Skripsi Manajemen: ANALISIS PENGARUH VARIABEL EARNINGPER SHARE (EPS), PRICE EARNING RATIO (PER), DAN RETURN ON ASSETS (ROA) TERHADAP HARGA SAHAM (STUDI PADA SAHAM PERUSAHAAN JASA TELEKOMUNIKASI PEMERINTAH YANG GO PUBLIC DI BEI TAHUN 2004-200


BAB I PENDAHULUAN
1.1.    Latar Belakang                                                                                                                            Menjaga  penampilan  bagi  seorang  wanita  sudah  menjadi  kewajiban.  Hal ini wajar dilakukan karena kaum hawa  ingin  selalu  tampil cantik di  mana pun dan kapan  pun  berada.  Kecantikan  merupakan  sesuatu  yang  sangat  berharga  dan mahal  bagi  seorang  wanita.  Salah  satu  dari  indikator  seorang  wanita  dikatakan cantik  yaitu  apabila  ia  memiliki  kulit  yang  halus    dan  putih.  Memiliki  kulit  halus dan  putih  adalah  impian  setiap  wanita,  tak  terkecuali  wanita  Indonesia.  Penelitian yang  dilakukan  kelompok  bisnis  kosmetik  asal  Prancis,  L’Oreal,  pada  19 menunjukkan:  85%  wanita  di  Jakarta,  Bandung,  Semarang,  Surabaya  dan  Medan cenderung  berkulit  gelap,  dan  55%  di  antara  mereka  ingin  memiliki  kulit  lebih putih.  Dalam  studi  yang  hampir  sama,  raksasa  produk  konsumen  asal  Amerika Serikat,  Procter  &  Gamble,  juga  menemukan  fakta  bahwa  70%-80%  wanita  di Asia  ingin  memiliki  kulit  lebih  putih  dan  bersih.  Meski  sudah  lampau,  hasil  riset di atas sampai sekarang masih relevan. (http://www.taufiek.wordpress.com)   Keinginan wanita untuk tampil cantik ini dimanfaatkan oleh para produsen  untuk  memproduksi  berbagai  macam  kosmetika.  Tak  heran  jika  dari  hari  ke  hari persaingan  yang  terjadi  dalam  industri  kosmetika  ini  semakin  ketat. 
Oleh  karena itulah  setiap  perusahaan  harus  menggunakan  strategi  pemasaran  yang  tepat  agar dapat  memenangkan  persaingan.  Salah  satu  strategi  pemasaran  yang  digunakan adalah  melalui  strategi  promosi.  Salah  satu  bentuk  promosi  yang  paling  banyak   digunakan beberapa perusahaan dalam mempromosikan produknya adalah melalui periklanan.  Paling  tidak  hal  tersebut  dapat  dilihat  dari  besarnya  anggaran  belanja iklan yang dikeluarkan setiap perusahaan untuk merek-merek yang dihasilkannya.
Menurut  Djakfar  (2007:  76)  iklan  dilukiskan  sebagai  komunikasi  antara produsen  dan  konsumen,  antara  penjual  dan  calon  pembeli.  Dalam  proses komunikasi  itu  iklan  menyampaikan  sebuah  pesan.  Dengan  demikian  iklan bermaksud  memberi  informasi  dengan  tujuan  yang  terpenting  adalah memperkenalkan produk atau jasa.
Agar  penyampaian pesan  iklan dapat diterima  oleh  konsumen dengan baik maka dibutuhkan media yang tepat. Berkembangnya media informasi di Indonesia menyebabkan  banyaknya  iklan  yang  membanjiri  media.  Media  yang  digunakan adalah televisi, radio, majalah atau surat kabar dan lain-lain. Pengiklanan di media televisi  hingga  kini  masih  dianggap  cara  paling  efektif  dalam  mempromosikan produk  terutama  di  Indonesia  yang  masyarakatnya  masih  brand  minded  dimana merek  yang  pernah  muncul  di  iklan  televisi  lebih  digemari  daripada  yang  tidak diiklankan  di  televisi.  Perusahaan  harus  memiliki cara  kreatif  dalam  beriklan  agar dapat  menarik  perhatian  konsumen  dan  menciptakan  preferensi  terhadap  merek.
