Skripsi Manajemen: PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN NASABAH PADA BANK SYARIAH MANDIRI CABANG MALANG


BAB I  PENDAHULUAN  
1.1  Latar Belakang Masalah  Perkembangan  bank  syariah  mulai  terasa  sejak  dilakukan  amandemen  terhadap  UU  No.  7/1992  menjadi  UU  No.  10/1998  yang  memberikan  landasan  operasi  yang  lebih  jelas  bagi  bank  syariah.  Sebagai tindak  lanjut  UU  tersebut,  Bank  Indonesia  (BI)  mulai  memberikan  perhatian  lebih  serius  terhadap  pengembangan  perbankan  syariah,  yaitu  membentuk  satuan  kerja  khusus  pada  April  1999.  Satuan  kerja  khusus  ini  menangani  penelitian  dan  pengembangan  bank  syariah  (Tim  Penelitian  dan  Pengembangan  Bank  Syariah  dibawah  Direktorat  Penelitian  dan  Pengaturan  Perbankan)  yang  menjadi  cikal  bakal  bagi  Biro  Perbankan  Syariah  yang  dibentuk  pada  31  Mei  2001,  dan   sejak  Agustus  2003 menjadi Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia (www.bni.com).

Dengan  semakin  banyakya  jumlah  bank  syariah,  struktur  pasar  syariah  pun  berubah dari monopoli menjadi  oligopoly, yang menyebabkan semakin tingginya  tingkat persaingan diantara bank syariah. Sampai dengan Desember 2007, pemain  dalam  industri  perbankan  syariah  terdiri  dari  3  bank  umum  syariah  dan  26  unit  usaha syariah dari bank umum konvensional  yang seluruhnya memiliki jaringan  kantor  berjumlah  597  Kantor.  Serta  114  Bank  Perkreditan  Rakyat  Syariah.
Peningkatan jumlah pemain dalam industri perbankan syariah terlihat cukup pesat  bila dibandingkan keadaan akhir tahun 1998 yang hanya berjumlah 1 bank umum    syari’ah  dengan  8  kantor  cabang  syari’ah  dan  78  Bank  Perkreditan  Rakyat  Syari’ah (Karim, 2008).
Meningkatnya  tingkat  persaingan  antar  lembaga  keuangan  syari’ah  telah  mengarahkan  bisnis  jasa  perbankan  syari’ah  mencari  cara  yang  menguntungkan  untuk mendiferensiasikan diri mereka terhadap pesaing. Salah satu strategi  yang  dapat  menunjang  keberhasilan  bisnis  dalam  sektor  perbankan  adalah  berusaha  menawarkan kualitas jasa dengan kualitas pelayanan  tinggi  yang nampak dalam  kinerja/performa  dari  layanan  yang  ada.  Sebagaimana di  kemukakan  oleh  Zeithaml  dan  Bitner  (1996)  dalam  Dwi  Suhartanto  mengemukakan  bahwa  perusahaan  yang  bergerak  di  bidang  jasa  sangat  tergantung  pada  kualitas  pelayanan yang diberikan (USAHAWAN, 2001).
Kualitas  pelayanan  dan  kepuasan  pelanggan  berkaitan erat.  Kualitas  memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk menjalin ikatan  yang kuat  dengan  perusahaan.  Ikatan  seperti  ini  dalam  jangka  panjang  memungkinkan  perusahaan untuk memahami dengan seksama harapan pelanggan serta kebutuhan  mereka,  dengan  demikian  perusahaan  tersebut  dapat  meningkatkan  kepuasan  pelanggan  dimana  perusahaan  memaksimumkan  pengalaman  pelanggan  yang  menyenangkan  dan  meminimumkan  atau  meniadakan  pengalaman  pelanggan  yang kurang menyenangkan.
Perusahaan  yang  gagal memuaskan pelayanannya akan menghadapi masalah  yang  kompleks.  Umumnya  pelanggan  yang  tidak  puas  akan  menyampaikan  pengalaman buruknya kepada orang lain dan bisa dibayangkan betapa besarnya  kerugian  dari  kegagalan  memuaskan  pelanggan.  Sebagaimana  yang  dikatakan    oleh  Sjafril  Effendi  yang  berposisi  sebagai  Direktur  METRODATA  yang  membawahi  Product  &  Marketing  Support,  Implementation,  Delivery  dan  Outsourcing  team mengatakan  bahwa  tantangan  yang  dihadapi  selain  meningkatkan  penjualan,  juga  mesti  diiringi  dengan  pelayanan  purna  jual  yang  baik juga. Bila pelanggan sudah terpuaskan, mereka akan kembali kepada kita dan  memberikan referensi kepada pihak lain agar membelidi METRODATA (Insite METRODATA, 9), Oleh karena itu, setiap perusahaan jasa wajib merencanakan,  mengorganisasikan,  mengimplementasikan,  dan  mengendalikan  sistem  kualitas  sedemikian  rupa,  sehingga  pelayanan  dapat   memuaskan  para  pelanggannya.
