sumatera Utara juga menunjukkan kondisi yang
tidak jauh berbeda.
Sebagian besar wilayah Sumatera Utara juga
masih mengandalkan sektor pertanian yang
memberi kontribusi cukup besar bagi PDRB Sumut, yaitu pada tahun 2007 PDRB Sumatera Utara ialah Rp 41.010,15
Milyar mengalami kenaikan di tahun 2008
menjadi Rp. 48.871,77 Milyar pada tahun 2009 mengalami penurunan menjadi Rp. 14.217,21
Milyar (BPS). Selain sektor pertanian,
sektor perdagangan juga dapat diandalkan dalam pemulihan perekonomian Sumatera Utara. Tahun 2007 PDRB
Sumatera Utara adalah Rp.
34.846,21 Milyar, tahun 2008 mencapai Rp.
41.281,12 Milyar dan tahun 2009 mencapai
Rp. 12.043,33 Milyar (BPS).
Universitas Sumatera Utara Kota medan merupakan bagian dari Sumatera
Utara. Masyarakat Kota Medan merupakan
masyarakat yang heterogen. Masyarakat kota Medan mempunyai berbagi macam pekerjaan untuk
memenuhi kebutuhan hidup diantaranya
pegawai negeri, pegawai swasta, dan berdagang. Sektor yang dapat diandalkan untuk memulihkan perekonomian kota Medan
adalah sektor perdagangan. Kontribusi
sektor perdagangan terhadap PDRB masyarakat kota Medan mata pencaharian adalah berdagang,
diantarannya berdagang buah-buahan, berdagang
pakaian, berdagang obat-obatan dan masih
banyak kegiatan perdagangan yang
dilakukan masyarakat kota Medan. Masyarakat Kota Medan yang mata pencahariannya berdagang membuka
usahanya dengan cara membangun toko di
dekat rumah, menyewa atau membeli toko pasar, menyewa atau membeli lokasi
berjualan yang disediakan oleh perusahaan daerah.
Mengingat peran sektor informal yang cukup
positif daam proses pembangunan, sudah
sewajarnya nasib para pekerja dipikirkan. Beberapa kebijakan, baik langsung maupun tidak
langsung, untuk membantu pengembangan
masyarakat melalui pembinaan keigatan usaha pekerja di sektor informal memang sudah dilakukan. Namun ada
kecenderungan kegiatan ekonomi di sektor
informal dan nasib pekerja sektor informal belum banyak mengalami perubahan. Tanpa bermaksud mengurangi arti
pentingnya kebijakan yang telah ada,
kebijakan yang biasa diberikan kepada pengusaha besar mungkin dapat dikurangi, kemudian prioritas diberikan pada
kegiatan sektor informal dan memihak
pada kepentingan masyarakat.
Universitas Sumatera Utara Pada saat krisis dan samppai degan saat ini
salah satu sektor yang masih mampu
bertahan ialah sektor usaha kecil dan menengah atau sektor mikro yang sering kita kenal dengan nama sektor informa.
Kita tidak dapat meremehkan sektor
pengusaha ini karena sektor ini banyak menyerap tenaga kerja, walau tenaga kerja tersebut produktivitasnya rendah,
namun telah berperan positif dalam memberikan
kesempatan kerja. Oleh karena itu pengusaha informal tidak bisa diabaikan begitu saja.
Disatu sisi pengusaha informal masih memegang
peranan penting menampung angkatan
kerja, terutama angkatan kerja yang masih belum pengalaman atau angkatan kerja yang pertama
kali masuk kerja. Keadaan ini mempunyai
dampak positif karena mengurangi tingkat pengangguran terbuka.
Tetapi di segi lain menunjukkan gejala tingkat
produktivitas yang rendah, karena masih
menggunakan alat tradisional dengan tingkat pendidikan serta keterampilan yang relatif rendah. Mengingat peran pengusaha
informal yang cukup positif dalam proses
pembangunan, sudah sewajarnya nasib
pekerjaanya dipikirkan dengan
kebijakan secara langsung maupun tidak langsung. Untuk membantu pengembangan masyarakat melalui pembinaan
pengusaha informal yang telah ditentukan.