Salah satu cara kreatif dalam beriklan adalah dengan menggunakan endorser.
Menurut  Suman  (2008)  endorser  sebagai  opinion  leader  yang menyampaikan  pesan  hingga  sampai  ke  konsumen  mengenai  merek  produk.
Opinion  Leader  berperan  dalam  memberikan  informasi  pada  orang  lain,  pelaku persuasi,  dan  pemberi  informasi.  Perusahaan  harus  memilih  endorser  yang  cocok dan  untuk  menyampaikan  pesan  iklan  yang  diinginkan  kepada  target  audience,   sehingga  pesan  tersebut  sampai  kepada  konsumen  yang  dapat  membentuk  opini, dan  mereka  akan  meneruskan  opini  tersebut  sesuai  persepsi  masing-masing, dengan  demikian  diharapkan  akan  bertambahnya  kesadaran  terhadap  produk.
Sosok endorser dapat berasal dari kalangan selebriti dan orang biasa/non-selebriti.
Daya  tarik  selebriti  digunakan  dengan  sangat  efektif  oleh  para  pemasang  iklan untuk  berkomunikasi  dengan  pasar-pasar  mereka.  Para  selebriti  dapat  menjadi kekuatan  yang  berpengaruh  dalam  menimbulkan  minat  dan  tindakan  yang berhubungan  dengan  pembelian  atau  penggunaan  barang-barang  dan  jasa-jasa yang dipilih (http://www.scribd.com/doc/) Menurut  Sumarwan  (2002:  258)  dalam  mempromosikan  suatu  produk, selebriti  bisa  berfungsi  untuk  memberikan  kesaksian  (a  testimonial),  memberikan dorongan  dan  penguatan  (endorsement),  bertindak  sebagai  aktor  dalam  iklan,  dan bertindak  sebagai  juru  bicara  perusahaan.  Selebriti  akan  memberikan  manfaat kepada  perusahaan  karena  selebriti  memiliki  popularitas,  bakat,  karisma,  dan kredibilitas.  Dari  keempat  unsur  tersebut,  maka  kredibilitas  adalah  yang  paling penting  bagi  konsumen.  Kredibilitas  selebriti  menggambarkan  persepsi  konsumen terhadap  keahlian  dan  pengetahuan  selebriti  mengenai  produk  yang  diiklankan dan  kepercayaan  selebriti  (kejujuran  mengenai  produk  yang  diiklankan).
Konsumen  adalah  orang  yang  cerdas,  mereka  memahami  bahwa  selebriti  hanya berfungsi  sebagai  aktor  iklan  yang  dibayar  mahal,  sehingga  kredibilitasnya diragukan.  Kredibilitas  selebriti  semakin  diragukan  ketika  seorang  selebriti beriklan untuk banyak merek produk.
 Penggunaan  selebriti  sebagai  endorser  diharapkan  dapat  memberikan asosiasi  positif  terhadap  kaitan  antara  selebriti  dan  produk  yang  ditawarkan.
Asosiasi  tersebut  secara  sederhana  dapat  muncul  dalam  bentuk  pemikiran  atau citra tertentu yang dikaitkan pada suatu merek. Keterkaitan pada suatu merek akan lebih  kuat  apabila  dilandasi  pada  banyak  pengalaman  untuk mengkomunikasikannya.  Berbagai  asosiasi  yang  diingat  konsumen  dapat dirangkai  sehingga  membentuk  citra  tentang  merek  di  dalam  benak  konsumen.
