Skripsi Manajemen: EVALUASI PENGHIMPUNAN DAN PENYALURAN DANA ZAKAT


BAB I  PENDAHULUAN  
1.1. Latar Belakang  Melihat  ketidakstabilan  perekonomian  Indonesia  saat ini,  yang  menyebabkan  banyak  di  antara  masyarakat  Indonesia  hidup  di  bawah  garis  kemiskinan.  Kesejahteraan  dan  kemakmuran  masyarakat belum  tercapai  semaksimal  mungkin,  walaupun  jumlah  masyarakat  miskin  pernah  mengalami  penurunan.  Pada  masa  krisis  ekonomi  di  tahun  1998,  BPS  mencatat jumlah orang miskin mencapai 79,8 juta jiwa, secara bertahap pada  tahun 2003-2005 pernah mengalami penurunan. Malapetaka kenaikan harga  BBM  lebih  dari  100  %  pada  1  Oktober  2005  kembali  menaikkan  jumlah  orang  miskin  menjadi  39,30  juta  jiwa  atau  17,75  %  pada  Maret  2006.
 Kemudian pada tahun 2007 jumlah orang miskin kembali mulai menurun ke  angka 37,17 juta jiwa (http://www.beritaindonesia.co.id/cms/index.php).
 Pada  bulan  Maret  2008,  jumlah  penduduk  miskin  di  Indonesia  berdasarkan laporan dari pusat statistik sebesar 34,96 juta jiwa atau 15,42 %.

 Dibandingkan  dengan  penduduk  miskin  pada  bulan  Maret  2007  yang  berjumlah  37,17  juta  jiwa  atau  16,58  %,  berarti  tahun  2008  mengalami  penurunan sebesar 2,21 juta jiwa (Statistik, 2008).
 Sebagai warga negara, kita harus mencari solusi untuk menyelesaikan  permasalahan  tersebut.  Apabila  kita  melihat  dengan  sungguh-sungguh  beberapa  jalan  keluar  yang  dikemukakan  ajaran  Islam,  yang  kita  yakini  kebenarannya dan ketepatannya, salah satunya adalahpenataan zakat secara  2  benar  dan  bertanggung  jawab,  untuk  meringankan  penderitaan  masyarakat  yang  membutuhkan  pertolongan,  dimanapun  berada.  Islam  tumbuh  dengan  banyak  kepedulian  terhadap  realitas  suatu  permasalahan,  seperti  fenomena  perekonomian.  Zakat  merupakan  rukun  Islam  ketiga  yang  dianggap  mempunyai  peran  yang  signifikan  dalam  mengatasi  berbagai  permasalahan  ekonomi.
 Kesejahteraan masyarakat lebih diutamakan karena bagaimanapun juga  manusia adalah makhluk sosial yang harus saling membantu antara yang satu  dengan lainnya. Bantuan inilah yang lebih bisa diterima oleh jiwa dan juga  lebih  terhormat,  bahkan  penuh  dengan  kemuliaan.  Karena  mereka  mendapatkan  bagian  dari  haknya  yang  telah  terukur  dan  yang  telah  ditetapkan. Apabila kesejahteraan masyarakat tercapai dan masyarakat miskin  berkurang  maka  tujuan  Islam  akan  tercapai,  karena  akan  mampu  merubah  para mustahiq (penerima) zakat menjadi muzakki (pemberi) zakat.
 Jika  umat  Islam  tidak  memperhatikan  secara  sukarela kesejahteraan  kaum fakir mereka, maka seorang imam (kepala negara) berhak mewajibkan  atas  orang-orang  kaya  untuk  mencukupi  kebutuhan  hidup  kaum  fakir  (Qardawi, 2001:422).
