Contoh Skripsi Kedokteran:Hubungan Jumlah Jam Tidur dengan Indeks Massa Tubuh


BAB 1  PENDAHULUAN
 1.1. Latar Belakang   Dengan  mengukur  kadar  lemak  tubuh  maka  kita  dapat  menentukan  apakah  seseorang  itu  kurus  (underweight),  normal  (normoweight),  berat  badan  berlebih  (overweight) atau gemuk (obesity)  (Flier  et al, 2007). Ada banyak metode untuk  menentukan  kadar  lemak  tubuh,  baik  secara  langsung  maupun  tak  langsung,  antara  lain:  indeks  massa  tubuh  (IMT),  antropometri  (skin-fold  thickness),  densitometri  (underwater  weighing),  CT-scan,  MRI,  dan  electrical  impedance (Flier  et  al,  2007).  Namun  indikator  yang  paling  praktis  dan  paling  sering  digunakan pada orang dewasa adalah indeks massa tubuh (Sugondo, 2006).

 Indeks  massa  tubuh  adalah  berat  badan  dalam  kilogram  (kg)  dibagi  tinggi  badan  dalam  meter  kuadrat  (m  )  (Dorland,  2002).  Meta-analisis  beberapa  kelompok  etnik  yang  berbeda  menunjukkan  etnik  Amerika  berkulit  hitam  memiliki  IMT  lebih  tinggi  1.3  kg/m   dari  etnik  Polinesia  dan  etnik  Polinesia  memiliki  IMT  lebih  tinggi  4.5  kg/m   dibandingkan  etnik  Kaukasia  (Sugondo,  2006). Sebaliknya, nilai IMT pada bangsa Cina, Ethiopia, Indonesia dan Thailand  adalah  1.9,  4.6,  3.2,  dan  2.9  kg/m   lebih  rendah  dibandingkan  etnik  Kaukasia  (Sugondo,  2006).  Ini  memperlihatkan  adanya  nilai  cut  off IMT  yang  spesifik  untuk populasi tertentu (Sugondo, 2006).
 Wilayah Asia Pasifik pada saat ini telah menglkan kriteria dan klasifikasi  obesitas  sendiri  (WHO,  2000).  Untuk  kriteria  berat  badan  kurang,  nilai  IMT  =  <18.5, untuk kriteria berat badan normal, nilai IMT = 18.5  –22.9, untuk kriteria  overweight, nilai IMT = 23  –24.9, untuk kriteria obese I, nilai IMT = 25  –29.9  dan untuk kriteria obese II, nilai IMT sama atau lebih dari 30.
 Di antara klasifikasi indeks massa tubuh, yang dilihat sebagai masalah oleh  Badan  Kesehatan  Dunia  (WHO)  adalah  mengenai  berat  badan  berlebih  (overweight)  dan  obesitas.  Menurut  WHO  (2011),  overweight  dan  obesitas  merupakan  faktor  resiko  penyebab  kematian  nomor  lima.  Sedikitnya,  2.8  juta  penduduk meninggal per tahun akibat dari overweightdan obesitas (WHO, 2011).
 Overweight  dan obesitas ini lebih memiliki angka kematian yang tinggi di dunia  dibandingkan  dengan  underweight (WHO,  2011).  Sekitar  65%  penduduk  berdomisili di kota  yang memiliki berat badan berlebih dan obesitas membunuh  lebih banyak penduduk daripada  underweight(WHO, 2011). Menurut data WHO  tahun 2008, lebih dari sepersepuluh penduduk dewasa di dunia adalah obese dan  berdasarkan catatan WHO pada tahun 2010 ada sekitar 43 juta anak usia di bawah  5 tahun memiliki berat badan berlebih (WHO, 2011).
Perkiraan  terakhir  secara  global  pada  tahun  2008  terdapat  hampir  1,5  milyar orang dewasa (di atas 20 tahun) memiliki berat badan berlebih, dari data  tersebut  terdapat  lebih  dari  200  juta  pria  dan  hampir  300  juta  wanita  yang  mengalami obese (WHO, 2011).
 Diperkirakan  pada  tahun  2015  akan  terdapat  hampir  2,3  milyar  orang  dewasa  memiliki  berat  badan  berlebih,  dari  data  ini  diperkirakan  lebih  dari  700  orang dewasa yang obese (WHO, 2011).
 Di  Indonesia,  prevalensi  obesitas  secara  umum  adalah  19,1%,  dengan  8,8% di antaranya memiliki berat badan berlebih dan 10,3 % obese. Di provinsi  Sumatera  Utara,  dari  seluruh  penduduk  didapati  prevalensi  obesitas  dan  berat  badan berlebih, yakni 10,7% yang memiliki berat badan berlebih dan 10,2% obese  (Riskesdas, 2007).
 Mengingat  tingginya  angka  resiko  kematian  dan  jumlah  orang-orang  yang  memiliki  berat  badan  berlebih  dan  obesitas  maka  sangatlah  penting  untuk  mengetahui  hal-hal  penyebab  timbulnya  kejadian  berat  badan  berlebih  dan  obesitas  tersebut.  Menurut  WHO  (2011),  tingginya  angka  kejadian  ini  dikarenakan  perubahan  pola  hidup  yang  sebelumnya  bergaya  pedesaan  kini  menjadi  perkotaan.  Beberapa  faktor  lain  yang  meningkatkan  kejadian  obesitas:  gangguan  emosi  sehingga  makan  berlebihan  untuk  menggantikan  rasa  puas  lainnya,  pembentukan  sel  lemak  dalam  jumlah  berlebihan  akibat  pemberian  makanan  yang  berlebihan,  gangguan  endokrin  tertentu  seperti  hipotiroidisme,  gangguan pusat kenyang-selera makan di hipotalamus, kecenderungan herediter,  kelezatan makanan yang tersedia, dan kurang berolahraga (Sherwood, 2001).


Contoh Skripsi Kedokteran:Hubungan Jumlah Jam Tidur dengan Indeks Massa Tubuh
Downloads  Versi PDF >>>>>>>Klik Disini

Bab I
Downloads
Bab II
 Downloads 
 Bab  III - V
 Downloads 
Daftar Pustaka
 Downloads 
Lampiran
Downloads