Citra  yang  baik  merupakan  salah  satu  cara  yang  efektif  di  dalam  menjaring konsumen,  karena  konsumen  dengan  sadar  atau  tidak  sadar  akan  memilih  suatu produk  yang  memiliki  brand  image  yang  positif,  sehingga  tercipta  persepsi  yang baik  di  mata  konsumen,  dan  akan  mempengaruhi  konsumen  dalam  proses keputusan  pembelian  yang  pada  akhirnya  dapat  menciptakan  loyalitas  terhadap suatu merek produk tertentu.
Menurut  Schiffman  (2008:  136)  individu  bertindak  dan  bereaksi berdasarkan  persepsi  mereka,  tidak  berdasarkan  realitas  yang  obyektif.  Jadi,  bagi pemasar,  persepsi  konsumen  jauh  lebih  penting  daripada  pengetahuan  mereka mengenai realitas yang obyektif. Karena jika seseorang berpikir mengenai realitas, itu  bukanlah  realitas  yang  sebenarnya.,  tetapi  apa  yang  dipikirkan  konsumen sebagai  realitas,  yang  akan  mempengaruhi  tindakan  mereka,  kebiasaan  membeli mereka,  kebiasaan  bersantai  mereka  dan  sebagainya.  Dan,  karena  individu membuat  keputusan  dan  mengambil  tindakan  berdasarkan  apa  yang  mereka rasakan  sebagai  realitas,  maka  para  pemasar  perlu  sekali  memahami  gagasan persepsi  secara  keseluruhan  dan  berbagai  konsep  yang  berhubungan  dengannya,   sehingga  mereka  dapat  lebih  mudah  menentukan  faktor-faktor  yang mempengaruhi pembelian konsumen.
Lux adalah salah satu brand perawatan tubuh dan kecantikan terkemuka di Indonesia.  Dengan  eksistensinya  sejak  tahun  1924,  brand  Lux  merupakan  market leader  di  beberapa  negara,  seperti  Thailand,  Jepang,  India,  Brazilia,  Afrika Selatan dan lain-lain. Beberapa jenis produk dalam lini brand Lux, seperti shampo dan  conditioner,  sabun  cair  dan  hair  spray  depasarkan  di  lebih  dari  100  negara  di beberapa  belahan  bumi.  Angka  penjualan  produk-produk  Lux  bahkan  mencapai satu  miliar  Euro  pada  tahun  2005.  Brand  Lux  mengklaim  bahwa  segalanya mengenai  Lux  dipersembahkan  bagi  feminitas,  mulai  dari  penampilan  sampai sensasi yang didapatkan dari produk Lux, baik kemasan maupun wewangian yang ditawarkan.  Pada  kenyataannya,  Lux  telah  menjadi  penentu  dalam  masyarakat dari masa ke masa. Memasuki abad ke-21, brand Lux berusaha merengkuh konsep kecantikan  dan  feminitas.  Lux  bertujuan  untuk  menjadi  paradigma  baru  tentang feminitas dan kecantikan. (http://digilibpetra.ac.id) Siregar mengemukan bahwa pada Selasa   23 Mei 2009  bintang  film cantik Luna Maya akhirnya  terpilih sebagai Bintang Lux yang baru. Pemilihan digelar di Ballroom,  Hotel  Four  Season,  Jakarta.  Luna    Maya  mengaku  senang  sekaligus bangga  menyandang  gelar  baru  tersebut.  Ia  akan  bergabung  bersama  Mariana Renata,  Dian  Sastrowardoyo,  dan  Tamara  Bleszynski,  sebagai  bintang-bintang Lux.  Alasan  mengapa  Luna  Maya  yang  dipilih  sebagai  Bintang  Lux,  sementara selama  ini  banyak  kabar  miring  seputar  sepak  terjang  Luna,  Marketing  Manager PT  Unilever  Regina  Affandi  mengatakan  bahwa  pihaknya  punya  pertimbangan   sendiri. "Kita selalu pilih bintang-bintang yang cerdas dan berkarakter. Kita  sudah lama  lihat  portofolio  Luna  Maya.  Dia  cerdas,  karakternya  kuat,  dan  dia  tahu  mau dibawa ke mana kariernya," katanya. Menurut Regina  (2009), kecantikan bisa jadi kekuatan  kalau  perempuan  tahu  bagaimana  memperlakukan  kecantikan  dengan bijaksana.  Dengan  kerlingan  mata  saja,  dunia  akan  tunduk  dan  terpesona.