Sebagai contoh data pekerja Indonesia pada tahun 1998 yang berusaha di sektor informal sebesar 65,4 persen.
Menurut lapangan usaha atau pekerjaan utama,
peranan sektor informal lebih tinggi di banding dengan sektor formal.
Di Kota Medan banyak di jumpai pedagang
buah-buahan, diantarannya didaerah pasar
sambu, pasar sekambing, daerah pasar petisah, dan hampir setiap pasar ada pedagang buah, dan ada juga yang
menjual buah-buahan di pinggir contohnya didaerah sepanjang jalan letda sujono,
di daerah sepanjang jalan kapten muslim
dan didaerah jalan tanjung sari. Dari menjual buah-buahan pedagang buah dapat memenuhi kebutuhan keluarganya seperti
makan, dan menyekolahkan anakanaknya. Pedagang buah hidup dari hasil menjual
buah-buahan, karena semakin tinggi
penjualan pedagang buah maka tingkat kesejahteraan pedagang buah semakin tinggi dan semakin menurun penjualan
pedagang buah semakin rendah tingkat
kesejahtraan pedagang buah. Pedagang buah menjual berbagai macam buah-buahan kepada konsumen. Diantarannya :
jeruk, apel, mangga, papaya, anggur,
pisang. Bagi pedagang, modal merupakan hal yang penting untuk memulai suatu usaha. Modal awal untuk membuka
usaha buah-buahan adalah minimal Rp. 1.500.000.
Secara teori mengatakan semakin besar modal usaha pedagang buah maka semakin besar keuntungan,
semakin kecil tingkat risiko pedagang
buah tersebut. sebaliknya, semakin kecil modal usaha pedagang buah maka semakin kecil keuntungan dan semakin besar
tingkat risiko pedagang buah.
(Gregory Mankiw).
Selain faktor yang mempengaruhi suatu usaha
adalah modal, pelaku usaha harus
menentukan dimana lokasi yang tepat untuk menjalankan usaha yang akan didirikannya. Apakah lokasi usaha tersebut
strategis atau tidak untuk menjual suautu
produk, apakah lokasi usaha tersebut banyak atau tidak dilalui oleh manusia atau konsumen, apakah lokasi usaha
terletak di pinggir jalan atau terletak di
suatu pasar. Bahwa prioritas utama aspek teknis adalah menganalia masalah penentuan lokasi. Lokasi sangat penting
mengingat apabila salah dalam menganalisis
akan berakibat meningkatkan biaya yang akan dikeluarkan nantinya.
Universitas Sumatera Utara Faktor lain yang dapat mempengaruhi
pendapatan pedagang buah adalah lama
usaha. Karena semakin lama usaha di jalankan, semakin banyak manusia atau konsumen mengenal usaha yang di jalankan,
sehingga semakin mudah untuk memasarkan
produk yang dijual dan dapat meningkatkan pendapatan pengusaha.
Apabila usaha tersebut baru berdiri, semakin
sedikit manusia atau konsumen mengenal
usaha supaya manusia atau konsumen mau membeli produk yang dijual oleh para pedagang. Dalam menjalankan usaha
buah-buahan, lama usaha sangat mempengaruhi
volume penjualan dan pendapatan pedagang buah-buahan.
Semakin lama suatu usaha berjalan, semakin di
kenal oleh konsumen, sehingga dalam
menjual buah-buahan semakin mudah, maka
dapat meningkatkan pendapatan
pedagang buah-buahan. Apabila usaha buah-buahan baru dibuka atau baru berjalan, semakin sedikit manusia atau
konsumen mengenal pedagang buahbuahan tersebut sehingga dalam menjual
buah-buahan, pedagangg tersebut merasa kesulitan
untuk menjual buah-buahan. Sehingga dapat mengakibatkan penurunan pendapatan pedagang buah.
Download lengkap Versi PDF