 Berdasarkan  hitungan  Kompas,  potensi  minimal  zakat  di  Indonesia  sebesar Rp 4,8 triliun. Asumsinya, penduduk Muslim  88,2 persen dari total  penduduk  Indonesia.  Mengacu  pada  Survei  Sosial  Ekonomi  Nasional  2007,  dari 56,7 juta keluarga di seluruh Indonesia, 13 persen di antaranya memiliki  pengeluaran  lebih  dari  Rp  2  juta  per  bulan.  Dengan  asumsi  bahwa  3  penghasilan  setiap  keluarga  itu  lebih  besar  daripada  pengeluaran,  minimal  keluarga itu mampu membayar zakat 2,5 persen dari pengeluarannya. Dengan  demikian,  nilai  totalnya  menjadi  Rp  4,8  triliun.  Survei  Public  Interest  Research  and  Advocacy  Center  (PIRAC)  tahun  2007  menyebutkan,  potensi  zakat  di  Indonesia  lebih  besar  lagi,  yaitu  Rp  9,09  triliun.  Survei  ini  menggunakan  2.000  responden  di  11  kota  besar  (http://djunaedird.wordpress.com/).
 PIRAC  melakukan  survei  rutin  tiap  tiga  tahun  sejak  2001.  Survei  berbasis rumah tangga ini bertujuan mendeteksi perilaku dan pola perubahan  potensi ibadah  zakat  di Indonesia.  Responden  yang  disurvei adalah Muslim  perkotaan  yang  dianggap  memiliki  kapasitas  dalam  berzakat,  yang  punya  pekerjaan dan pendapatan tetap serta memiliki barang-barang mewah seperti  kulkas, TV, parabola, dan kendaraan bermotor (http://www.eramuslim.com/).
 Namun,  dalam  pembagian  zakat  perlu  adanya  pengelolaan  yang  baik  demi  terciptanya  ketertiban  dan  keadilan  bagi  para  mustahiq  zakat.  Hal  ini  dimaksudkan  agar  tragedi  pembagian  zakat  di  Pasuruan,  Jawa  Timur  yang  menelan  banyak  korban  meninggal  dunia  tidak  terulang  lagi.  Seperti  diberitakan di televisi swasta, bahwa seorang pengusaha kaya dan sukses dari  usaha  burung  waletnya,  membagikan  zakat  sejak  1975  sampai  sekarang.
 Biasanya tidak terjadi masalah meskipun berdesakan.Pembagian zakat secara  langsung  untuk  tidak  terlalu  banyak  orang  yang  masih  bisa  antri  dan  bisa  diatur  tidak  berbahaya.  Namun  bila  seperti  yang  terjadi  di  Pasuruan,  Jawa  Timur,  Senin  Pagi  15/09/2008.  Berjumlah  6000  orang, dimana  perorang  4  berhak Rp 30,000, dikalikan 6,000 orang = 180,000,000 adalah jumlah yang  cukup besar. Namun cara penyampaian yang kurang dikoordinir sebelumnya,  sehingga mengakibatkan berdesakan hebat, kehabisan  oksigen dan berujung  maut,  sekitar  21  orang  meninggal  dan  belasan  luka-luka  (http://goeswriting.wordpess.com/).
 Zakat berasal dari bahasa Arab berarti berkah  (al-barakah),  bersih  (althaharah),  berkembang  (al-namaa’)  dan  baik  (Munir  dan  Djalaluddin,  2006:151).