(http://showbiz.liputan6.com) Menurut  Wijiseno  (2008)  Luna  Maya  juga  membintangi  beberapa  produk iklan  seperti  Zestea,  Sarimie,  Vitalong  C,  XL,  dan  Bu  Krim  Detergen.  Pada  saat Luna Maya membintangi  iklan XL,  iklan  tersebut dikecam oleh Gerakan Pembela Tanah  Air  (PETA).  Iklan  tersebut  dinilai  telah  melecehkan  kesakralan  dari  teks dan  makna  Proklamasi  17  Agustus  1945,  yang  diproklamirkan  Ir.  Soekarno  dan Mohammad  Hatta.  Iklan  tersebut  juga  sekaligus  mengabaikan perjuangan panjang bangsa  dengan  segala  darah,  airmata,  nyawa  dan  harta.  Dalam  tayangan  untuk kepetingan  komersil  itu,  artis  Luna  Maya  bergaya  seakan  membacakan  teks proklamasi  seperti  Bapak  Bangsa  Bung  Karno  dan  Bung  Hatta  saat  membacakan teks  Proklamasi  pada  17  Agustus  1945.  Iklan  XL  itu  dengan  sadar  dibuat  untuk kepentingan komersial. (http://www.detiknews.com) Isu-isu  yang  banyak  beredar  mengenai  Luna  Maya  sebagai  celebrity endorser  mampu  menyampaikan  daya  pikat  sabun  mandi  Lux  yang  identik dengan keindahan dan  kecantikan. Penelitian  ini  sangat  penting dilakukan  sebagai evaluasi  mengenai  Luna  Maya  sebagai  endorser  yang  mampu  memberikan dampak pada persepsi konsumen.
 Dengan  latar  belakang  di  atas  maka  peneliti  mengambil  judul  “Pengaruh Penggunaan  Celebrity  Endorser  Iklan  Sabun  Mandi  Lux  Terhadap  Persepsi Konsumen Pada Ratu Supermarket Malang”.
1.2  Rumusan Masalah  Berdasarkan latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut: 1.  Apakah  ada  pengaruh  antara  celebrity  endorser  pada  iklan  sabun  mandi Lux secara simultan terhadap persepsi konsumen? 2.  Apakah  ada  pengaruh  antara  celebrity  endorser  pada  iklan  sabun  mandi Lux  secara  parsial  terhadap  persepsi  konsumen  dan  variabel  manakah dalam celebrity  endorser  (kredibilitas,  kecocokan,  daya  tarik)  pada  iklan sabun  mandi  Lux  yang  dominan  pengaruhnya  terhadap  persepsi konsumen?
1.3  Tujuan  Penelitian dan Kegunaan Penelitian 1.3.1.  Tujuan Penelitian  Berdasarkan  rumusan  masalah  diatas  maka  tujuan  dari  penelitian  ini adalah sebagai berikut: 1.  Untuk  mengetahui  pengaruh  antara  celebrity  endorser  pada  iklan  sabun mandi Lux secara simultan terhadap persepsi konsumen.
2.  Untuk  mengetahui  pengaruh  antara  celebrity  endorser  pada  iklan  sabun mandi  Lux  secara  parsial  terhadap  persepsi  konsumen  dan  untuk   mengetahui  variabel  dalam  celebrity  endorser  (kredibilitas,  kecocokan, daya  tarik)  pada  iklan  sabun  mandi  Lux    yang  dominan  pengaruhnya terhadap persepsi konsumen 


Download lengkap Versi PDF