BAB PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG Menurut
National Heart Lung and Blood Instituteinsidensi penyakit gagal jantung semakin meningkat setiap tahun dan
rata-rata 5 juta penduduk United States menderita gagal jantung. Penyakit gagal
jantung adalah punca hospitalisasi yang utama
dikalangan pasien U.S yang berumur lebih daripada 65 tahun dan menyebabkan lebih kurang 300,000 kematian
dalam setahun (Goldberg, 2010).
Pembaruan 2010 dari American
Heart Association (AHA) memperkirakan bahwa terdapat 5,8 juta orang dengan gagal jantung
di Amerika Serikat pada tahun 2006 dan juga
terdapat 23 juta orang dengan gagal jantung di seluruh dunia (Ramachandran, 2010). Prognosis dari gagal jantung akan jelek
bila dasar atau penyebabnya tidak dapat
diperbaiki. Seperdua dari pasien gagal jantung akan meninggal dunia dalam 4 tahun sejak diagnosis ditegakkan dan pada
keadaan gagal jantung berat lebih dari 50 % akan meninggal pada tahun pertama(Maggioni,
2005). WHO memperkirakan 15 juta orang
di dunia meninggal akibat penyakit jantung setiap tahun, sama dengan 30 persen total kematian di dunia (National
Cardiovascular Centre, 2009).
Menurut Braunwald, gagal jantung
adalah suatu keadaan patofisiologis adanya kelainan fungsi jantung berakibat jantung
gagal memompakan darah untuk memenuhi kebutuhan
metabolisme jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian ventrikel kiri (Branch et al, 2000).
Anemia adalah salah satu
komplikasi yang umum pada pasien dengan gagal jantung kronis dengan kejadian berkisar antara
4% sampai 55% tergantung pada populasi.
Beberapa studi telah menyoroti bahwa prevalensi anemia meningkat dengan memburuknya gagal jantung seperti tercermin
dari klasifikasi New York Heart Association
(NYHA) (Sandhu et al,2010).
Donald, 2009 juga menemukan bahwa
anemia memang sangat umum pada gagal
jantung kongestif dan dikaitkan dengan keparahan, gagal jantung yang resisten terhadap pengobatan. Menurut Lindenfeld, 2004,
prevalensi anemia meningkat dengan
meningkatnya tingkat keparahan gagal jantung, penurunan fungsi ginjal dan bertambahnya usia. Dari hasil penelitian
Tanner H&dkk, 2002 dalam prevalensi anemia pada gagal jantung adalah 15% dan
berhubungan dengan NYHA kelas. Kadar Hemoglobin
(Hb) adalah serupa dalam semua empat kelas NYHA tetapi ada lebih pasien secara signifikan dengan anemia pada
NYHA kelas III dan IV (19%) dibandingkan
dengan kelas I dan II (8%, P<0,05). Anemia dapat menyebabkan atau memperburuk gagal jantung kronis dan penyakit
ginjal kronis, gagal jantung kronis dapat
menyebabkan atau memperburuk anemia dan penyakit ginjal kronis, dan penyakit ginjal kronis dapat menyebabkan atau
memperburuk baik anemia dan gagal jantung
kronis. Interaksi ini dipanggil antara tiga kondisi sindrom anemia kardiorenal.
Implikasi dari interaksi ini
adalah bahwa manajemen yang memadai dari gagal jantung kronis dan anemia akan mencegah
perkembangan dari kedua gagal jantung kronis
dan penyakit ginjal kronis (Donald, 2009). Frekuensi anemia pada gagal jantung kronis stabil diperlakukan baru-baru
ini menerima studi yang rinci.Sebuah laporan
dari Israel menglkan prevalensi anemia (didefinisikan sebagai konsentrasi hemoglobin <12.0 g/dl) bervariasi dari 9,1%
pasien di NYHA I hingga 79,1% dari pasien
dengan gejala kelas NYHA IV (Coats, 2004). Walaubagaimanapun variabilitas dalam hemoglobin(Hb) dari waktu
ke waktu pada pasien gagal jantung kronis
dan konsekuensi prognosis perubahan Hb belum dijelaskan (Anand et al, 2004).
Jadi berdasarkan paparan diatas,
dapat diketahui bahwa pasien gagal jantung kronis yang berpanjangan akan mengalami
anemia. Namun tidak pasti bahawa anemia akan
timbul pada derajat NYHA yang mana dalam gagal jantung kronis. Jadi hal ini dapat ditangani dengan pengobatan yang
sewajarnya dan mencegah anemia pada pasien
gagal jantung kronis.
1.2 RUMUSAN MASALAH Pada saat ini
jumlah morbiditas disebabkan gagal jantung kronis semakin meningkat dan anemia dapat menyebabkan
keparahan gagal jantung kronis.
Berdasarkan uraian latar belakang
diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Hubungan derajat gagal jantung kronis
dengan derajat anemia di RSUP Haji Adam
Malik .
”
1.3 TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 TUJUAN UMUM Mengetahui hubungan derajat
gagal jantung kronis dengan derajat anemia.
1.3.2 TUJUAN KHS Yang menjadi tujuan khs dari penelitian ini
adalah: 1. Untuk mengetahui jumlah
pasien gagal jantung kronis dengan golongan umur 18-65 tahun di Rumah Sakit Umum Pusat Haji
Adam Malik, .
.
2. Untuk mengetahui derajat
pasien gagal jantung kronis di RSUPH. Adam Malik, .
.
3. Untuk mengetahui derajat gagal jantung kronis
yang mempunyai prevalensi anemia
tertinggi dan derajat anemianya di RSUPH.Adam Malik, .
.
1.4 MANFAAT Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan manfaat untuk : 1. Bagi
masyarakat – Mengetahui hubungan anemia dengan derajat gagal jantung kronis supaya dapat mengambil tindakan
pencegahan sejak awal lagi.
2. Bagi institusi kesehatan / pendidikan -
Sebagai masukan kepada Rumah Sakit Umum
Pusat Haji Adam Malik, .
untuk mengurangkan anemia pada pasien gagal jantung kronis sehingga
dapat merencanakan suatu strategi pelayanan
kesehatan yang dapat mengobati serta mencegah terjadinya kasus ini.
3. Bagi peneliti – Dapat
mengembangkan kemampuan dalam bidang penelitian serta mengasah kemampuan analisis data
sekaligus menambah ilmu tentang topik
yang dipilih ini.
Contoh Skripsi Kedokteran:Hubungan derajat gagal jantung kronis dengan derajat anemia pada
Downloads Versi PDF >>>>>>>Klik Disini
Bab I
|
Downloads
| |
Bab II
|
Downloads
| |
Bab III - V
|
Downloads
| |
Daftar Pustaka
|
Downloads
| |
Lampiran
|
Downloads
|
