BAB PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Merokok adalah salah satu
kebiasaan atau pola hidup yang tidak sehat (Hardinge, 2001). Bahkan jumlah
perokok mengalami peningkatan dari tahun ketahunnya (Sari, 2006). Merokok memberikan
risiko tinggi terhadap timbulnya berbagai
jenis penyakit serta memberikan risiko kematian (Sitepoe, 2000).
Menurut Badan Kesehatan Dunia,
sejak 1986 tercatat tiga juta kematian per
tahun berkaitan dengan penyakit yang dipicu karena merokok. Selain itu, diperkirakan pada tahun 2025 kurang lebih
sepuluh juta kematian akan dipicu oleh
rokok. Di Indonesia pada tahun 1996 dikatakan 57.000 jiwa atau 157 jiwa meninggal setiap tahun akibat merokok. Bahkan
pada tahun 2030 diperkirakan jumlah
kematian mencapai angka 8.000.000 jiwa (Sitepoe, 2000) Badan Kesehatan Dunia menyebutkan Indonesia
menempati urutan ketiga terbanyak jumlah
perokok se-Asia, yaitu mencapai 146.860.000 jiwa. Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1986 yang
dilakukan oleh Departemen Kesehatan
Republik Indonesia pada kelompok usia 15-19 tahun (13,2%) dan 20-24 tahun
(46,0%) (Sitepoe, 2000).
Perilaku merokok dilihat dari
berbagai sudut pandang sangat merugikan, baik untuk diri sendiri maupun orang di
sekelilingnya. Beberapa bahan kimia yang
dikandung rokok seperti nikotin, karbon monoksida dan tar akan memacu kerja dari snan syaraf pusat dan syaraf
simpatis sehingga mengakibatkan tekanan
darah meningkat dan detak jantung bertambah cepat (Kendal dan Hammen, 1998), menstimulasi kanker dan
berbagai penyakit pada sistem pernafasan (Kaplan dkk, 1993).
Perilaku merokok inipun dapat
mempengaruhi kesanggupan berolahraga seseorang,
oleh karena kesanggupan berolahraga ditentukan oleh sistem kardiovaskular dan sistem pernafasan. Apabila,
salah satu sistem terganggu, maka dapat
mempengaruhi kesanggupan berolahraga. Saat berolahraga, harus dibedakan
antara perokok dengan bukan perokok yang tidak terlatih. Pada orang tidak terlatih frekuensi pernapasannya
semakin meningkat, dikarenakan banyaknya
udara yang tidak ikut menyegarkan alveoli. Jadi, semakin tinggi frekuensi pernapasan, semakin kurang efisien
seseorang saat melakukan olahraga (Octia,
1999). Sedangkan pada sistem kardiovaskular orang yang tidak terlatih, kerja jantung meningkat lebih tinggi, sehingga memperoleh efek terjadi peningkatan pasokan oksigen yang akan dipompakannya keseluruh tubuh. Dari
kedua sistem ini dapat digunakan untuk
mengukur kesanggupan berolahraga dan kebugaran
seseorang (Pearce, 1995).
Penelitian mengenai Perbedaan
Kesanggupan Berolahraga dan Masa Pemulihan
antara Mahasiswa Angkatan 2008-2010
Perokok dengan Bukan Perokok Saat
Latihan di Fakultas Kedokteran belum ada dilakukan penelitian. Dengan demikian,
peneliti tertarik melakukan penelitian tersebut.
1.2. Rumusan Masalah “Bagaimana perbedaan
kesanggupan berolahraga dan masa pemulihan antara mahasiswa FK perokok dengan bukan perokok saat latihan?” 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui perbedaan kesanggupan
berolahraga dan masa pemulihan antara mahasiswa FK perokok
dengan bukan perokok saat latihan.
1.3.2. Tujuan Khs : Yang menjadi
tujuan khs dari penelitian ini adalah: 1.
Untuk mengetahui perbedaan kesanggupan berolahraga antara mahasiswa FK perokok dengan bukan perokok saat latihan.
2. Untuk mengetahui lamanya masa pemulihan
setelah melakukan latihan antara
mahasiswa FK perokok dengan bukan
perokok.
1.4.
Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat untuk: 1. Bagi masyarakat dapat
dijadikan sebagai bahan penambah pengetahuan
efek merokok terhadap kesehatan, selain itu masyarakat dapat mengetahui perbedaan kesanggupan berolahraga
perokok dengan bukan perokok saat
latihan.
Contoh Skripsi Kedokteran:Perbedaan Kesanggupan Berolahraga dan Masa Pemulihan Antara Mahasiswa Perokok dengan Bukan Perokok Saat Latihan
Downloads Versi PDF >>>>>>>Klik Disini
Bab I
|
Downloads
| |
Bab II
|
Downloads
| |
Bab III - V
|
Downloads
| |
Daftar Pustaka
|
Downloads
| |
Lampiran
|
Downloads
|