Penilaian  akan  kualitas  layanan  dikembangkan  oleh  Leonard  L.  Barry,  A.
Parasuraman  dan  Zeithaml  yang  dikenal  dengan  service  quality (SERVQUAL),  yang  berdasarkan  pada  lima  dimensi  kualitas  yaitu  tangibles (bukti  langsung),  reliability(kehandalan),  responsiveness(daya tanggap), assurance(jaminan) dan  empathy(empati) (Kotler, 1997:53).
Kualitas  pelayanan  merupakan  suatu  bentuk  penilaian Konsumen  terhadap  tingkat pelayanan yang diterima (perceived service) dengan tingkat layanan yang  diharapkan (expected service). Kepuasan pelanggan dalam bidang jasa merupakan  elemen penting dan menentukan dalam menumbuhkembangkan perusahaan agar  tetap  eksis  dalam  menghadapi  persaingan.  Demikian  pula  dengan  bisnis  perbankan, merupakan bisnis  yang berdasarkan pada azas kepercayaan,  masalah  kualitas  layanan  (service  quality)  menjadi  faktor  penting  dalam  menentukan  keberhasilan  bisnis  ini.  Seperti  ditemukan  dalam  penelitian  Bank  Indonesia  bekerjasama  dengan  tiga  universitas  di  Jawa,  faktor yang  lebih  dominan    memotivasi  masyarakat  Jawa  Barat  dan  Jawa  Timur   untuk  menggunakan  jasa  perbankan  syariah  adalah  faktor  kualitas  pelayanan  dan  kedekatan  lokasi  bank  dari pusat kegiatan.
Selain  itu,  menarik  juga  untuk  diperhatikan,  bahwa  nasabah  yang  telah  menggunakan jasa bank syariah, sebagian memiliki kecenderungan untuk berhenti  jadi  nasabah,  antara  lain  karena  kualitas  pelayanan yang  kurang  baik,  dan  atau  keraguan akan konsistensi penerapan prinsip syariah( Bappenas).
Peningkatan  kualitas  pelayanan  dan  pengembangan  ragam  produk  dan  jasa  yang  sesuai   dengan  kebutuhan  masyarakat,  serta  pemahaman  prinsip-prinsip  syariah dalam transaksi  perbankan, mutlak harus dilakukan. Sebagaimana  yang  dilakukan  oleh  PT  Artajasa  dalam  memberikan  layanan pembayaran  elektronisnya,  yang  bertujuan  untuk  memberikan  kemudahan  dan  kenyamanan  dalam bertransaksi, sehingga para nasabah pun akan  merasa puas dengan layanan  tersebut.  Bahkan  Mathias  Ananto  yang  juga  sebagai   Business  Representative  Group  Head  PT  Artajasa  Pembayaran  Elektronis,  mengakui  adanya  kepuasan  nasabah atas adanya layanan tersebut (CHANNEL, 2008).
Pentingnya  peningkatan  kualitas  pelayanan  merupakan salah  satu  tahapan  yang perlu di implementasikan oleh perbankan syari’ah sebagaimana berdasarkan  cetak biru pengembangan bank syariah  Indonesia  yangdicanangkan sejak tahun  2002,  diimplementasikan  dalam  tiga  tahapan  yaitu;  tahap  I  (2003-2004),  diarahkan untuk meletakkan landasan pengembangan yang kuat bagi pertumbuhan  perbankan syariah. Implementasi inisiatif strategi pada tahap ini difokuskan paada  pembentukan kerangka dasar system pengeturan yang sesuai yang sehat. Tahap II    (2004-2008),  diarahkan  untuk  memperkuat  struktur  industri  perbankan  syariah.
Implementasi inisiatif strategi pada tahap ll pada  dasarnya merupakan kelanjutan  dari program-program pengembangan yang dilakukan pada tahap l dengan fokus  pada  upaya  realisasi  kegiatan  yang  telah  direncanakan,  dan  tahap  III  (2008-2011),di  arahkan  untuk  memenuhi  standar  keuangan  dan  kualitas  pelayanan  internasional (Warsoko Pikir, 2008).


Download lengkap Versi PDF