 Zakat merupakan ibadah  maaliyah ijtima’iyyah yang menduduki posisi  sangat  penting  dalam  kehidupan  bermasyarakat  baik  dari  sisi  ajaran  Islam  maupun  dari  sisi  pembangunan  umat,  dan  merupakan  salah  satu  instrumen  keuangan  Islam  yang  dapat  meringankan  beban  orang-orang  yang  membutuhkan.  Zakat  merupakan  bagian  dari  mekanisme  keagamaan  yang  berintikan  semangat  pemerataan  pendapatan.  Dana  zakat  diambil  dari  harta  orang  yang  berlebihan  dan  disalurkan  bagi  orang  yang  kekurangan,  namun  zakat  tidak  dimaksudkan  memiskinkan  orang  kaya.  Seperti  yang  dijelaskan  dalam  al-Qur’an  surat  at-Taubah  ayat  60,  bahwasanya terdapat  delapan  golongan (ashnaf) yang berhak menerima zakat yang berbunyi:  Sesungguhnya  zakat-zakat  itu,  hanyalah  untuk  orang-orang  fakir,  orang-orang  miskin,  pengurus-pengurus  zakat,  para  mu'allaf  yang  dibujuk  hatinya,  untuk  (memerdekakan)  budak,  orang-orang  yang  berhutang,  untuk  jalan  Allah  dan  untuk  mereka  yang  sedang  dalam  perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkanAllah, dan Allah  Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
 Hal  ini  disebabkan  karena  zakat  diambil  dari  sebagian  kecil  hartanya  dengan beberapa kriteria tertentu dari harta yang wajib dizakati. Oleh karena  itu,  alokasi  dana  zakat  tidak  bisa  diberikan  secara sembarangan  dan  hanya  dapat  disalurkan  kepada  kelompok  masyarakat  tertentu  dan  perlu  didirikan  sebuah lembaga yang mengelola zakat.
 Lembaga  zakat  mempunyai  peran  yang  sangat  penting  karena  untuk  melakukan sosialisasi tentang zakat kepada masyarakat secara terus-menerus  dan berkesinambungan. Dengan sosialisasi yang baik dan optimal, diharapkan  masyarakat akan semakin sadar membayar zakat melalui lembaga zakat yang  kuat,  amanah,  dan  terpercaya.  Dalam  hal  ini,  penulis  melakukan  penelitian  pada LAZIS Masjid Sabilillah Malang selama kurun waktu tiga tahun yaitu  tahun 2006-2008.
 LAZIS  Masjid  Sabilillah  Malang  merupakan  lembaga  zakat  yang  bersifat  independent,  artinya sebuah lembaga  yang  berdiri  sendiri  dan  tidak  terpusat. Semua kegiatan dan program-program yang dijalankan disusun dan  dilaksanakan sendiri. Dalam hal penghimpunan dan penyalurannya pun tidak  menunggu keputusan dari pusat, karena memang bersifat  independent,  maka  dalam  penghimpunan  dan  penyaluran  dana  zakat  LAZIS  Masjid  Sabilillah  akan mengetahui perkembangannya secara langsung.
 6  Berdasarkan  observasi  pendahuluan  yang  penulis  lakukan  di  LAZIS  Masjid Sabilillah Malang, bahwa pada tahun 2006 dana zakat yang terkumpul  sebesar  Rp.  34.932.276,-  sampai  tahun  2008  jumlah  total  dana  zakat  yang  berhasil dihimpun sebesar Rp. 200.215.350,- bisa dilihat pada tabel 4.1. Hal  ini  berarti  potensi  zakat sudah  berkembang  cukup  baik  dan  dapat  diketahui  bahwa  kepercayaan  muzakki  pada  LAZIS  Masjid  Sabilillah  Malang  cukup  besar dan meningkat tiap tahunnya.
 Alasan  penulis  melakukan  penelitian  pada  LAZIS  Masjid  Sabilillah  Malang, diantaranya LAZIS merupakan lembaga pengelola zakat yang layak  diteliti,  potensi  zakat  berkembang  cukup  baik,  kemudian  dalam  penyaluran  dana  zakat  tidak  hanya  bersifat  konsumtif  saja,  melainkan  juga  bersifat  produktif,  misalnya  pemberian  modal  secara  bergulir dan  juga  pemberian  bantuan  berupa  becak  kepada  tukang  becak.  Hal  ini  dimaksudkan  agar  mustahiq  mampu  mencukupi  kebutuhannya.  Akan  tetapi  dengan  bantuan  tersebut  tidak  menjadikan  mereka  malas  atau  menggantungkan  bantuan  LAZIS  selamanya.  Bantuan  tersebut  diharapkan  mampu  mengangkat  status  mustahiq menjadi muzakki.


Download lengkap Versi PDF